Alexandria, Kisah Kudeta Raja Istana Montaza

Kemasyuran kota Alexandria yang menjadi kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo ini membuat langkah kaki menuju kota tersebut pada hari itu menjadi sangat ringan dan riang. Ditempuh dengan perjalanan sejauh kurang lebih 3 jam dari Kairo, berangkat setelah sarapan kami tiba di Alexandria pada pukul 10.30 pagi.

Kota ini merupakan kota pelabuhan terbesar di Mesir karena letaknya yang berada di pinggir laut Mediterania. Oleh karena pantai-pantainya yang indah itu pula, banyak wisatawan menghabiskan waktu musim panas untuk berlibur disana.

Sejak di awal masuk kota Alexandria, kota ini terlihat lebih rapi tertata dan bersih dibandingkan dengan Kairo. Nuansa bangunan khas Eropa yang berwarna putih gading dan kecoklatan juga banyak mendominasi  sepanjang perjalanan dalam kota. Usut-usut,  ternyata  nuansa  ini dibawa oleh bangsa Perancis pada saat Napoleon Bonaparte melakukan lawatan ke Mesir diakhir abad 17.

Di kunjungan ke Alexandria ini, kisah Raja Farouk yang digulingkan oleh kudeta dan istana Montaza yang tersohor menjadi antusiasme dominan bagi saya. Namun selain tempat tersebut ada beberapa tempat yang pastinya tidak akan kami lewatkan yaitu ke Pompeys Pillar dan Citadel Qaitbay Fort.

DSC02880

Itinerary pertama, kami berkunjung ke Pompeys pillar ( Amoud Al- Sawari), pilar raksasa peninggalan Romawi kuno yang dulunya dipakai sebagai tempat peribadatan bangsa Romawi.

Walaupun sebenarnya badan ini masih terasa lemah karena sisa kantuk dan jetlag perjalanan yang dilakukan sebelumnya menuju Mesir, tiket 15 pounds yang telah kami pegang sepertinya harus menyamangati langkah-langkah kami untuk menuju gerbang masuk area Pompeys pillar. Saya akhirnya cukup menyaksikan pillar tersebut dari kejauhan karena saat itu debu berterbangan ditiup angin yang berhembus kencang.

DSC02862

Pompeys Pillar

Sayup-sayup Ahmed, TL kami menjelaskan Pompeys dengan detail. Dasar otak saya lagi blank dan ngantuk, yang terdengar seperti nyanyian dosen pada saat kuliah. Membuat saya  yang sudah terduduk bersandar di tembok beralas marmer yang dingin menjadi terlena, setengah hilang sadar alias ‘fly away’. Maaf ya Ahmed … 😛

pompeys

Pompeys Pillar dari kejauhan

Sesaat sebelum kunjungan di pompeys tersebut berakhir, saya menyempatkan membeli beberapa pernik oleh-oleh di beberapa toko di area Pompeys. Aneka magnet kulkas, gantungan kunci dan pernik-pernik mungil lain khas Pompeys dijual dengan kisaran harga 20 – 30 EGP (Eqyptian Pounds).

Sempat bertemu pula di area pintu keluar dengan grup yang berasal dari China. Mereka mengucapkan salam kepada saya yang kedapatan sedang memperhatikan mereka sejak dari pintu masuk. Subhanallah, mereka yang terlihat begitu santun dengan baju muslim yang mereka kenakan itu juga menyapa saya dengan anggukan dan senyum ramah. Ketika saya mengajak mereka berbicara, mereka membalas dalam bahasa China dan gerakan isyarat yang menyatakan bahwa mereka tidak berbahasa Inggris.  Ya mungkin juga mereka sebagaimana anggota grup saya juga diajarkan untuk tidak sembarangan berbicara dengan orang asing untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. It’s okey, keramahan kalian sudah cukup membuat kesan mendalam 🙂

Berikutnya, kami meluncur ke satu situs lain bernama Citadel Qait Bay. Bangunan  pertahanan yang didirikan Sultan Qaitbay Al Zahiry pada tahun 1468 – 1496 M ini dimaksudkan sebagai benteng untuk menghadang gempuran pasukan Turki, Dinasti Usmani. Bangunan ini terletak di pinggir laut, kokoh berdiri menantang ombak.

Bau amis laut tercium sayup-sayup ketika kami menyempatkan untuk photo stop di tempat ini. Pengunjung yang terlihat seperti penduduk asli terlihat ramai bercengkrama di pinggiran tembok sepanjang pantai sekitar benteng.

qaitbay

Benteng Qaitbay Fort

DSC02873

Kereta kuda depan Qaitbay Fort

Hari  semakin siang dan menjadi terik. Perut sudah terasa lapar ketika saat yang bersamaan, Ahmed mengajak kami untuk makan siang di sebuah resto dengan hidangan khas Mesir. Katanya, kali ini kita akan makan siang dengan  ikan segar ! Hmmm, jadi teringat pengalaman makan ikan di resto di pinggir teluk menuju Canakalle, Turki. Bau ikan yang khas masih benar-benar terasa,  baca : masih amis. :P. Berakhir dengan jackpot setiba di Canakalle dikarenakan saya tidak makan ikan dan santapan. Untuk itu, sebelum masuk resto di pinggir laut mediterania itu saya berdoa sungguh sungguh dalam hati, semoga ikan yang saya makan tidak amis dan menguras isi perutku lagi.

Syukurlah, ternyata hidangan ikan yang disajikan lumayan enak. Ada asinan yang super asin sebagai makanan pembuka, roti arab, lalu ikan sejenis Sarden segar yang di goreng dan disajikan bersamaan dengan nasi merah sebagai makanan utama. Saya habiskan seluruh makanan saya. Disamping lapar, saya juga tidak mau pengalaman jackpot dan masuk angin terulang kembali di perjalanan kali ini. Terimakasih untuk mbak Ratna yang memberi saya dan Aurel saos sambal asli  botol yang dibawanya dari Indonesia. Makannya jadi tambah semangat 🙂

DSC02879

Kelar makan siang yang lumayan tadi, perjalanan kami lanjutkan ke istana Raja Farouk dan Taman Montaza. Wilayah  seluas sekitar 155 hektare ini pernah ditinggali sebagai kediaman Raja Farouk yang merupakan keturunan terakhir dari Dinasti Muhammad Ali yang menjadi penguasa Mesir sejak abad ke-19. Raja ini ternyata dalam sejarahnya adalah raja yang suka berfoya-foya dan menjadi tidak disukai rakyatnya sehingga digulingkan lewat kudeta militer. Konon, dimasa sulit perang dunia II dimana sebagian rakyatnya hidup dengan keprihatinan, raja Farouk tetap gemar hidup dalam kemewahan. Dia bahkan meminta agar seluruh lampu istananya dinyalakan terang menderang ketika seluruh rakyatnya diminta untuk memadamkan lampu dengan alasan efisiensi.

Kudeta yang dilakukan oleh Gamal Abdul Nasser ini  merubah sejarah kepemimpinan sistem kerajaan Mesir menjadi sistem republik dimana Gamal Abdul Nasser lalu menjadi pemimpin selanjutnya di Mesir. Raja Farouk  lalu hidup dalam pengasingan di Monaco dan kabarnya meninggal ketika berada di jamuan makan di Italia.

486759_4839602788197_1436548635_n

Sejak saat itu, istana ini dipergunakan sebagai tempat menjamu tamu-tamu kenegaraan dikarenakan letaknya yang strategis di tepi pantai Mediterania. Taman Montaza yang ditanami berbagai bunga dan tumbuhan cantik nampak indah terhampar di depan istana.

DSC02890

DSC02893

Fose berlatar belakang laut Mediterania

Advertisements
Categories: Updates | Leave a comment

Jelajah Masjid Masa Lampau Kairo

DSC02747

 Citadel Saladin

Mengunjungi negara Mesir di akhir bulan April yang merupakan musim panas, sungguh menjadi momen yang pas jika ingin suasana eksotik dengan background padang pasir yang khas.

Mesir seperti umum diketahui, sebuah negara yang sangat kaya budaya dengan peninggalan bangunan-bangunan masa lampau yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Bangunan yang paling terkenal yang berasal dari negara ini yaitu Piramida Giza yang dibangun di abad 26 SM, tempat para Firaun atau raja Mesir dimakamkan, menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia.

Namun, di kunjungan hari pertama hari itu di kota Kairo, tempat pertama yang kami pijak adalah Citadel atau Benteng Saladin yang merupakan landmark kota Kairo. Berada di puncak bukit bernama bukit Mokattam yang terletak tak jauh dari pusat kota Kairo dimana kita bisa memandang keseluruhan kota Kairo yang  terlihat sangat indah dari atas Citadel.

Konon, Benteng ini dibangun oleh Sultan Saladin atau lebih dikenal dalam sejarah kita bernama Sultan Salahuddin Ayyubi yang pada masa itu dibangun sebagai benteng pertahanan dari para musuh Mesir, dengan bebatuan yang diambil dari bukit Mokattam dan bukit sekitar.

DSC02752

Gaya TL kami, Ahmed Saber yang bersemangat menjelaskan detail sejarah Benteng Saladdin

Terdapat dua mesjid kuno dalam kompleks Citadel ini yaitu Masjid Muhammad Ali Pasha dan Masjid Al Nasir Muhammad Ibn Qalaun. Keduanya sama indah dengan ciri khas yang unik.

Masjid Muhammad Ali  yang bergaya Ottoman atau Turki dibangun oleh Sultan Muhammad Ali Pasha untuk mengenang anaknya yang meninggal bernama Tusun Pasha. Diperhatikan secara seksama ternyata Masjid ini memiliki kemiripan dengan Masjid Blue Mosque atau masjid Sultanahmed Turki pada bagian interior dan hiasan-hiasan lampu yang terdapat dalam masjid.

DSC02764

Bagian tengah Masjid Muhammad Ali

DSC02786

Detail bola lampu yang mirip dengan Masjid Blue Mosque, Istanbul

DSC02794

Diantara mimbar / tempat penceramah berkutbah pada jaman dulu

DSC02796

Dikompleks yang berdekatan, Masjid Al-Nasir Mohammad Ibn Qalaun dibangun sebelum Masjid Muhmmad Ali Pasha oleh Al-Nasir Mohammad Ibn Qalaun. Lebih dikenal sebagai masjid Benteng karena bangunan ini berbentuk khas benteng, persegi dan dikelilingi tembok batu yang kokoh. Dibangun pada periode dinasti Bahri Mamluk.

DSC02808

DSC02758

Walau tak banyak, jika ingin membeli souvenir khas Cidatel atau khas Kairo, di depan masjid Muhammad Ali terdapat beberapa toko yang menjual aneka buah tangan atau  oleh-oleh untuk kerabat. Rata-rata souvenir dijual dari harga 5-10 pound ( 1 pound = Rp. 1,500)

DSC02797

Selain itu, terdapat pula dalam kompleks ini beberapa museum yaitu, Al Gawhara Palace Museum, Carriage Museum, Egyptian Military Museum dan Egyptian Police Museum.  Silahkan menjelajahnya suatu saat nanti karena saat itu museum dalam kondisi tutup dan kami belum berkesempatan mengunjunginya.

Sebenarnya, waktu yang ada agak terbuang percuma karena kami tergoda untuk berfoto baju khas Mesir. Diantara kami antri untuk berganti kostum Cleopatra dan baju-baju khas Mesir lalu ambil pose foto di area Cidatel dengan bermodal 20 Pounds per pose . Sebagai catatan, hasil foto  pada saat grup kami tidak recommended ! Tidak bagus dan nampak seperti pemeran Nenek Lampir di film Brama Kumbara dengan rambut palsu Cleopatra yang lebih mirip rambut penyanyi Reggae. 😀

Tidak heran, foto juga diambil tergesa-gesa dan asal jepret. Lalu kita menunggu cukup lama untuk hasil foto yang dicetak satu persatu dengan cara manual. Hehehe… yah jadi pelajaran berharga.  Next, lebih berhati-hati dan lihatlah hasil foto terlebih dahulu untuk memastikan bahwa foto kita cukup layak untuk cetak.

Dan di panas matahari yang kian menyengat di suhu yang sejuk itu tak mematahkan semangat untuk memuaskan pandangan mata di atas puncak Citadel di depan Masjid Muhammad Ali. Sungguh mempesona keadaan seluruh kota Kairo dipandang dari  atas  sana. Terlihat pula masjid Madrasah Al Hasan yang terlihat agung dan antik. Jangan takut jatuh tertiup angin kencang yang berhembus, tembok batu yang kokoh sebagai pemisah ternyata cukup aman untuk dipijak dan diduduki.

DSC02799

Categories: Updates | 1 Comment

Jelajah Kepulauan Derawan – Ubur-ubur Purba di Danau Kakaban

Mengunjungi Kepulauan Derawan sungguh kesempatan yang luar biasa dan dinantikan. Kepulauan  yang terletak di Propinsi Kalimantan Timur ini menjadi salah satu objek wisata bahari utama yang menjadi pilihan favorit turis asing setelah Raja Ampat.  Berada di sebelah timur Tanjung Redeb, atau sisi barat laut Sulawesi dan terdiri dari banyak pulau indah.

Diantara pulau-pulau indah itu ada beberapa yang paling terkenal dan banyak di kunjungi diantaranya adalah pulau Derawan, pulau Sangalaki, pulau Kakaban dan pulau Maratua.

IMG_0729

Pilihan Favorit Wisata bahari setelah Raja Ampat

IMG_1353

DSC02602

Keindahan kepulauan ini konon pamornya sudah ke manca negara. Tidak heran, ketika kita tiba di Bandara Kalimarau, bandara ini terlihat sibuk dan padat oleh arus wisatawan.

IMG_0496

Bandara Kalimarau di Berau

IMG_0493

Untuk rute perjalanan menuju ke kepulauan ini bisa di tempuh dengan dua rute utama yang lazim dipergunakan. Dari Balikpapan, Kalimantan Timur, perjalanan bisa dilanjutkan via pesawat menuju Tarakan atau Berau. Jika anda memilih via Balikpapan-Tarakan, maka setiba di kota Tarakan, perjalanan akan dilanjutkan melalui laut dengan menggunakan seatruck/ boat perahu mesin selama kurang lebih 3 jam. Namun, jika anda merasa lebih nyaman dengan perjalanan darat, jalur Balikpapan – Berau adalah opsi yang sebaiknya dipilih. Dari Berau,  perjalanan darat selama 2,5 jam akan ditempuh untuk kemudian menyeberang ke kepulauan Derawan di dermaga  Tanjung Batu selama hanya kurang lebih 20 menit saja.

IMG_0527

Pelabuhan Tanjung Batu

Di kesempatan mengunjungi kepulauan ini, saya melakukannya bersama rombongan kantor saya di PT. Elnusa, Tbk dalam kegiatan Team Building for operation dengan total peserta  yang berjumlah sebanyak 34 orang.

Keberadaan kami yang hiruk pikuk dengan keramaian anggota rombongan yang beragam polah, cukup menambah kepulauan yang bersuasana syahdu dan tenang menjadi sedikit semarak.

NOKIA Lumia 800_000086

Rombongan Team Building Elnusa

DSC02431

Perjalanan dimulai di pukul 14.25 di Balikpapan – Berau, tiba pada pukul 15.30 sore di bandara Kalimarau, Berau. Dilanjutkan perjalanan darat  lalu menyeberang dengan dua buah seatruck charteran. Konvoi mobil selama kurang lebih 2,5 jam berlalu tak terasa karena dipenuhi gurauan-gurauan riang para anggota rombongan yang berjalan beriringan dengan menggunakan 9 unit mobil. Tidak adanya armada bus sebagai penunjang transportasi darat mungkin bisa dipertimbangkan bagi pemerintah Berau jika ingin lebih menggeliatkan pariwisata yang menjanjikan ini di daerah mereka.

IMG_1440

Tiba di pulau Derawan, boat  langsung menambatkan tali pengait di dermaga resort terbaik di pulau Derawan. Hari telah menjelang malam namun setelah menata diri dengan bebersih dan meletakkan tas ransel, kami masih menyempatkan menghibur diri di waktu malam dengan acara malam kekerabatan yang dilakukan didalam resto Delawan yang terletak dalam wilayah resort.

Tak henti masing-masing peserta mengucapkan puji syukur karena telah diberikan kesempatan untuk melakukan perjalanan yang menjadi impian kebanyakan dari mereka. Gelisah menanti malam berganti pagi agar esok hari kami semua bisa segera menyusuri seluruh pulau-pulau yang telah hadir tepat di depan mata.

DSC02448

Menanti pagi segera terbit

DSC02438

Mengisi waktu sebelum pagi menjelang

DSC02454

Mengisi Waktu sebelum pagi menjelang (2)
Photo taken by : Toni BSA

Di pagi buta di hari kedua,  hampir semua anggota rombongan bangun pagi karena tak ingin kehilangan kesempatan berburu matahari terbit di ujung dermaga resort. Semburat matahari yang tersembul malu-malu diantara awan abu-abu kegelapan di pagi itu tidak mengurangi keindahannya diantara panorama laut yang sangat indah. Sesekali, terlihat beberapa ikan-ikan kecil berlompatan dan bayangannya nyata di beningnya air laut.

IMG_0642

Matahari yang pemalu
Photo koleksi pribadi

DSC02482

Pagi yang indah…seindah awan bermandikan cahaya matahari
Photo koleksi pribadi

IMG_1353

Pasir putih di sepanjang pantai
Photo taken by : Toni BSA

Pulau Sangalaki

Perjalanan di pagi itu ternyata dimulai di jam delapan pagi setelah sarapan yang lezat di resto resort. Menggunakan boat charteran yang sebelumnya digunakan mengantar  rombongan ke pulau derawan. Tujuan pertama adalah pulau Sangalaki dimana banyak terdapat penyu / kura-kura untuk menyaksikan tukik atau anak penyu yang akan menuju pantai setelah menetas.

DSC02436

Ramai canda tawa di dalam boat
Photo koleksi pribadi

Sayang sekali, timing kami kurang tepat ternyata. Sepertinya tur guide lokal miskoordinasi dengan koordinator resort di pulau Sangalaki.  Penyu (kura-kura) akan naik ke darat untuk bertelur di malam hari sampai dengan waktu subuh.  Jadi jika ingin melihat langsung proses penyu bertelur tersebut, ada baiknya menginap satu malam di resort kecil yang berada di pulau Sangalaki.

Para Tukik atau anak-anak Penyu yang baru menetas akan berjalan perlahan ke laut lepas pada sekitar sore hari. Kaki-kaki kecil mereka akan berjalan menuju laut untuk perlahan hilang dalam gulungan ombak.

DSC02545

Resort di Sangalaki
Photo koleksi pribadi

Untuk meredakan kekecewaan karena tidak dapat menyaksikan Tukik, akhirnya kami bermain-main di pantai Sangalaki yang berair bening dan hangat. Indah sekali. Terdapat pula dermaga yang menjadi objek foto yang sangat cantik dengan background laut yang maha luas. Berwarna biru  kehijauan yang sejuk, luar biasa indah dipandang mata. Sayupnya angin yang berhembus, matahari yang bersinar ramah dan tidak terlalu terik  akhirnya mendamaikan hati yang sedikit kecewa.

100_3490

Photo taken by : Aldo Mumek

IMG_0816

Indahnya kebersamaan
Photo taken by : Toni BSA

IMG_0825

DSC02569

Photo taken by : Toni BSA

Pulau Kakaban

Dari Sangalaki, boat meluncur  menuju sebuah pulau yang kesohorannya sudah mendunia. Pulau ini menjadi  tempat yang diburu para snorker dan diver manca Negara karena keindahan alam bawah laut yang dimilikinya. Selain itu, terdapat Ubur-ubur purba yang tidak beracun atau slingless Jellyfish yang banyak terdapat di dalam danau yang terletak di tengah pulau yang banyak dipenuhi oleh pohon mangrove. Konon, di dunia hanya ada 2 tempat dimana ubur-ubur jenis ini bisa ditemukan, yaitu di Palau – Filiphina dan di pulau Kakaban – Indonesia.

kakaban-island-map

DSC02576

IMG_0944

Letak danau yang berada di tengah-tengah pulau ini berada sedikit diatas permukaan laut dengan kedalaman danau sekitar 17 meter yang terdalam. Memerlukan perjalanan mendaki lalu menuruni tebing bertangga sekitar 10 menit dari pantai untuk mencapai danau ini. Cukup melelahkan namun setelah tiba di tujuan, rasanya terbayar sudah rasa lelah karena takjub dengan keindahan danau yang menyejukkan mata.

DSC02579

Menuju Danau Kakaban
Photo : Koleksi Pribadi

Danau Kakaban

Danau Kakaban
Photo taken by : Lia Purwanti

IMG_0867

Photo taken by : Toni BSA

Pulau  ini menjadi daya tarik luar biasa bagi para pencinta kelautan karena keindahan alam dan keanekaragamanan biota laut yang dimilikinya.  Untuk yang tidak mahir berenang, tidak usah khawatir karena biasanya tur agen sudah mengatur disediakanya pelampung yang akan membuat kita lebih aman dalam menikmati indahnya taman laut yang banyak tersebar di kepulauan sehingga menjadi pengalaman yang sangat sulit untuk dilupakan.

IMG_0935

IMG_0877

IMG_0903

IMG_0919

Snorking diantara Jellyfish
Photos taken by : Toni BSA

Adapun spesies Ubur-ubur yang hidup di danau ini adalah species yang berbeda dimana mereka telah kehilangan system pertahanan alamiah mereka dikarenakan kurangnya predator utama yang bertubuh besar di danau berair payau hangat ini.  Sangat aman berenang  diantara mereka karena jenis ini tidak menyengat sebagimana Ubur-ubur biasa. Yang menakjubkan, kita bisa bebas menyentuh dan memegangnya perlahan agar tak merusak tubuh Ubur-ubur purba ini yang lembut seperti jelly.

Photo0025 (2)

Underwater : Photo taken by : Benny Setiawan

IMG_0883

jellyfish

IMG_0886

IMG_0951

Maratua

Pulau Maratua menjadi  pulau terakhir di perjalanan di hari itu. Nama Maratua menurut beberapa penduduk setempat berasal dari kata “mertua”.  Entahlah.  Yang pasti, salah satu keunikan Maratua adalah reef garden  yang tidak jauh dari pesisir, dimana terlihat terumbu karangnya  bertebaran di sekitar pantai. Cukup berjalan saja, kita bisa menyaksikan terumbu karang itu dengan mata telanjang. Dengan menggunakan alat snorkling, kita bisa menjumpai Mollusca – hewan lunak dengan maupun tanpa cangkang seperti kerang-kerangan, Crustacea – hewan laut berbuku-buku seperti Udang, Kepiting dan lainnya serta mahluk laut lain yang membuat kita berdecak kagum.

Nampak pohon kelapa tumbuh tinggi menjulang yang berderet rapi di sepanjang pantainya yang berpasir putih. Pantai yang sedang surut saat itu menampakkan pasir dengan pola gelompang yang rapi dan cantik, menutup perjalanan kami di akhir sore yang romantis.

IMG_0994

IMG_1017

IMG_0998

IMG_1009

Pantai Maratua yang indah
Photos taken by : Toni BSA

Pengaturan Perjalanan

Karena kepopulerannya, kini kepulauan Derawan semakin ramai dikunjungi berbagai wisatawan baik lokal maupun internasional. Pun begitu, dikarenakan letaknya yang lumayan jauh dan harus melalui beberapa titik pemberhentian, diperlukan kecermatan yang tepat dalam mengatur perjalanan agar waktu tidak terbuang sia-sia karena harus mengatur dan mencari transport, hotel, boat, dll.

Sebagai catatan, jika memiliki waktu perjalanan yang terbatas dan dengan  jumlah anggota yang terhitung  banyak, alangkah baiknya jika perjalanan dibantu oleh travel agent lokal yang sudah terbiasa mengatur perjalanan mengelilingi kepulauan Derawan.

Untuk biaya paket lengkap tur lokal, rata-rata di patok di angka Rp. 2 jutaan diluar biaya pesawat.  Ini sudah termasuk  transport penjemputan airport ke dermaga Tanjung Batu – PP, biaya seatruck, makan dan minum, biaya tiket masuk daerah wisata serta hotel selama 2 (dua) malam.

Categories: Updates | 1 Comment

Mata Biru Pengusir Roh Jahat

Adat kebiasaan orang Indonesia untuk masalah oleh-oleh sepertinya sama dan umum. Di tiap kesempatan berkunjung ke suatu tempat yang baru, yang terpikir adalah membeli oleh-oleh untuk kerabat dan teman-teman terdekat.

Pun demikian halnya saya. Di tiap perjalanan dan di tiap persinggahan, tradisi yang satu ini hampir tak terlewatkan dan menjadi momen yang menyenangkan.

Saat hunting barang souvenir untuk oleh-oleh di Turki,  banyak sekali ditemui hiasan dengan ikon mata berwarna biru. Bahannya terbuat dari batu atau terkadang dari bahan batu sintesis namun dengan ikon sama yaitu satu mata berwarna biru. Penduduk  setempat menamakannya Nazar Boncugu atau Mata Biru / Blue Eyes.
mata biru

Apa ya gunanya?  pikir saya selalu karena benda ini bisa ditemui dimana mana.  Di tempat penjualan souvenir, di hiasan dinding, stiker-stiker, bahkan di pintu rumah penduduk. Nah, ketika bertanya kepada salah satu pedagang yang dagangannya terdapat benda dengan ikon ini, ia menjelaskan bahwa warna biru dalam Mata Biru ini dipercaya secara turun temurun sebagai alat pengusir roh jahat.

DSC01742

Mata Biru dimana mana

 

DSC01861

Mata Biru Banyak Ditemukan di Sini

 

DSC01866

Mata Biru ditemukan dalam berbagai bentuk dan produk. Perhiasan, gantungan kunci mobil, magnet kulkas, dompet, kaos, dan lain-lain. Bahkan di satu tempat di Cappadocia, si mata Biru di gantungkan diatas sebuah pohon  yang berdiri tegak di atas suatu puncak lembah yang bernama Pigeon Valley / Lembah Merpati.

Pohon ini dipenuhi Mata Biru yang digantungkan di antara dahan-dahannya sehingga nampak  seperti berdaun Mata Biru. Terlihat cantik sekali sehingga ramai  para pengunjung Cappadocia berpose di bawah pohon tersebut.

DSC01315

 

Categories: Updates | Leave a comment

Kuliner Turki – All ’bout Food and Food

Apa yang lebih menantang di tiap perjalanan daripada misteri makanan yang akan menghadang kita setibanya di tujuan? Yup, makanan jadi faktor penting yang mengundang keingin tahuan kita termasuk makanan di Turki yang sangat beraneka ragam.

Makanan di Turki, kalau boleh saya berkata jujur ; awalnya agak kurang cocok dengan lidah saya yang awam. Semuanya serba maniiisss… creamy, serba terong, serba kacang. Hehe…
Untungnya, saya si pemakan segala ini suka nekat mencoba makanan apa saja yang nampak di depan mata. Semuanya di coba saja, lalu perlahan mulai pandai membedakan mana yang pas di lidah, mana yang agak kurang berkenan.

Kebab

Ini dia. Mana sih yang katanya Kebab dari Turki. Secara, di Indo saja Kebab itu ada dimana mana sampe ke pelosok kampung. Tapi, saking banyaknya aneka ragam makanan yang disantap, baik di hotel, di resto, bus stop dll, ternyata hanya dua kali Kebab ini ditemui. Pertama kala makan siang di perjalanan menuju Ankara, dan satu lagi ketika sedang menunggu teman – teman berbelanja di Grand Bazar Istanbul.

Kebab artinya daging. Jadi secara fisik, kebab yang biasa kita makan di Indonesia itu hanya variasi dari berbagai jenis masakan kebab. Jadi tidak melulu disajikan bersama  roti yang membungkusnya. Pun kebanyakan Kebab disana juga dipanggang/diasap bertumpuk dengan alat penusuk sebagaimana yang kita lihat di kebab Turki di Indonesia.

DSC01975

Kebab Hot Plate

Resto Gua Batu Dede Efendi

Di Cappadocia, makan siang kami terasa lebih mempesona karena diadakan di restaurant yang juga dari gua batu. Nama restaurant itu sangat familiar dengan nama orang Indonesia atau suku Sunda tepatnya karena bernama ‘Dede Efendi’. Awalnya, saya pikir pemilik resto ini bisa jadi orang Indonesia yang sudah lama bermukim di Turki dan membuka usaha restaurant. Usut-usut ternyata Dede Efendi adalah nama seniman Turki yang terkenal. Tepatnya, dia adalah seorang komponis musik klasik Turki yang meninggal di tahun 1846. Beliau adalah pencipta notasi Hampasum, notasi dominan untuk musik Turki.

DSC01875

Di Resto ini, arsitekturnya memang mengikuti kontur tanah gua dengan warna aslinya yang khas. Interior didalamnya pun di desain simple jadi terasa seperti di gua sungguhan.

DSC01871
Menu yang disajikan kala itu adalah sup krim lezaattt sampai minta tambah berkali-kali (lapar atau enak ya), dengan roti yang dilanjutkan menu utama berupa sesendok nasi samin dan ikan bakar fillet yang enak. Entah ikan apa, karena ketika ditanya ke pelayan, mereka hanya tersenyum-senyum tebar pesona. Maklum, mereka hanya bisa berbahasa inggris sepotong-sepotong. Ya sudah, dinikmati saja ya makan siangnya 😉

DSC01874

Makanan Penutup

Basbousa
Untuk makanan penutup, mereka sepertinya selalu mempunyai Basbousa untuk disajikan. Makanan super manis ini hampir selalu kami jumpai di tiap penutup makan kami. Rasanya legit, super manis dan tekstur yang lembut.

basbousa

Ice Cream
Mereka punya Ice Cream dari susu kambing yang diolah dengan menggunakan ekstrak akar anggrek untuk membuat ice cream mereka menjadi liat dan tidak gampang tumpah dan cair.
Dimana-mana terlihat penjual Ice Cream ini mengenakan baju khas mereka dengan gerobaknya. Tingkah mereka yang lucu sangat atraktif dan mengundang tawa.

DSC02027

IMG_3745

Yogurt Kambing dengan Biji Opium
Opium ?? Wowww. Ya biji opium di Turki dijadikan garnis untuk Yogurt Kambing yang mereka sajikan. Jangan khawatir, biji opium ini ternyata tidak menimbulkan efek memabukkan atau apapun karena hanya getah opium saja yang diolah menjadi madat. Biji opium dikeringkan dan diolah untuk dijadikan garnis yang menyertai yogurt selain madu.

DSC01749

 

Intinya,  coba saja semua makanan yang ada. Rasakan dan nikmati sensasi perbedaan bumbunya yang khas perpaduan Arab, Eropa dan Asia. Kalau terasa hambar, yah kalau mau lezat bawa garam sachet sendiri untuk menambah cita rasa. Jangan lupa pula yang sebaiknya dibawa seperti tip yang sudah-sudah, yaitu ; sambal sachet andalan kita. Bagi saya yang lidahnya terbiasa pedas, tentu saja ini menjadi item yang WAJIB dibawa.

🙂

Photos will talk more than words

Turkish Delight

Manisnya Turkish Delight

Manisnya Turkish Delight

Resto Ikan di Penyeberangan Ferry Eceabat

DSC01576

Deretan Resto Ikan di Kumkapi, IstanbulDSC02021

Kestane

DSC01527

DSC01534

Dried Fruits

DSC02016

Roti Simit

IMG_2905

simit

Categories: Updates | 2 Comments

Kota Flintstones Cappadocia

“Yabba dabba doo!

Pernah membayangkan tinggal di gua sebagaimana tokoh karakter kartun Fred Flintstone & Family ? huaa… di Cappadocia masih terdapat pemandangan unik dimana terdapat kota bawah tanah yang seluruhnya dipahat dari batu.

fred_flintstone
Di tengah era modernisasi yang sedang melanda bangsa Turki, ternyata disana masih terdapat sebuah kota bawah tanah yang seluruh bangunannya dipahat dari batu. Ya, persis seperti kota Flinstones di film kartun yang dulu sering kita tonton dahulu saat masa kecil 😉 . Sungguh mengagumkan dan membuat decak kagum karena bangunan gua dari batu itu sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Untuk itulah, Cappadocia masuk dalam salah satu jajaran UNESCO World Heritage Site.

DSC01905
Cappadocia terletak sekitar 200 mil di selatan Ankara, ibukota Republik Turki dan membentang antara Gunung Taurus dan Laut Hitam. Saya sendiri pergi ke Cappadocia dari Izmir, wilayah selatan Turki. selama 13 jam plus istirahat sebentar diperjalanan. Jauhnya perjalanan tentu saja terbayar dengan apa yang saya dapatkan di tempat ini.

DSC01939

Kota ini pertama kali diukir oleh bangsa Het dari kerajaaan Hittites lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Kerajaan Hittites merupakan salah satu imperium termaju di dunia kuno yang berkuasa dari 1700 SM sampai 1190 SM.

DSC01947
Bebatuan sedimen yang terbentuk dari material vulkanik sekitar 9 sampai 3 juta tahun yang lalu, yang terkikis oleh angin dan hujan sehingga membentuk seperti menara dan pilar. Bebatuan itu di jaman ribuan tahun yang lalu sudah diukir menjadi rumah gua yang mereka tinggali dan juga terdapat gereja dan biara. Bayangkan, bangunan ini sudah ada sejak jaman kekaisaran Romawi lho namun masih terlihat dalam kondisi yang cukup baik hingga detail interior didalamnya.

DSC01907

DSC01886
Berada di lokasi ini seolah olah kita sedang hidup dan tinggal pada jaman Fred Flinstones 😀

DSC01943

DSC01919

IMG_3678

Pemerintah Turki membangun dan memelihara kawasan wisata Cappadocia dengan sangat baik. Dapat dicapai dengan jaringan transportasi bus, kereta api, dan penerbangan dari kota Ankara dan Istanbul. Wilayah Cappadocia yang dikelilingi beberapa kota, seperti Hacibektas, Aksaray, Nigde, dan Kayseri, bisa dikunjungi sepanjang tahun. Jika ingin menikmati puncak musim dingin dimana wilayah ini diselimuti oleh salju, datanglah pada bulan Januari. Namun jika ingin menikmati seutuhnya, datanglah di puncak musim panas di bulan Juni, dimana pada saat ini kawasan ini akan sangat ramai sekali dengan pengunjung karena merupakan musim liburan sekolah. Adapun saya, berkesempatan mengunjunginya di musim gugur yang romantis. Daun-daun menguning, musim yang dingin namun belum bersalju.

DSC01967

di musim gugur yang romantis

Dimasa ini, memang rumah-rumah di Cappadocia tidak lagi ditinggali oleh penduduknya, namun mereka mengubahnya menjadi hotel mewah, restaurant, museum, bahkan butik-butik mewah. The Goreme Open Air Museum adalah situs yang paling banyak dikunjungi oleh para turis di Cappadocia.

DSC01876

Restaurant Kaya (Batu) Dede Efendi. Sumpah, bukan punya orang Sunda lho ya. 😛

Jika ingin menyaksikan keseluruhan panorama dari Göreme, dapat dilihat diatas suatu lembah yang terlihat seperti burung Merpati sehingga dinamakan Pigeon Valley.

DSC01315

Pohon Mata Biru di Lembah Pigeont Valley

Hmm, saya membatin saat naik ke bus yang membawa kami pulang ke hotel setelah kunjungan. Hebat sekali ya, saya kagum dan salut dengan pemerintah Turki yang pandai dan gigih merawat situs-situs alam dan budaya mereka dengan sangat baik untuk dapat disaksikan seluruh pengunjung dari manca Negara.

Categories: Updates | Tags: , , | 4 Comments

Artemis di Ephesus, Izmir

Dikisahkan bahwa ternyata di jamannya,  Ratu Cleopatra pernah berbulan madu di kota Ephesus pada suatu saat di musim semi.

Ephesus, Kota Yunani Kuno di sebelah barat dari Anatolia, kota Selçuk, Provinsi Izmir. Kota ini adalah salah satu dari dua belas kota dari liga Ionian dalam sejarah pemerintahan Yunani kuno.

DSC01628

Depan Ottoman Clock Tower, Izmir

Sebelum perjalanan menuju  kota kuno Ephesus, dalam perjalanan kami singgah sebentar di Ibukota Provinsi Izmir yaitu Kota Izmir. Kota ini terkenal dengan para wanita cantik. Sampai-sampai mereka mengibaratkan, diantara sepuluh wanita di Izmir, maka yang cantik ada sebelas orang.

DSC01632

Salah satu gadis Izmir yang tertangkap kamera 🙂

Kami juga menyempatkan mampir sejenak untuk foto stop di depan patung Meryem Ana (Siti Maryam/Bunda Maria). Sebagian teman-teman yang lain juga berkesempatan mengunjungi rumah Meryem Ana yang berada di satu kawasan dengan Ephesus pada satu hari sebelum kunjungan ke Ephesus.

Rumah Bunda Maria atau disebut “Panaya Kapulu” terletak di selatan Ephesus di kaki Gunung Bülbül yang tenang dan berpemandangan indah. Pada awalnya,  Meryem Ana dibawa  ke Ephesus oleh pengikutnya karena Yerusalem sudah dianggap tidak aman lagi. Meryem Ana ditinggal  dan  akhirnya meninggal di tempat ini. Baru pada akhirnya tahun 1891, rumah ini ditemukan sesuai dengan detail yang digambarkan oleh Biarawati Catherine Emmerich.

DSC01666

Patung Meryem Ana

DSC01647

sementara menunggu teman-teman mengunjungi rumah Meryem Ana

Perjalanan kemudian dilanjutkan esok harinya ke Ephesus. Disini ada candi terkenal dengan nama candi Artemis. Selesai dibangun 550 SM, merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno, candi ini di robohkan  di tahun 401 oleh massa yang di dalangi oleh St.John Chrysostom.

Ephesus dulunya adalah kota yang dikuasai oleh Lysimachia, salah seorang jendral perang Alexander Agung. Sepeninggal Alexander Agung, wilayah-wilayah taklukan di perebutkan dan dibagi-bagi oleh para jendralnya karena  Alexander mati muda dan tidak mempunyai anak sebagai penerusnya. Ephesus kemudian dikuasai oleh Kekaisaran Romawi pada 88 SM. Sempat terjadi pemberontakan, tapi kemudian berhasil dikuasai kembali oleh Romawi dibawah pimpinan Lucius Cornelius Sulla dua tahun kemudian, 86 SM.

Diceritakan bahwa Kaisar Romawi Mark Anthonius dan Ratu Mesir Cleopatra pernah berkunjung pada musim semi ke Ephesus pada 33 SM untuk berbulan madu. Pada masa kaisar Augustus, 27 SM, Ephesus dijadikan ibukota untuk provinsi Anatolia Barat dari Kekaisaran Romawi, sejak inilah Ephesus berkembang menjadi kota besar masa itu. Puncak kejayaan Ephesus terjadi pada abad ke-2 Masehi. Gempa juga pernah menghancurkan kawasan ini.

Tur yang kami lewati berawal  dari puncak bukit, dimana sejarah kota ini berawal. Pilar-pilar marmer berjejer di sepanjang jalanan masuk yang juga terbuat dari batu marmer.

DSC01678

Ada beberapa bangunan utama di kawasan kota kuno ini diantaranya yang sempat saya ingat;

Odeon –  teater yang dibangun oleh Vedius Antonius di tahun 150 Masehi merupakan ruang perjamuan dan pertunjukan untuk skala sekitar 1500 an orang .

DSC01670

Theatre Odeon

Candi Hadrian – Candi dari abad ke dua,  tetapi mengalami pemugaran pada abad ke empat dan telah didirikan kembali  dari bongkahan  reruntuhan yang masih selamat. Relief bagian atasnya adalah imitasi, dan aslinya ada di pajang di Museum Arkeologi Selçuk Kusadasi,Turki. Dapat disimak pula dalam gambar mata uang Turki pecahan 20 Lira.

DSC01680

Candi  Domitian –  Theater atau stadion multi. Selain sebagai tempat pendidikan juga untuk pertunjukkan budaya dan gladiator.  Menjadi tempat dimana dulu para Gladiator saling bertarung. Gladiator adalah budak petarung dan konon, budak tersebut bisa membeli kebebasannya jika telah memenangkan seratus pertarungan.

DSC01693

Mendaki tangga-tangga menuju Domitian / Gladiator

Gladiator,  tugasnya hanya untuk bertarung melawan sesama Gladiator maupun binatang buas. Mereka adalah para petarung yang sangat kuat di zaman Romawi Kuno. Pertarungan mereka menjadi konsumsi publik yang exclusive di jaman itu dan sangat dinantikan. Semakin cepat mengalahkan lawannya, maka semakin hebat Gladiator itu dan tepuk tangan akan semakin membahana dan bergemuruh.

gladiator___wikimedia

Ilustrasi Gladiator – Wikipedia

DSC01697

Tempat Gladiator

Masih banyak lagi bangunan-bangunan yang kami lewati termasuk diantaranya reruntuhan pasar kuno, juga sarana-sarana umum lain seperti perpustakaan Celsus, jalan-jalan kota dengan pilar-pilar di kiri kanannya, rumah sakit, Hamam (pemandian umum), ‘Rumah Cinta’ yang berseberangan dengan perpustakaan. Diketahui kemudian bahwa ternyata ditemukan lorong bawah tanah yang menghubungkan antara Perpustakaan Celsus dengan ‘Rumah Cinta’ ini. Jadi ketika para istri ke pasar, para lelaki pamit ke Perpustakaan, tapi sebenarnya ke ‘Rumah Cinta’.  Dari jaman dulu ternyata banyak juga laki-laki hidung belang ya. 😛

DSC01686

Perpustakaan Celsus

Yang juga menjadi ciri khas kota Romawi adalah toilet umum untuk para bangsawan dan orang-orang kaya saja. Dudukannya berdekatan tanpa sekat, dan dikaki mereka mengalir air buat cebok. Kasian orang yang berada di paling ujung, menggunakan air bekas orang-orang sebelumnya. Jadi kebayang mereka buang air sambil melihat orang disebelahnya juga melakukan kegiatan yang sama

Selcuk_20110604_0106_Ephesus

DSC01672

ini bukan kucing jaman Romawi Kuno … 😛

Di akhir kunjungan, sempat pula ditampilkan pertunjukan a la Romawi Kuno oleh theatre lokal di area Ephesus kota kuno. Sayang, kamera yang saya gunakan sudah terlanjur low batt sehingga tidak berkesempatan untuk mengabadikan pertunjukan yang menarik tersebut.

END

Ramai-ramai di depan hotel

Ramai-ramai di depan hotel

DSC01656

Categories: Updates | Leave a comment

Museum Mevlana Jalaluddin Rumi, Konya

Jalaludin Rumi atau nama lengkapnya Maulana/ Mevlana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri adalah sang pujangga sufi dari tanah Persia. Selain penyair dia juga tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Lahir pada 30 September 1207 Masehi di Balkh sebuah kota kecil di kota Khurasan, Afghanistan dan meninggal pada 17 Desember 1273 Masehi di Konya ,Turki.

Mevlana-and-Sham
Mevlana Rumi atau Jalaluddin Rumi, mengekspresikannya tulisannya dalam bahasa cinta yang syarat makna. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi. Konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu kalam yang sudah kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.
Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.

Tempat dimana Rumi mendirikan sekolah dan tempat dimana kemudian beliau dimakamkan itulah kemudian didirikan museum Mevlana.

Museum Mevlana

Museum Mevlana

DSC01769

DSC01783

Museum ini juga disebut Istana Kebun Mawar atau Rose Garden karena banyak ditanam bunga mawar aneka warna. Di musim semi, akan tampak ribuan bunga mawar yang mekar dan semerbak mewangi diseluruh area museum.

DSC01785

sisa-sisa mawar mekar di musim dingin

Ditempat itu pula dulu pernah menjadi pondok atau sekolah untuk para darwis , yang lebih dikenal sebagai whirling dervishes.

Zikir adalah salah satu tuntunan Nabi Muhammad SAW untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Jalaluddin Rumi, kemudian mengembangkan metode zikir dengan gerakan berputar yang dikenal sebagai ”Dervish Dance”.

Teknik menarikan ”Tari Darwis” sangat mudah. Inti gerakan tari ini adalah berputar yang dilakukan searah jarum jam dan dilakukan terus-menerus. Gerakan ini simbol alam semesta yang selalu berputar mengelilingi garis edar masing-masing.

Tangan kanan menghadap ke atas sebagai simbol menerima karunia Allah dan tangan kiri menghadap ke bawah yang bermakna hendaknya manusia memberikan cinta kasih kepada sesama.

Terkadang masyarakat awam mengira orang yang menari Darwis kesurupan karena bisa berputar-putar begitu lama. Tidak, mereka bukan kesurupan. Mereka justru tengah berada dalam kesadaran yang tinggi, mampu mengidentifikasi keadaan di sekitarnya dengan lebih baik. Ini berujung pada kesadaran siapa diri kita sebenarnya

Whirling dervishes

Tarian Darwis / Sufi Berputar

whirling dervishes.
Memasuki area museum melalui gerbang utama ke halaman marmer-beraspal. Air mancur terletak di tengah-tengah halaman itu dibangun oleh Yavuz Sultan Selim. Adapun sebelum masuk kedalam museum ini kita diwajibkan untuk melapisi sepatu atau alas kaki kita dengan plastik yang disediakan.

Alas kaki plastik Photo taken by : Fitri

Alas kaki plastik
Photo taken by : Fitri

DSC01774

Dapur para Darwis

Di dalam museum, terdapat dapur para darwis (Matbah) dan Hurrem Pasha. Makam terletak di sisi kanan. Di sisi kiri adalah 17 bilik darwis yang berjejer dan ilustrasi Rumi yang sedang berdiskusi dengan sahabatnya. Konon, Rumi bisa menghabiskan waktu berhari-hari lamanya untuk berdiskusi dan dari diskusi itu menghasilkan ide-ide karyanya.

DSC01779

Disebelah kiri, terdapat koleksi Masnavis (buku puisi yang ditulis oleh Mevlana), Al-Quran dan sajadah bergambar, juga sebuah kotak tertutup kaca berisi jenggot nabi Muhammad, SAW.

IMG_1518

Dalam wadah ini terdapat jenggot Nabi Muhammad, SAW

Makam Mevlana

Makam Mevlana

DSC01781

Pose sebelum pulang

Satu philosophy dari Mevlana Rumi yang akan terus teringat adalah ; bahwa manusia terlahir untuk mati, jadi berbuat baiklah kita kepada semua orang.

Subhanallah. Sungguh tiada kata-kata lagi yang menggambarkan rasa puas di batin saya karena telah berhasil menyusuri salah satu situs kebesaran Islam di masa lampau. Semoga dampak kunjungan ini membawa banyak hal-hal positif yang dapat mempengaruhi kehidupan saya untuk menjadi  manusia yang lebih baik lagi di kemudian hari. Amiin YRA.

DSC01792

Postcard untuk souvenir dari Konya

Categories: Updates | 5 Comments

Adat Unik Di Pamukalle – Jelajah Turki

Seorang ayah akan meletakkan botol bekas minuman ke atas atap rumah mereka jika keluarga tersebut memiliki anak perempuan yang telah siap untuk menikah.

IMG_3102

Dikisahkan langsung oleh Luna dan katanya hal itu dilakukan agar pemuda-pemuda sekitar dapat mengetahui signal tersebut. Satu botol untuk tiap gambaran anak perempuan. Jika si anak perempuan ada dua, maka mereka akan terlihat memiliki 2 botol di atas atap rumah mereka. Jika anak perempuan mereka masih muda dan langsing maka botol yang digunakan adalah botol kaca yang langsing. Namun, jika anak perempuan mereka gemuk dan berumur, botol yang digunakan juga adalah botol berukuran besar yang terbuat dari plastik. Dan tidak ingin jika pemuda yang mengincar terkecoh dan merasa dibohongi, botol akan dipasang terbalik jika anak perempuan mereka sudah pernah menikah alias  janda. Hehe, benar – benar istiadat yang unik ya. Terbayang, jika kebiasaan ini berlaku di Indonesia, mungkin ayah saya akan memasang botol galon aqua di atas atap rumah saya. 😛

Kisah mengenai adat istiadat unik tersebut didapat ketika bis yang kami tumpangi melintas di desa yang dimaksud di  daerah Pamukalle, Turki. Daerah Pamukalle  ini memang juga menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi selama di Turki selain tempat-tempat lainnya.

Pamukalle

Hari sudah beranjak sore ketika kami memasuki wilayah Pamukalle untuk mengunjungi sebuah situs alam di Propvinsi Denizli Turki Barat sekitar 18 km dari provinsi denizli. Untuk menuju ke sana, kita bisa naik jasa travel atau bus yang tersedia di bandara menuju tujuan Istanbul Atasher. Dari situ kita lanjutkan perjalanan menuju Denizli ottogar.  Di tempat ini terdapat dua lokasi wisata  yakni Hierapolis dan Travertines.

Gerbang Hierapolis

Kawasan Hierapolis

Tujuan utama para turis manca atau lokal yang berkunjung ke Pamukalle biasanya adalah ke Travertines. Sebelum ke Travertines, kita akan melewati Kota Kuno Hierapolis. Banyak reruntuhan bangunan koa tua jaman Romawi. Bernama Hierapolis (Hiera:dewi Hera, Polis : Kota) karena dulunya disini terdapat kuil Hiera.

Dan setelah berjalan jauh melalui Herapolis, tibalah di tempat Travertine. Disini akan kita temui sumber air panas yang berbentuk terrace.  Mineral karbonat yang dibawa oleh air  mengalir menuruni lereng gunung dan mengendap perlahan sehingga sepanjang penggunungan menjadi menyerupai air terjun beku berwarna putih yang bertingkat-tingkat. Disini kita diminta untuk melepaskan alas kaki untuk menikmati hangatnya air yang mengalir.

kawasan Travertines dari atas

indahnya Sunset di pamukalle

Di daerah yang paling puncak, terlihat pemandangan sekitar Pamukalle yang sangat indah. Apalagi saat itu sedang sunset, langit bersemu kemerahan dan redup. Ditambah hawa yang dingin, angin yang sayup-sayup basah, maka suasana menjadi sangat syahdu dan romantis. Puas-puaslah mengabadikan keindahan alam Pamukalle. Merendam atau membasahkan diri ke airnya yang hangat dalam hawa yang dingin, atau sekedar bercanda gurau sambil memandangi keindahan panorama sekitar.

Bersama Luna. Tur Guide  😉

menikmati air hangat alami

Santai, lupakan dunia..nikmati hangatnya sumber mata air panas

Setelah puas dan kembali turun menuju pulang, jangan lupa membeli aneka souvenir khas yang dijual di toko-toko souvenir yang banyak terdapat disana.

Categories: Updates | Leave a comment

Legenda The Troy – Jelajah Turki

Lumayan juga ya. Sebuah kota menjadi terkenal seantero dunia karena legenda kotanya di filmkan dan diperankan oleh seorang actor terkenal. Siapa sih yang tidak kenal dengan actor tampan Brad Pitt si pemeran Film The Troy ?

Bagi yang sudah pernah atau bahkan berkali kali nonton film ini tentu masih ingat kuda raksasa yang terbuat dari kayu yang digunakan  tentara Yunani untuk menembus kota Troy. Kuda raksasa inilah yang menjadi kejutan manis yang diberikan Luna sebelum menuju ke situs kota Troy yang bernama Hisarlik. Luna, si tur guide lokal, gadis cantik dan baik hati asli Turki yang menemani tur kami, berkata bahwa dia ingin memberi kejutan.  Saya dan teman-teman bersorak ketika ternyata kejutan itu adalah  ke tempat dimana kuda Troy berada di alun-alun kota Canakalle.

Setelah mengunjungi patung raksasa kuda Troy, kami bergegas menuju Hisarlik. Tempat ini adalah tempat yang sarat dengan sejarah dan mitos. Disinilah terlihat reruntuhan kota Troy dan tempat dimana terjadinya perang Troya yang  melegenda dan kemudian di filmkan itu.

Reruntuhan Kota Troy

Reruntuhan kota troy

Perang Troya adalah perang yang melibatkan cinta Helen dan Paris, ketamakan Raja Agamemnon, serta patriotisme Hector dan Achilles.

Dipicu oleh larinya Helen, isteri Menelaus, ke Troy. Helen terlibat cinta dengan Paris, anak Raja Priam. Adapun Menelaus adalah adik Agamemnon, raja Yunani. Kemarahan Menelaus karena isterinya direbut Paris dimanfaatkan oleh Agamemnon sebagai alasan untuk menyerbu Troy. Sebenarnya Agamemnon memang sudah lama ingin menguasai Troy. Achilles, sepupu Agamemnon, ikut serta di antara pasukan Yunani dan ikut terlibat perang untuk membela negaranya. Ia sebenarnya  berseberangan dengan Agamemnon yang tamak dan jahat.

Singkat cerita, Hector anak Raja Priam lah yang akhirnya maju melawan Achilles dan dia mati terbunuh. Walaupun kemudian Achilles pun juga terbalaskan mati  di tangan Paris. Paris membunuh Achiles tepat di urat kakinya yang merupakan titik lemah Achilles. Itu kenapa di dunia kedokteran, ada nama urat  yang dinamakan Achilles.

Hmm. Kisah yang mengharu biru ya. Sedih … 😦

Paris diapit Helena-Helana 😛

Oh ya. Terus,  dimana peran kuda Troy ?

Hmm, kuda Troy adalah patung kuda raksasa yang digunakan oleh pasukan Yunani. Mereka berstrategi menembus kota Troy dengan bersembunyi di dalam kuda tersebut. Tadinya rakyat Troya dengan lugu mengira bahwa kuda itu adalah patung hadiah untuk raja sehingga mereka mengangkut kuda Troy beramai ramai masuk ke dalam tengah kota. Tak dinyana, pasukan Yunani yang ternyata bersembunyi didalamnya keluar di tengah malam buta untuk menyerbu kota Troy.

Masih bingung ? nonton sendiri ya. Yang cerita juga lagi mumet kecapean foto-foto Paris dan Helena 😀

Tertarik untuk ke kota ini ? Hisarlik terletak di Čanakallė, kota yang berjarak sekitar 5-6 jam perjalanan dari istanbul. Untuk mencapai kota ini kita harus menyeberangi ferry selama kuranglebih 30 menit melewati Teluk Izmir.

Menyeberangi Teluk Ismir menuju Canakalle

Kunjungan pun berakhir di sore yang beranjak  dengan sangat cepat menjadi gelap  di awal musim dingin. Hari itu menjadi sangat melelahkan karena selain perjalanan yang cukup jauh dari Istanbul, hari itu saya mabuk perjalanan (malu-maluin ya sampe jackpot ..he3 ). Mungkin karena kondisi yang kurang fit dan makan siang saya tidak pas di perut.

Categories: Updates | 2 Comments

Jelajah Istanbul – Turki ( Part 1)

Di musim yg romantis

Masa kunjungan ke Turki di kala itu adalah akhir musim gugur.  Musim yang menjadi  favorit saya karena penuh nuansa keemasan dari dedaunan menguning yang rontok dan berguguran satu persatu dari pohonnya. Keindahan musim yang membuat kita terbuai dalam romantisme suasana yang tak tergambarkan kata-kata

Negeri Turki sebagaimana dalam cerita dan dongong-dongeng masa kecil saya dalam buku majalah popular anak-anak pada masa itu,  adalah negeri yang terlukiskan indah dengan beragam adat budaya yang khas ketimuran berbalur eropa.

Republik Turki disebut Türkiye, sebuah negara besar di kawasan Eurasia. Wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya dan daerah Balkan di Eropa Tenggara.

Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan untuk menandai batas wilayah Eropa dan Asia, sehingga Turki dikenal sebagai negara transcontinental. Disebabkan oleh lokasinya yang strategis di persilangan dua benua, budaya Turki merupakan campuran budaya Timur dan barat menjadi hal unik yang sering diperkenalkan sebagai jembatan antara dua buah peradaban.

Ada banyak sekali tempat wisata dan tempat bersejarah yang bisa dan wajib dikunjungi selama berada di Turki. Wah, kalau tidak mengingat waktu, bisa jadi tempat-tempat tersebut baru akan habis setelah berbulan-bulan.

Di kunjungan saya, ada beberapa tempat yang saya telusuri dan mungkin bisa menjadi bahan referensi untuk juga dikunjungi teman-teman di suatu saat nanti. Semuanya menjanjikan keunikan dan keindahan yang langka kita temui di tempat lain karena perpaduan budaya dua benua.

Istanbul

Istanbul adalah salah satu kota terbesar dan terpenting di Turki dan dikenal dengan nama Konstantinopol  (bukan Konstantinopel – Rev.)* atau Byzantium.

Ibukota Turki sebenarnya adalah Ankara namun kota Istanbul mengambil peranan penting sebagai kota perdagangan dan peradaban budaya. Di Istanbul ada beberapa tempat yang bisa kita kunjungi sebagimana yang saya paparkan berikut.

Blue Mosque

Landmark kota Istanbul sepertinya adalah Blue Mosque. Sebagaimana menara Eiffel di Paris,  masjid ini adalah salah satu ikon terkenal milik Istanbul. Ada enam menara Blue Mosque yang seolah mendominasi kawasan Sultanahmet, distrik tertua di Istanbul. Desain bangunan masjid ini juga terlihat sangat menarik dengan kubah-kubahnya yang artistik dan khas.

Jika diperhatikan seksama, bangunan ini ternyata menyerupai bentuk Hagia Sophia, bangunan lain yang terletak tak jauh dari Blue Mosque.

Blue Mosque

Di cuaca yang dingin itu, saya dan pengunjung Blue Mosque yang lain dalam antrian panjang. Sesekali saya mengambil foto sekitar masjid. Bangunan khas Eropa yang kebanyakan dari bebatuan terlihat mendominasi keseluruhan bangunan tua tersebut.  Saat kita memasuki dalam masjid yang dibangun pada 1609 ini, kita wajib melepas alas sepatu yang kita kenakan. Masjid ini akan ditutup untuk umum pada jam-jam sholat.

Antrian Pengunjung Blue Mosque

Dinding bagian dalam Blue Mosque berhiaskan 20 ribu keping keramik berwarna biru. Itulah ternyata kenapa masjid ini disebut Blue Mosque. Memiliki 260 jendela dan bagian dalamnya dihiasi berbagai ornamen abstrak yang bernilai seni tinggi.

Depan Blue Mosque / Masjid Sultanahmed

Hagia Sophia

Obyek wisata yang juga tergolong wajib dan menarik dikunjungi di Istanbul adalah Hagia Sophia atau Aya Sofia. Bangunan bersejarah yang berumur sekitar 1500 tahun ini selama berdiri dalam riwayatnya adalah sebuah Gereja yang kemudian dimasa Kesultanan Sultan Mehmet II dirubah menjadi Masjid.

Pada masa Sultan Murad III, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan  yang semula ada di dalam Gereja Hagia Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain juga dihilangkan. Patung-patung dan lukisan-lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat. Lantas selama hampir 500 tahun bangunan bekas Gereja Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid.

Adanya kontak budaya antara orang-orang Turki yang beragama Islam dengan budaya Nasrani Eropa, akhirnya arsitektur masjid yang semula berupa atap rata dan bentuk kubah, kemudian mulai berubah menjadi atap meruncing. Setelah mengenal bentuk atap meruncing inilah merupakan titik awal dari pengembangan bangunan masjid yang bersifat megah, berkesan perkasa dan vertikal. Hal ini pula yang menyebabkan timbulnya gaya baru dalam penampilan masjid, yaitu pengembangan lengkungan-lengkungan pada pintu-pintu masuk, untuk memperoleh kesan ruang yang lebih luas dan tinggi.

Namun, sejak masa pemerintahan Mustafa Kemal Attaturk, beliau di tahun 1937 mengubah bangunan ini menjadi Museum. Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat dan mengganti fungsi masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan Islam diubah lagi menjadi gereja. Praktik keagamaan, baik Nasrani maupun Muslim dilarang dilakukan di dalam kompleks Hagia Sophia.

Sejak difungsikan sebagai museum, para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia. Bagian di langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat.

Secara nyata,  detail mengenai bangunan ini kusimak secara perlahan. Sebagaimana gambaran yang pernah kubaca dalam buku pemberian sahabatku yang berjudul ‘ 99 Cahaya di Langit eropa” – Menapak jejak Islam di Eropa,  ditulis oleh Hanum Rais.

Depan Hagia Sophia

Perpaduan Gereja dan Masjid

Perhatikan Bagian Atas

Grand Bazaar

Bangunan khas yang pernah dipakai untuk shooting film box office Sky Fall – James Bond ini sudah berusia lebih dari 500 tahun. Walau begitu Grand Bazaar Istanbul masih menjadi tempat belanja favorit turis dan warga lokal. Ada sekitar 5 ribu kios yang terdapat  di pusat perbelanjaan tertua di dunia ini. Begitu banyak pilihan barang yang dijual, mulai butik-butik mewah, pashmina, kerajinan kulit, kaos, barang antik, karpet dan aneka macam pernak-pernik aksesori serta souvenir khas Turki.

Gerbang Grand Bazaar

Atap bangunan yang tinggi nampak mempesona dengan ornamen-ornamen seperti dalam Blue Mosque dan Hagia Sophia. Sepertinya ukiran atau ornamen itu telah menjadi ciri khas kebanyakan untuk bangunan besar di Turki.

Karena waktu itu kami sedang tidak tertarik berbelanja, maka kami hanya menyusuri sepanjang lorong Grand Bazaar dan sight seeing. Lalu setelah lelah berjalan kaki kami berjalan ke kafe depan Grand Bazar yang menjual apple tea dan kopi Turki. Di ujung sore dengan suhu yang dingin , betapa nikmatnya terasa minuman hangat khas Turki tersebut. Rasa Apple Tea panas yang terasa manis bercampur rasa khas kecut apel, sungguh membuat kesan yang dalam dalam tiap regukannya.

Apple Tea Khas Turki

Topkapi Palace

Bekas Istana yang sekarang juga sudah menjadi museum. Ada cerita menarik tentang istana dari dinasti Otttoman atau Usmaniyah ini. Istana Topkapi dibangun dengan arsitektur yang cukup sederhana, bahkan istana ini dibangun dengan ciri khas yang meniadakan unsur kemegahan. Semua dinding, pintu dan jendela seakan-akan dirancang tidak beraturan. Istana ini melambangkan kehidupan sultan yang sederhana sehingga dapat membawa dinasti Usmaniyah ke masa keemasan.

Buat yang suka panorama pantai, dibelakang istana ini, kita bisa menyaksikan dari atas keindahan selat Bosphorus yang tersohor sebagai selat yang membelah dua benua, yaitu benua Asia dan Eropa.

Cruise di Selat Bosphorus

Perjalanan cruise dengan kapal pesiar ini sebenarnya tidak saya rencanakan dilakukan pada kesempatan di hari itu. Suhu yang sangat dingin ditambah angin yang berhembus kencang dan menusuk membuat saya yang merasa kurang fit hanya ingin tiduran. Namun karena seluruh teman saya berbondong bondong dengan antusias untuk mengikuti tur ini, jadilah saya sebagai orang terakhir yang memutuskan untuk ikut naik ke atas kapal.

Sepertinya saya tidak menyesal untuk memutuskan ikut karena sepanjang selat ini, dapat disaksikan tempat-tempat yang menarik seperti istana-istana dari dinasti Usmaniyah. Diantaranya adalah Topkapi palace yang nampak dari kejauhan. Satu lagi istana yang juga terkenal  yaitu Istana Dolmabache. Istana Dolmabache dibangun menyerupai istana-istana di Eropa. Dengan segala kemewahan , kebesaran dan kemegahannya. Istana ini merupakan pusat administrasi utama dari Kekaisaran Ottoman.

Dolmabache Palace

Tentu saja di bagian selatan Bosphorus, selain kedua istana ini, kapal pesiar kami juga sempat melintasi beberapa tempat lain yang menarik . Di antaranya adalah Maiden’s Tower yang terletak di tengah-tengah selat bagaikan sebuah pulau kecil.

Menurut kisah, dulunya Maiden’s Tower adalah istana yang dibangun sultan di tengah laut untuk putrinya yang menurut peramal akan mati disengat ular berbisa. Agar terhindar dari ramalan itu, ayahnya, membuat menara di tengah laut untuk mengasingkan sang puteri. Tapi apa mau dikata, sang puteri mati disengat ular berbisa yang masuk menyelundup dalam keranjang buah anggur yang dibawa oleh pelayannya.

Maiden’s Tower

Yang pasti, letak pulau kecil ini sedemikian strategis sehingga fungsinya terus berubah. Pada tahun 341 sebelum Masehi pulau kecil itu pernah dijadikan musoleum. Pada tahun 410 Masehi, pulau itu menjadi pangkalan bea cukai lalu lintas perdagangan di Selat Bosporus. Pernah menjadi benteng kecil dan tempat mengintai. Baru pada sekitar 1920-an, menara di pulau kecil itu dijadikan mercusuar, dan kini dijadikan restoran.

Bosphorus Bridge

Ortakoy Mosque juga terlihat indah disisi selat. Bangunan masjid ini memang tidak semegah Blue Mosque. Namun lokasinya yang berada di pinggir Selat Bosphorus membuat Ortakoy Mosque menjadi sudut Istanbul yang paling menarik untuk diabadikan dengan ditambah  pemandangan jembatan Bosphorus sebagai latar belakangnya.

Ortokoy Mosque

Dan di antara bangunan-bangunan yang berada sepanjang selat Bosphurus itu, bangunan favorit saya adalah Rumeli Hisar yang artinya Castle Eropa ; benteng / kastil Eropa. Terlihat kokoh dan anggun kan. Seperti kastil – kastil di buku dongeng masa kecil.

Rumeli Hisar

Setelah melewati semua tempat-tempat tersebut, kapal pesiar kami pun balik arah menuju kembali ke dermaga. Berbagai kisah-kisah yang diceritakan pemandu wisata terus mengalir menemani pelayaran kami selain acara sesi foto yang tiada henti untuk mengabadikan keberadaan kami.

bersama Rina dan Fitri, teman seperjalanan

Masih begitu banyak tempat indah dan bersejarah di Turki dan kisah-kisah unik yang menyertainya namun belum sempat dikisahkan pada kesempatan ini. Dikali lain, jika diberi  waktu dan kesehatan, simak  kisah perjalanan di Ankara, Pamukalle,Canakalle, Cappadocia, kota kuno Ephesus, Konya, Izmir, dll.  Juga tak lupa  liputan kuliner dan tradisi unik asli negeri ini.

Salam 🙂

*Rev. : Tour leader lokal kami yang bernama pak Murad, sempat memberi sedikit penjelasan dan ralat mengenai istilah konstantinopel. Bahwa dulu kita para murid di Indonesia selalu mendengar istilah Konstantinopel tsb, bahwa ternyata kata yang benar adalah Konstantinopol (pol dari kata polis : kota).

Categories: Updates | 3 Comments

Kuliner di Kalsel

Ada yang kurang pastinya jika berkunjung ke Banjarmasin tanpa mencicipi  kuliner wajib khas kota ini yaitu Soto Banjar. Begitu banyak kedai Soto Banjar di seluruh sudut kota namun diantaranya yang direkomendasikan kelezatannya adalah kedai Soto Banjar Bang Amat.

Warung Soto Bang Amat

Kedai ini dimiliki oleh H. Ahmad Lawwani yang lalu menyingkat nama  menjadi Amat untuk kedai sotonya. Lokasinya sangat strategis yaitu di tepi sungai Pengambangan (anak sungai Martapura). Jadi para pengunjung yang menikmati Soto Bang Amat juga bisa sembari menikmati keindahan pemandangan dan nikmatnya semilir angin sungai. Bahkan, pengunjung yang berminat bisa juga menikmati  soto banjar dengan cara yang unik yaitu makan diatas perahu kelotok (perahu motor) yang berdermaga tepat di bagian belakang kedai tersebut.

Dermaga di belakang warung. Bisa dicapai melalui jalur air

Cita rasa sotonya yang khas dengan wangian dan rasa rempah yang khas daerah yaitu kapulaga, kembang sisir, kayumanis dan cengkeh menjadi satu kesatuan rasa yang sangat lezat. Disajikan bersama potongan atau suwiran ayam kampong, potongan telur bebek yang legit, serta segarnya perasan jeruk nipis yang disajikan bersamaan. Lekkerr… srrupphh… :P.

Soto Banjar Bang Amat

Sate sebagai pelengkap

Soto ini bisa dinikmati bersama potongan lontong atau nasi. Bisa lebih maknyos lagi jika dilengkapi dengan beberapa tusuk sate ayam yang juga disedikan di warung ini.  Kelezatan serta suasana rumah makan dipinggir sungai yang khas inilah yang akan memberikan kenangan tak terlupakan bagi pengunjung Soto Bang Amat , sehingga di kali lain kesempatan akan kembali berkunjung dan merekomendasikan tempat ini ke relasi mereka. Pasti hal itulah yang membuat warung ini sangat ramai terutama di jam-jam makan siang.
Bagi yang ingin berkunjung,  Soto Bang Amat ini terletak di jalan banua Anyar RT. 2 No.56 Kelurahan Banua Anyar, Banjarmasin.

Makan soto ditemani semilir angin sepoi-sepoi … mantaapp

Ayo tambah lagi …

Categories: Updates | 1 Comment

Kuin Floating Market dan Pulau Kembang

Minggu pagi – pagi sekali sekitar pukul 5, saya dan dua orang teman saya – Rima dan Loly – mewujudkan keinginan terpendam kami untuk mengunjungi Pasar Terapung di Kalimantan Selatan.  Pasar terapung ini adalah pasar tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalsel. Pasar yang unik karena para pedagang dan pembeli menggunakan Jukung, sebutan perahu kecil dalam bahasa Banjar. Pasar ini dimulai Subuh sekitar pukul 4 pagi sampai sedikit demi sedikit bubar pada selepas pukul tujuh pagi.

Sunday morning – early morn at around 5, me  and my two friends – Rima and Loly – actualized our latent desire to visit the Floating Market in South Kalimantan. This floating market is a traditional market on the river at the mouth of the river Barito Kuin, Banjarmasin, South Kalimantan. A unique market as traders and buyers using ‘Jukung’, a’ small boat in Banjar. This market started about 4 am and dawn gradually broke up after seven o’clock in the morning.

Dermaga Penyewaan Perahu

Di pasar unik yang mirip dengan pasar terapung di Negara lain yaitu Mekong Floating Market di Vietnam dan Damnoen Saduak Floating Market di Thailand, kita bisa mendapatkan sayur mayur,buah-buahan sampai perabot rumah tangga yang dijual diatas Jukung. Bahkan jika kita ingin mencoba makan diatas perahu, terdapat perahu motor yang berfungsi seperti warung. Menyediakan aneka makanan khas banjar yang menggugah selera seperti Soto Banjar dan aneka kue-kue traditional khas.

In this unique market which is similar to the other floating markets in other countries, namely Mekong Floating Market in Vietnam and Damnoen Saduak Floating Market Thailand, we can get vegetables, fruits, to home furnishings are sold above Jukung. Even if we want to try to eat on the boat, there is a boat that works like a stall. Provides a variety of specialties appetite like  Soto Banjar and various typical traditional pastries and cakes.

Berjualan diatas Jukung

Untuk mencapai pasar ini tidaklah sulit. Kami menggunakan fasilitas mobil hotel untuk mencapai arah muara sungai Kuin, dermaga tempat berlabuhnya klotok atau perahu motor untuk menuju pasar terapung. Di dermaga tersebut kita bisa menyewa Jukung / perahu dengan tarif normal Rp. 60.000,- . Namun di hari Minggu kita akan sulit sekali mendapatkan tarif normal karena sudah banyak calo-calo nakal yang akan meminta tarif berlipat-lipat. Kami bahkan terkaget-kaget ketika ditawarkan tarif gila-gilaan yaitu sebesar Rp. 250.000,- untuk satu Jukung. Alhasil, setelah perjuangan alot dengan mencari ke dermaga sekitarnya, meskipun sedikit kecewa tapi mengingat hari sudah beranjak dari subuh maka kami pun menyepakati harga yang sedikit layak yaitu Rp. 150.000,-. Kondisi ini mungkin salah satu faktor yang membuat para turis sedikit jera.

It’s not difficult to reach this market. We used the hotel car facility to reach the mouth of the river Kuin, where Klotoks – boat with machines- anchor on the dock to get to the floating market. On the dock we could hire Klotok boat with a normal rate of Rp. 60.000, -. But on Sunday it will be hard to get a normal rate because it has a lot of rogue brokers who will ask for rate many times over. We were even surprised when they offered outrageous rates of Rp. 250.000, – for one Klotok. As a result, after a tough struggle with finding the nearby dock,  although a little disappointed but considering it was moved from the morning so we agreed on a few decent price of Rp. 150.000, -. This condition may be as one factor that makes the tourists a little deterrent.

Sewa Kelotok kudu hati-hati. Banyak calo nakal termasuk 3 wanita ini 😛
Be careful if you hire Klotok. To many naughty brokers, including these 3 women. 😛

Photo taken by : Mr. Hendy

 

Kini kondisi pasar terapung Kuin sedikit mengkhawatirkan karena dipastikan menyusul punah berganti dengan pasar darat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kuin harus menelan kekecewaan karena tidak menjumpai adanya geliat eksotisme pasar di atas air.
Kepunahan pasar tradisional di kota yang terkenal dengan nama kota ‘Seribu Sungai’  ini dipicu oleh arus modernisasi budaya darat serta ditunjang dengan pembangunan daerah yang selalu berorientasi kedaratan. Jalur-jalur sungai dan kanal musnah tergantikan dengan kemudahan jalan darat. Masyarakat yang dulu banyak memiliki jukung, sekarang telah bangga memiliki sepeda motor atau bahkan mobil.

In the present, the conditions of the Kuin market has a little problem that is caused of certainly extinct following a natural  changes to the land market. Many tourists visiting Kuin sometimes feel disappointed of not finding a market exoticism stretching over the water.
The extinction of the traditional market in town with the other famous name of the city’s ‘Thousand Rivers’ was triggered by the current land of cultural modernization and supported by regional development that is always ‘land oriented’. River channels and canals almost gone and they are replaced by the easily roads. Boat communities that have had a lot of boats, is now proud to have a motorcycle or even a car.

Aktifitas Pasar Terapung
Photo taken by : Wandra Aira

Santai diatas Jukung Motor.
Photo taken by ; Mr. hendy

Geliat pariwisata ini bisa saja dibangkitkan dengan cara mengadakan lomba Jukung, lomba hias Jukung atau lebih ekstrim lagi yaitu dengan subsidi ke pedagang-pedagang Jukung. Cara-cara ini mungkin tidak alamiah namun bisa menjadi cara yang lumayan efektif untuk kembali meningkatkan kuantiti Jukung sehingga pasar terapung kembali menjadi ramai dan menarik minat para wisatawan lokal maupun internasional.

Tourism enhancement could be raised by holding Jukung race, ornamental Jukung tournament or the more extreme is to subsidy the traders Jukung. These methods may not be natural but it can be a fairly effective way to increase the quantity Jukung back into a bustling floating markets and attract local and international tourists.

Indahnya disapa matahari pagi …

Depan Dermaga Kuin bersama ibu penjual bunga sekar. Komplek Makam Sultan Suriansyah.

Hari telah beranjak  jam 8 pagi ketika Jukung kembali meluncur kearah Pulau Kembang yang terletak sekitar 15 menit perjalanan dari Pasar Terapung. Pulau Kembang adalah terletak di tengah sungai Barito kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, provinsi Kalimantan Selatan.Di dalam pulau ini  terdapat habitat kera ekor panjang /monyet dan beberapa jenis burung.

Day has moved to 8 am when the Jukung sailed to Flower Island where is located about 15 minutes trip from Floating Market. Flower Island is located in the middle of the river district Barito Alalak, Barito Kuala district, province of Kalimantan Selatan. In this island there is a long-tailed macaque habitat / monkeys and several species of birds.

Dermaga Pulau Kembang. Di pulau ini banyak habitat monyet yang jinak.

Monyet di pulau ini terkenal jinak dan nakal. Hati-hati jika membawa makanan karena belum sampai di ujung dermaga dan tali belum tertambat pun, mereka akan siap menyerbu pisang atau makanan lain.

Monkeys on this island are tame and mischievous. Be careful if you bring food because even the boat has not reached the end of the dock and the rope has still not tied yet, they will be ready to invade banana or other foods.

Monyet Pulau Kembang sedang pesta pisang

Sungguh menghibur menyaksikan polah mereka yang lucu dan polos. Walaupun kita harus tetap waspada karena mereka adakalanya merampas bando, ikat rambut atau bahkan tas jinjing yang kita bawa. Wah, seperti copet saja. 😀

It was entertaining to watch those cute and innocent monkey.  We must remain vigilant because they sometimes seize headbands, hair tie or even a tote bag that we carry. Well, they just like a pickpocket. : D

Yang ini bukan bagian dari habitat..tapi kelakuan mirip2 lah. masa makan pisang kulitnya gak dibuang.. ha3. 😛

Legenda Pulau Kembang

Dulu kala, Muara Kuin berdiri sebuah Kerajaan. Dalam kisah yang diturunkan secara temurun dikisahkan bahwa di kerajaan tersebut ada seorang patih sakti gagah berani bernama Datu Pujung. Lalu suatu ketika datang sebuah kapal Inggeris dengan membawa penumpang atau awak kapal yang kebanyakan orang Cina yang diketahui ingin tinggal dan menguasai kerajaan Kuin. Tentu saja mereka akhirnya harus berhadapan dengan Patih Datu Pujung. Datu Pujung lalu memberi syarat bahwa jika ingin ingin mengusai kerajaan Kuin harus dapat melewati ujian yaitu bisa membelah kayu besar tanpa alat atau senjata. Tentu saja persyaratan dari Datu Pujung ini tidak dapat mereka penuhi, namun sebaliknya Datu Pujung memperlihatkan kesaktiannya dan dengan mudah membelah kayu besar itu tanpa alat. Lalu Patih tersebut meminta mereka untuk membatalkan niat menguasai kerajaan Kuin dan kembali ke negeri asalnya. Karena mereka bersikeras ingin tinggal menetap dan menguasai kerajaan Kuin, akhirnya Datu Pujung dengan kesaktiannya menenggelamkan kapal beserta seluruh penumpang yang ada di dalamnya.

Alhasil lama kelamaan bangkai kapal yang ada dipermukaan air itu menghalangi setiap batang kayu yang hanyut. Dari hari ke hari semakin bertumpuk kayu-kayu yang tersangkut dan kemudian tumbuh pepohonan yang menjadi sebuah pulau di tengah sungai. Pada pulau yang ditumbuhi pepohonan ini telah pula dihinggapi oleh burung-burung dan bersarang di sana.

Dan cerita tentang tenggelamnya kapal dengan para penumpangnya yang kebanyakan etnis Cina tersebut menyebar dari mulut ke mulut dan waktu ke waktu. Para keturunan Cina akhirnya banyak yang mengunjungi pulau tersebut untuk mengenang dan memberikan bunga sebagai wujud penghormatan mereka. Dan dulu setiap orang yang berkunjung ke sana membawa sejumlah untaian kambang (bunga) yang semakin lama bertumpuk semakin banyak. Oleh karena itulah mereka yang melintas lalu kemudian menyebutnya sebagai Pulau Kembang.

#Kisah legenda diambil dari berbagai sumber. Google, juga kisah dari mulut Acil* Saprah dan Acil Loly.

*Acil : bibi / tante

Categories: Updates | Leave a comment

Ziarah Bersejarah dan Tempat yang Bisa Dikunjungi di Tanah Suci

Assalamualaikum Wr. Wb,

Selain Masjidil Haram di kota Suci Makkah Al Mukaromah maupun Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawarah, terdapat tempat-tempat bersejarah yang biasa dikunjungi oleh para jemaaah umroh/haji  maupun para peziarah lainnya. Selain berziarah, jamaah  juga bisa melakukan beberapa ibadah sunnah di tempat-tempat ini.

Berikut ini adalah beberapa informasi yang saya share mengenai beberapa tempat peziarahan bersejarah di Tanah Suci, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin YRA.

1. Jabal Nur dan Gua Hira. Jabal Nur terletak kurang lebih 6 kilometer di sebelah utara Masjidil Haram, Mekah. Di puncaknya terdapat sebuah gua yang dikenal dengan nama Gua Hira. Gua itu bertengger indah menjelang puncak Jabal Nur.  Kota Makkah dan gurun pasir yang mengitarinya akan tampak sebagai hamparan alam yang indah dari ketinggian gunung itu. Itulah gua Hira, tempat Muhammad menghabiskan sekitar 3 tahun waktunya sebelum diangkat menjadi rasul. Di gua inilah Nabi Muhammad SAW menerima wahyu yang pertama, yaitu surat Al-’Alaq ayat 1-5.

Gua tempat Rasulullah bertahanus (berdiam diri sebelum dan sesudah menjadi nabi dan rasul) itu berada pada ketinggian 2500 dari kaki Jabal Nur.  Untuk menziarahinya, jamaah haji harus mendaki kurang lebih selama 1 jam dari dasar gunung. Medannya cukup sulit. Tidak ada titian tangga yang teratur dan bertingkat, yang ada hanya batu-batu cadas besar.

Gua Hira terletak diatas Jabal Nur

2. Jabal Tsur.  Memandang ke arah selatan dari Masjidil Haram di Kota Makkah, akan tampak barisan bukit batu terhampar memanjang. Berjarak lima kilometer dari Kota Makkah, barisan bukit batu tersebut adalah Jabal Tsur, perbukitan tertinggi di Makkah Al-Mukarromah.

Jabal Tsur atau Gunung Tsur memiliki tiga puncak yang bersambungan dan berdekatan. Di salah satu puncak Jabal Tsur itulah terdapat Gua Tsur. Gua Tsur merupakan tempat yang dijadikan perlindungan Rasulullah Muhammad SAW dan sahabatnya, Abu Bakar RA. Rasul dan Abu Bakar bersembunyi dari kejaran kaum kafir Quraiys.

Dengan pertolongan Allah SWT orang kafir yang mengejar Rasulullah terkecoh ketika berada didepan gua mereka menemukan pintu gua dimana Rasulullah bersembunyi ditutupi sarang laba-laba dan burung merpati yang sedang bertelur atas izin Allah SWT. Hingga mereka berfikir tidak mungkin Rasulullah masuk ke gua tersebut, sebab jika masuk sarang laba-laba dan sarang burung merpati yang sedang bertelur pasti akan rusak.

Jabal Tsur

3. Jabal Rahmah. Dikisahkan, di bukit inilah Nabi Adam dan Hawa bertemu setelah 100 tahun diturunkan dari langit ke bumi. Konon, di tempat ini merupakan tempat terbaik untuk berdoa meminta jodoh. Dikatakan, apabila seseorang berdoa di atas bukit ini untuk meminta pendamping hidup, niscaya doanya dikabulkan Allah. Wallahualam.

Untuk mencapai gunung ini diperlukan extra tenaga karena harus mendaki bebatuan atau tanjakan keatas menuju ke puncak Jabal rahmah. Di puncak gunung inilah terdapat Tugu Jabal rahmah, tempat bertemunya kembali Nabi Adam dan Hawa

Peristiwa penting lainnya yang terjadi di tempat ini adalah tempat turunnya wahyu yang terakhir pada Nabi Muhammad SAW, yaitu surat Al-Maidah ayat 3.

Latar Belakang Jabal Rahmah w/ Yud

Banyak bebatuan besar sepanjang perjalanan menuju Jabal Rahmah

4. Jabal Uhud.  5 kilometer dari pusat kota Madinah. Tempat terjadinya perang dahsyat antara kaum Muslimin melawan kaum Musyrikin Mekah. Pertempuran tersebut menyebabkan gugurnya 70 orang Syuhada. Di antaranya Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW. Rasulullah selalu menziarahi tempat ini hampir setiap tahun semasa hidup beliau.

Jabal Uhud bersama Yud dan Mira

5. Masjid Quba. Masjid Islam pertama yang dibangun Rasulullah SAW. Disunnahkan untuk melakukan sholat sunnah 2 rakaat di Masjid ini.

Ibnu Abu Khaitsamah menuturkan bahwa ketika Rasulullah mendirikan Masjid Quba, beliaulah yang pertama kali meletakkan batu tepat di kiblatnya. Abu Bakar lalu datang membawa batu dan meletakkannya. Dilanjutkan Umar yang meletakkan batu di samping batu Abu Bakar. Setelah itu, kaum Muslimin beramai-ramai membangunnya.

Masjid Al Quba di Madinah

Selain tempat-tempat tersebut, ada juga beberapa tempat yang bisa dikunjungi selama melakukan perjalanan umroh ini. Tentunya dengan tidak melewatkan kewajiban kita untuk mendahulukan ibadah kita sebagai tujuan utama menuju Tanah Suci. tempat-tempat itu diantara yaitu ke perkebunan kurma, ke percetakan Al-Quran (keduanya di Madinah), ke Masjid Terapung di Jeddah, dll.

Kebun Kurma alias Toko Kurma

Di toko kurma yang terdapat di Madinah tak jauh dari Masjid Al Quba ini, kita bisa makan Kurma sepuas-puasnya ! Halal. Jadi semua jenis bisa dicicipi satu-satu atau dua-dua :). Tapi yang setelahnya jangan lupa dibeli untuk oleh-oleh juga yaa.. 🙂

Nah ini Kebun Kurmanya. Gak seluas ‘Kebun’ di Indo ..tp yah lumayanlah rada-rada hijau

Pasar yang buka sejak Subuh di dekat Hotel Le Meridien Makkah

Toko Ali Murah di Corniche Jeddah

Di Jeddah kita bisa berbelanja di pusat belanja di Corniche. Resminya pusat perbelanjaan di ibu kota Arab Saudi ini bernama Corniche Commercial Center, namun karena letaknya, lebih terkenal dengan nama Ballad. Di sinilah biasanya jamaah haji dan umroh singgah untuk membeli oleh-oleh dalam perjalanan mereka menuju ke Bandara King Abdul Aziz untuk kembali ke tanah air.

Ada sekitar beberapa toko yang mencantumkan kata ‘MURAH’ di toko mereka untuk memikat pengunjung dari Indonesia. Bahkan hampir sebagian dari penjaga dan pemilik toko menguasai bahasa Indonesia dengan baik. Jangan mudah terpengaruh dengan tawaran papan nama yang bertuliskan “MURAH”, karena sebenarnya mereka tidak menjual barang dagangannya dengan harga murah, walaupun berani memberi diskon kepada anda.

Jangan lewatkan untuk mengunjung atau sekedar mampir untuk menyaksikan keindahan Masjid Ar Rahmah atau Masjid Terapung di Laut Merah, Jeddah

Masjid Terapung yang Indah  di Laut Merah, Jeddah

Teman-teman, ibadah yang nyaman dan tenang Insya Allah dapat terwujud apabila kita bisa memilih Travel yang tepat. Dikarenakan saat ini sudah banyak sekali sekali Travel Umroh dan haji, ada baiknya kita dapat lebih jeli dalam menentukan pilihan.  Carilah travel yang tercatat aman, bisa memberi rasa tenang dan nyaman dengan pendampingan Muthoyib-Muthoyib / pembimbing yang baik, sabar dan perpengalaman.

Hotel Tempat menginap yang sangat dekat dengan Masjidil Haram (Makkah) dan  juga di Masjid Nabawi (Madinah), juga faktor penting yang mempermudah kegiatan ibadah tersebut. Kita juga tidak direpotkan dengan makanan karena makanan yang disediakan merupakan menu-menu masakan Indonesia yang pas di lidah kita.

Di atas Bus pada acara Tour di madinah

Demikian sekedar share dari saya.  Semoga teman-teman juga dapat segera datang memenuhi undangan menuju Tanah Suci dan memenuhi panggilanNya untuk melaksanakan perintahNya.  Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milikNya.

Wassalamualaikum Wr. Wb

Join my twitter @wandraira or follow this blog and receive notifications of new posts

Categories: Updates | 2 Comments

A Journey to A Holy Land

Perjalanan Tak Terduga

Sepertinya deretan kata-kata penjelasan tak akan cukup untuk menggambarkan detail awal mengenai asal terwujudnya keinginan untuk melakukan perjalanan suci yang saya lakukan. Keinginan untuk umroh pertama ini  timbul dengan sendirinya dan menjadi sangat menggebu-gebu di saat yang juga tiba-tiba.

Sesungguhnya, saya adalah orang yang sangat well prepared untuk tiap detail journey yang akan saya lakukan. Setiap perjalanan saya biasanya direncanakan jauh-jauh hari dengan persiapan yang begitu matang dan terencana. Namun tidak untuk kali ini karena waktu antara merencanakan dan mengambil keputusan perjalanan ini hanya berjarak dua minggu sampai dengan hari H keberangkatan !
Semua pertanyaan mengapa itu juga menjadi pertanyaan dalam hati kecil saya yang lalu kemudian terjawab satu persatu di sepanjang perjalanan tersebut.

Dihari keberangkatan itu, siang tak terasa sudah merambat ke sore. Saat yang cukup menegangkan saat menunggu para anggota rombongan. Saya termasuk sebagian dari anggota rombongan yang datang disaat-saat terakhir, melewati jam awal pertemuan di bandara yang telah disepakati. Bukan karena saya molor, saya sudah berada di airport sekitar satu jam setengah lebih awal dari jam pertemuan, namun karena saya menanti di Gate yang salah. Mereka memang menuliskan jam dan tempat pertemuan dengan jelas di lembar itinerary yang telah mereka bagikan ; Jam 14.30, Depan toko Donat Terminal 2D.  Saya menanti sekitar satu jam lamanya (di toko Donat yang dimaksud tapi ternyata di Gate yang berbeda).  Waktu menjadi tak terasa karena saya sibuk membaca panduan umroh hasil browsing. Akhirnya seorang panitia mengenali saya dari Batik Khas seragam yang saya kenakan. Ibu ini – yang ternyata adalah pemilik Travel- lalu mengajak saya bergegas menuju terminal 2D.


Alih-alih saya yang mengenali mereka satu persatu, akhirnya saya yang sedikit agak terlambat menjadi pusat perhatian mereka. No problem, mungkin dengan begitu mereka akan gampang mengingat saya :P.

Satu demi satu saya berjabat tangan dengan mereka sampai kemudian tangan saya berjabat dengan wanita yang lebih muda usianya yang akan menjadi teman sekamar saya. Namanya Yud. Tinggal di Tangerang. Di buku panduan yang diberikan, saya lihat teman sekamar saya adalah Yud, Ibu Sainah dan Ibu Tati.  Kesempatan untuk bertemu mereka semua terjadi ketika kami akan mengantri untuk cek immigrasi. Ibu Tati ternyata pergi bersama anaknya yang juga menjadi mahram saya dan Yud. Lalu ibu Sainah, ternyata seorang wanita berumur yang sedikit tertatih kesulitan berjalan karena sakit asam urat yang dideritanya. Satu-satu saya mengamati calon teman sekamar saya ini dengan seksama namun tak kentara. Pelan-pelan berusaha mempelajari watak mereka yang mungkin tersirat dari raut wajah dan tiap perkataan mereka sampai akhirnya tiba saat keberangkatan kami.

Setelah Miqat  dan menuju Makkah


Miqat adalah adalah batas bagi dimulainya ibadah haji (batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji perlu mengenakan kain ihram dan memasang niat. Miqat digunakan dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah. Sumber : Wikipedia Bahasa Indonesia.

Miqat dilakukan diatas pesawat sebelum tiba di Jeddah, tepatnya ketika melintasi Yalamlam. Namun ada sebagian yang melaksanakan Miqat ketika tiba di Jeddah.  Tata cara Miqat memang sudah saya baca sekilas di cetakan hasil browsing saya. Namun karena saya tidak pernah mengikuti manasik samasekali maka detail Miqat baru saya ketahui saat akan benar-benar melakukan proses Miqat.

Saat kita mulai berniat umroh – dimulai saat kita telah mengenakan baju dan berwudhu untuk melaksanakan umroh. Namun beberapa larangan akan mulai berlaku pada saat niat umroh sudah diucapkan, diantaranya ; dilarang menggunting kuku atau rambut bahkan rambutpun jangan sampai terjatuh. Dilarang mengenakan wewangian (sabun,parfum, tissue wangi), dilarang membunuh binatang dan memetik dedauanan atau merusak pepohonan, berkata kotor, nikah atau menikahkan, berhubungan suami istri. jika salah satu diantara larangan itu dilanggar, maka kita wajib membayar Dam atau denda yang disetorkan ke masjid.

Setelah beberapa jam beristirahat di Hotel Jeddah setibanya dari bandara, bis yang membawa kami beranjak menuju kota Makkah untuk pelaksanaan umroh di Masjidil Haram. Niat untuk umroh dibacakan dan diniatkan bersama-sama didalam bis yang melaju ketempat tujuan kami. (Detail mengenai urutan Ihram dan tatacara akan ada dalam title lain web ini.Tks.)

Pemandangan yang terlihat  di kiri kanan sepanjang perjalanan sungguh kering, tandus dan gersang tanpa warna hijau dengan hawa yang sangat terik (berkisar 40 derajat Celcius). Yud sibuk mendokumentasikan pemandangan tandus itu. Tingkahnya yang sibuk menggunakan kamera pocket untuk mengabadikan pemandangan itu membuat saya tersenyum kecil .

Saya sudah setengah tertidur ketika Yud berteriak kecil memanggil saya. “Mbaak.. lihat, bagus yaa pemandangannya..” . Pandangan mata saya bergegas mencari arah objek yang dimaksud Yud. Dan teernyata yang dimaksud Yud adalah gunung terjal bebatuan kecoklatan muda. Tetap tandus dan gersang ! Oh Yud, please .. itu bukan indah, itu gersang sayang. Indah itu adalah pengunungan Alpen. Batin saya dalam hati.

Kecongkakan saya belum berakhir kala Yud kembali setengah berteriak menunjukkan rumah-rumah yang tersusun diantara bebatuan gunung.  Yud, indah itu adalah rumah-rumah di desa Giethoorn*, batin saya lagi. Ya Allah, ampuni keangkuhan saya, tapi sungguh, saat itu dalam hati saya sebuah bertanyaan bertumbuh sangat subur. Why ? kenapa di tempat gersang nan kering tanpa pesona hijau ini, jutaan umat datang tiap harinya di suatu titik focus. Oh please give me a perfect answer.

Dalam himpitan pertanyaan itu, bis yang melaju akhirnya tiba di parkiran basement zam tower tempat sebagian dari kami menginap. Rombongan memang terbagi dua. Satu rombongan di Zam Tower dan rombongan saya di Hotel Nawazi. Kami beringsut naik melewati lift ke lantai atas kearah dimana Masjidil Haram berada setelah melewati Zam Tower. Masih dengan perasaan datar, saya ikut melaksanakan sholat Zuhur berjamaah di Masjidil Haram. Bangunan masjid ini sangat luas, indah dan agung. Namun, saya tetap hanya menatapnya datar. Saat sholat itu, saya memang belum benar-benar melihat bangunan Kabah karena kami sholat setelah masjid dipenuhi jamaah dan kami menempati shaf bagian belakang.

Zam Tower terletahk di depan Masjidil Haram. Foto ini diambil pagi dihari kedua kedatangan.

Selepas Sholat Zuhur berjamaah, ustadz yang memimpin rombongan mengajak kami semua berkumpul untuk segera memulai proses umroh. Proses itu yang dimulai dengan tawaf sebanyak 7 x mengelilingi Kabah dan dipimpin ustadz pembimbing kami.

Lalu kami mulai menjejakkan kaki, melangkah perlahan bersama-sama menuju masjid nan agung, Masjidil Haram. Kaki yang saya pijakkan dan jejakkan ke ubin-ubin putih pelataran masjdi terasa sangat dingin dalam kaos kaki tebal yang saya kenakan. Saya berjalan berlahan mengikuti arus rombongan kami. Dalam keadaan menggigil, bibir saya turut mengumandangkan bacaan yang dilafalkan. Mata saya lepaskan lurus kedepan. Disaat yang bersamaan, entah kenapa, saya menjadi begitu gugupnya seolah sedang akan menghadapi ujian akhir. Saya merasa takut.  Kaki berselimut kaos kaki ini terasa semakin dingin dan seolah beku.

Kabah dengan background Zam Tower. Foto diambil sehari setelah tawaf pertama di Kabah


Dan kami terus beringsut masuk kedalam masjid menuju Kabah sambil mengucapkan lafal bacaan-bacaan yang dipimpin Ustadz.  Perlahan, sebuah bangunan yang menjadi focus perhatian seluruh dunia mulai terlihat. Oh inikah Kabah?? Batin saya bertanya dalam kegugupan. Iya, ini Kabah..jawab saya pada diri sendiri. Saya hapal bentuknya karena persis sama seperti gambar di tiap sajadah saya dan frame picture di tembok rumah orangtua saya.

Hati saya mulai bergetar ketika menatapnya dari kejauhan dan meranjak mulai mendekat.  Makkah pada saat itu di puncak musim panas. Kedinginan yang sangat di suhu 45 derajat adalah mustahil ! Namun itulah yang saya alami. Saya menggigil kedinginan seperti halnya sedang berada di musim dingin.

Semakin mendekati, semakin getaran itu terasa menggema…menyeruak seolah menyesak dalam dada. Tetap dalam kondisi kedinginan, lalu mata saya mulai berkaca-kaca, yang kemudian bulir-bulir bening jatuh satu-satu dan menjadi semakin deras ketika Kabah semakin nampak besar di depan mata. Subhanallah, Maha Adil Engkau ya Allah Pencipta seluruh kehidupan. Perasaan tak terkatakan itu menggumpal dan menyesak menyisakan rasa sesal yang dalam. Ampuni hamba ya Allah, ampuni segala khilaf hamba yang lemah ini. “Astaghfirullah”  … saya ucapkan kalimat itu berkali-kali, lalu rasa dingin itu perlahan lenyap. Alhamdulillah, Kau Tunjukkan KuasaMu pada hambaMu yang lemah ini ya Rabb…


Tak perlu banyak penjelasan untuk sebuah jawaban yang akhirnya saya temukan sendiri dengan pencarian tak terencana . Semua jawaban ada di titik ini, di suatu titik dimana menjadi kiblat seluruh dunia maha luas. Jawaban yang memenuhi rasa keingintahuan, menutup rasa kesombongan dan keangkuhan. Menyisakan damai, menyisakan rasa haru bahagia tak terhingga.  Tak perlu gunung indah nan hijau berderet pohon subur, tak perlu hamparan rerumputan hijau dan pohon-pohon penuh warna aneka musim. Damai itu bukan keindahan tampak mata. Kebahagiaan itu letaknya bukan di negeri penuh limpahan keindahan. Allahu Akbar…

Usai Tawaf pertama

Keindahan itu ada disini …
Benar,  saya orang yang selalu mencari arti kedamaian dan kebahagian.  Menyusuri lembah, pinggiran pantai bertabur pasir putih, mendaki gunung lalu duduk terpekur menatap ke bawah lereng pengunungan. Menjelajah benua, menjelajah pulau,  perkampungan adat, perkotaan metropolitan ; hanya untuk mencari kebahagian dan kepuasan hati. Dan nilai kebahagiaan dan kedamaian itu ternyata adanya disini, di kota suci Makkah Al Muqoramah tempat rumah Allah berada. Di kala hati paling dalam menjadi sejuk dan damai dalam merasakan kasih sayangNya yang merasuk perlahan, maka kebahagiaan itu mendapati wujudnya yang sempurna. Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallah Wallahu Akbar.

Umroh Pertamaku

Umroh artinya adalah menziarahi atau mengunjungi Baitullah  atau Kabah untuk menjalankan  ibadah kepada Allah, SWT dengan melaksanakan Syarat, Rukun dan tatacara yang diwajibkan dalam ibadah umroh. Menurut syariah, ibadah umroh dapat diartikan melaksanakan ibadah tawaf di Kabah dan ibadah Sa’i di Bukit Shofa dan Bukit Marwah.

Sesungguhnya Umroh adalah ibadah fisik. Untuk itu, sebelum melakukan umroh sebaiknya kita mempersiapkan stamina sehingga mampu melewati proses umroh tersebut dengan lancar.  Banyak orang menyarankan agar  ibadah ini kita lakukan pada saat kita masih muda dan memiliki stamina dan fisik yang kuat karena jika sudah berumur atau fisik tidak fit maka ibadah ini akan menjadi sangat berat. Tapi jangan khawatir, bagi mereka-mereka yang tidak mampu secara fisik, ada tim khusus yang akan membantu ibadah kita dengan menggunakan kursi roda. Untuk fasilitas ini, kita dikenakan biaya sebesar 300 SR.

Adapun Tawaf mengelilingi Kabah dilakukan sebanyak 7 x dan setelah selesai melaksanakan tawaf langsung mengerjakan Sa’i  (7x berlari kecil) antara Bukit Shofa dan Marwah terletak sekitar 100 yard dari Ka’bah. Jarak antara Shofa dan Marwah sekitar 450 meter, sehingga perjalanan tujuh kali berjumlah kurang lebih 3,15 KM.

Sa'i antara bukit Shofa ke Bukit Marwah

Sa’i antara bukit Shofa ke Bukit Marwah

Tata Laksana Wajib Umrah dan Rukun Umroh
Wajib umroh yaitu : memulai ihram dari Miqat (tempat awal berniat yang telah ditetapkan)
Sedangkan Rukun Umroh adalah :
1.    Ihram ; mengenakan pakaian ihram setelah mandi dan berwudhu. Sholat 2 rakaat dan melakukan niat Ihram
2.    Tawaf ; mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali
3.    Sa’I : lari-lari kecil antara Bukit Shofa dan Marwah
4.    Tahallul ; tanda berakhirnya umroh dengan cara memotong sedikit rambut atau mencukur sebagian
5.    Tertib

Setelah Tahallul, maka proses Ihram berakhir

Pulang ke Hotel bersama bu Sainah (membelakangi kamera)

Join my twitter @wandraira or follow this blog and receive notifications of new posts

Categories: Updates | 15 Comments

Kota ‘Wangi’ Cologne – Germany

Cologne dan 4711

Kota Cologne, Jerman. Nama kota ini mengingatkan kita akan wewangian / Eau de Cologne. Apa ada kaitannya ? Tentu saja. Ternyata nama kota Cologne adalah kota asal diciptakannya wewangian Eau de Cologne pada tahun 1685 ketika seorang Italia bernama Johann Maria Farina menciptakan wewangian baru dan menamakannya Eau de Cologne.

Toko 4711

Di Cologne / Koln, nama merk wewangian terkenal itu bernama 4711. Dimulai pada tahun 1881 ketika Wilhelm Mülhens – pemilik hak untuk memproduksi dan mendistribusikan Eau de Cologne – memilih nomor kantornya nomor 4711, sebagai nama merek dan perusahaan. Merk 4711 masih berlanjut hingga sekarang dan identik dengan aslinya” Eau de Cologne “.

Banyak gerai parfum ditemukan di Cologne dan saya  beberapa kali menemukan etalase toko  minyak wangi 4711 yang asli di tengah kota.  Harga yang dipatok antara 1 – 100 an euro. Untuk oleh-oleh, cukuplah dibeli paket berisi 4711 mini yang satu duz nya bisa ada yang berisi 10 botol kecil dengan harga sekitar 12 euro per duz.

Fitri, pengunjung Indo ini sedang menyimak Cologne 4711

Kota Cologne

Kota Cologne lahir pada masa kerajaan Franconian pada akhir abad ke-5 Masehi sebelum diambil alih oleh orang-orang Prussia. Sebagian besar wilayah kotanya rusak akibat Perang Dunia II dan yang tersisa adalah bangunan Katedral Cologne yang tegar bergaya gothik. Ini merupakan salah satu katedral yang terbesar di daratan Eropa.

Katedral tersebut dibangun mulai tahun 1248 dan selesai pada tahun 1880. Bangunan yang memiliki relief mahkota emas bernama Magi dengan altarnya yang menjulang tinggi itu dinamai dengan ”Rumah Raja” oleh Stephan Lochner. Menaranya setinggi 157 meter dengan anak tangga sebanyak 500. Dari atap menara itu akan terlihat panorama cantik Gunung Siebengebirge.

Setiap harinya banyak sekali penduduknya yang  berlalu lalang di lapangan depan altar katedral dan sekitarnya.  Bahkan disekitaran katedral  itu dikelilingi oleh banyak pertokoan barang-barang branded terkenal seperti Louis Vuitton, Burberry,  dll.

Oh ya, jangan berkunjung di hari minggu karena pada hari ini toko-toko di Cologne dan German umumnya tutup. Berbeda dengan toko di Indonesia yang justru buka di hari Minggu, disana mereka menggunakan hari libur untuk beribadah dan berkumpul bersama keluarga. Kecuali toko souvenir dan restaurant, hampir semua toko dijamin tutup di hari libur tersebut:)

duhh…boot-boot ini begitu menantang ! sayang tokonya tutup 😦

Di depan halaman gereja, wisatawan dari berbagai bangsa berbeda berkumpul. Saat itu ada segerombolan etnis Turki yang sedang berdemo. Demo yang tertib dan damai tanpa banyak dikawal petugas keamanan.

Demo Etnis Turki di depan Kathedral berlangsung damai dan tertib

Kudapan Khas

Disuatu gerai di simpang pertokoan, kami menemukan sejenis kudapan yang terlihat unik. Karena rasa ingin tahu akan rasanya, maka kami membelinya beberapa untuk dicoba. Hmmm… ternyata cukup enak. Gurih, rasa kacang yang manis dan sedikit keras 😀

Penutup

Dan sore itu hampir beranjak semakin gelap. Dingin sekitar 5 degree membuat perut selalu merasa lapar. Mc D menjadi pilihan paling ‘aman’ karena selain terletak paling dekat dengan bus rombongan, di Mc D juga tersedia menu-menu favorit yang tidak asing dilidah 😉 . Yang patut dicatat, hampir ditiap wilayah Eropa tidak tersedia saos sambal secara bebas seperti di Indo melainkan harus membayar sekitar 0,29 euro per sachet. Jadi yang terbiasa hidup dengan sambal, bawalah secukupnya untuk persediaan kalau tidak mau makan dengan wajah datar tanpa ekspresi .. 😛

http://wp.me/P212iF-2

 

Join my twitter @wandraira or follow this blog and receive notifications of new posts

Categories: Updates | 8 Comments

Sungai Rhine, Riwayatmu Dulu …

Seperti halnya Sungai Bengawan Solo, Sungai Rhine memang mengalir sangat jauh melewati berbagai negara di Eropa. Pesonanya membuat saya tertarik untuk mencari tahu lebih dalam mengenai riwayat dari sungai yang terjaga keindahan dan kebersihannya ini.

Menyusuri Sungai Rhine

Air Sungai Rhine yang mengalir jernih itu berasal dari Pegunungan Alpen di Swiss  lalu mengalir turun setelah melewati perjalanan panjang di perbatasan negara Leichtenstein, Austria, kota-kota di Jerman (mulai dari Mainz, Bingen, Bonn, Cologne, Dusseldorf, Duisburg), Perancis, dan bermuara di Belanda, tepatnya di muara di tepi laut North Sea, dekat Rotterdam.

Karena melewati berbagai Negara itulah maka nama sungai ini menjadi sedikit berbeda penulisan sesuai Negara yang dilewati. Rhine (Perancis), Rhein (Jerman), Rijn (Belanda), dan Rhenus (nama lainnya). Sebutan yang paling populer adalah versi Perancisnya, Rhine. Nama sungai ini sebenarnya berasal dari kata ‘renos’ yang ’mengalir jauh’. Ya, sungai ini mengalir jauh, yaitu sepanjang kira-kira 820 miles (1.320 km).

Airnya bersih dan jernih meskipun digunakan oleh berbagai penduduk di berbagai negara. Hebat ya. Dan memang terbukti belum pernah terdengar protes-protes pencemaran lingkungan di sepanjang aliran sungai ini.

Pemandangan berupa perpaduan antara bangunan kastil tua abad pertengahan, lembah pertanian dengan tanaman anggur, serta jalur KA dan lalu lintas jalan raya, di samping perbukitan. Pemandangan alam yang indah dan memesona.

Kastil dipinggir sungai Rhine

Sungai ini memiliki sejarah panjang.  Pertempuran antara tentara Romawi dan Jerman di Hutan Teutoburg , Jerman yang akhirnya menyebabkan Sungai Rhein sebagai batas utara Kekaisaran Romawi. Sungai ini juga sebagai objek sejarah pada masalah perbatasan antara Perancis dan Jerman. Contohnya pada tahun 1840 krisis Rhein berkembang, dikarenakan Perdana Menteri Perancis Adolphe Thiers berbicara tentang perbatasan Rhein. Lagu Die Wacht am Rhein digubah saat itu dan selama Perang Perancis-Prusia berkembang menjadi lagu kebangsaan Jerman. Lagu itu berupa seruan untuk mempertahankan Sungai Rhein menghadapi Perancis. *

*dari berbagai sumber dan Google.

Categories: Updates | Leave a comment

Ao Dai, Baju Khas Vietnam

Warna Warni Ao Dai

Ketika tiba di Tan Son Nhat International Airport di  Ho Chi Minh (HCM), seorang wanita muda ramah yang menawarkan taksi kepada saya sudah menarik perhatian saya. Baju khas yang dikenakannya begitu indah dan sangat pas dikenakan di tubuhnya yang langsing. Belakangan baju khas itu saya ketahui bernama Ao Dai.

Ao Dai menjadi baju khas rakyat Vietnam yang bisa dan umum dikenakan diberbagai kesempatan dan keseharian. Berbeda dengan baju Nasional kita Kebaya yang saat ini hanya bisa dikenakan dan ditemui pada acara-acara khusus saja.

Ao Dai mirip dengan pakaian China Qipao. Terdiri dari gaun hampir semata kaki dengan belahan panjang dikedua sisi dan dikenakan bersamaan dengan celana panjang gombrong dari bahan sutra. Baju ini terlihat elegan, nyaman dikenakan dan bisa dikenakan dalam kegiatan sehari hari misalnya pada siswi sekolah, pekerja kantor wanita (resepsionis, sekretaris, PR, memandu wisata), penjaga toko, dll.

Sering pula dikenakan dalam berbagai peristiwa special seperti pernikahan, pesta jamuan atau bahkan ke tempat ibadah mereka. Bedanya, jika ke tempat ibadah mereka hanya mengenakan warna putih, namun warna-warni cerah dan mewah ke acara pesta. Tubuh wanita Vietnam yang rata-rata langsing, terlihat sangat pas mengenakan pakaian model seperti ini.

Indahnya pesona Ao Dai lalu menggerakkan hati saya untuk mencari bahan kain untuk pakaian tersebut untuk koleksi pribadi dan oleh-oleh. Beruntung, ketika berkunjung ke Ben Thanh Market di District 1, bahan kain Ao Dai sangat banyak dijumpai dengan berbagai variant bahan dan harga. Jangan lupa untuk menawar karena mereka mematok harga sangat jauh. Juga berusahalah tersenyum ramah dan sabar karena kebanyakan dari pedagang ini bersikap kurang bersahabat jika kita hanya menawar tanpa membeli atau sekedar melihat-lihat saja.

Ao Dai untuk Pesta

Ragam Ao Dai

Ke tempat Ibadah

Me & Auntie w/ Ao Dai style

 

Me and Au Dai Style

Categories: Updates | 20 Comments

Paris, I’m In Luv

Adalah mimpi yang terwujudkan ketika pertama kali saya berkesempatan mengunjungi Paris di suatu penghujung musim gugur yang indah. Perasaan yang membuncah kala duduk di tiap sudut kotanya yang sejuk nan romantis masih terasa hingga kini.

Tidak salah jika dikatakan bahwa Paris adalah kota budaya paling romantis sedunia. Pemerintah dan penduduknya benar-benar merawat kota dengan seksama demi menjaga kelestarian maha karya budaya yang mendunia. Dimana-mana nuansa bangunan abad pertengahan seolah mendominasi keindahan kota. Bahkan, gedung Universitas dan Perkantoran yang modern sekalipun terbalut oleh kokohnya bangunan a la tempo dulu.

Keelokan dan kemasyuran kota ini menjadi daya tarik luar biasa untuk para wisatawan mancanegara termasuk saya.  Ribuan orang berkunjung ke kota ini sepanjang tahun untuk mengunjungi beragam tempat wisata di kota Paris.

Berikut ini adalah beberapa tempat yang saya kunjungi dan juga wajib anda kunjungi jika anda berada berada di Paris ;

1. Arc de triomphe de l’Étoile (Gerbang / Gapura Kemenangan)

Arc de triomphe de l’Étoile atau biasa dikenal sebagai Arc de Triomphe adalah monumen berbentuk gapura yang berdiri di tengah area Place de l’Etoile di ujung Barat wilayah Champs-Élysées. Bangunan ini dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte dengan tujuan sebagai monumen untuk menghormati jasa tentara kebesarannya.

Arc de Triomphe

Near Arc de Triomphe

2. Menara Eiffel

Menara Eiffel  (Tour Eiffel), menara besi yang dibangun di  Champ de Marsdi tepi Sungai Seine di Paris. Menara ini telah menjadi ikon global Perancis dan salah satu struktur terkenal di dunia.

Nama Eiffel diambil dari nama perancangnya, insinyur Gustave  Eiffel.  Menara Eiffel tercatat sebagai bangunan tertinggi di Paris dan salah satu struktur terkenal di dunia dan menjadikannya sebagai monumen bertarif yang paling banyak dikunjungi di dunia. Termasuk antena setinggi 24 m, struktur bangunan ini memiliki tinggi 325 m (1.063 kaki) yang setara dengan bangunan konvensional bertingkat 81.

Eiffel I’m in luv w/ you

Jangan ke Eiffel jika anda sendirian kalau tidak ingin perasaan merana tercabik cabik karena banyak pasangan tak melewatkan kesempatan untuk berfoto romantis berdua disana. Hmmm, alhasil anda akan mengalami keadaan seperti saya. Beberapa pasangan meminta bantuan saya untuk mengabadikan momen istimewa mereka tersebut dengan latar belakang menara Eiffel. Hiks …

Wah, jika demikian adanya, lain kali akan lebih baik jika saya memasang tarif untuk jasa foto memfoto untuk mereka yang membutuhkan bantuan saya ya.. 😀

3. Musée du Louvre

Museum ini tercatat sebagai salah satu museum terbesar di dunia yang terletak di pusat Perancis yaitu diantara sungai Seine dan Rue de Rivoli. Dulunya gedung ini merupakan bekas istana bangsawan dan dibuka sebagai museum sejak tanggal 8 November 1793.

Di Museum Louvre ini kita bisa menemukan lukisan terkenal Monalisa maha karya Leonardo da Vinci serta 536 lukisan lainnya, termasuk juga berbagai karya seni rupa.

Piramida Terbalik

Terdapat  piramida kaca raksasa pada halaman museum yang berfungsi sebagai pintu masuk kedalam museum. Pengunjung akan masuk melalui piramida,  turun ke bagian lobi, lalu naik ke bangunan utama Louvre. Di pintu utama terdapat denah ruangan yang meliputi berbagai bagian dalam museum yang dapat dijelajah dengan bantuan navigasi control.

Information Centre di Louvre

Musee du Luvre akan buka di Abu dhabi!

Buku Da Vinci Code yang ditulis Dan Brown pada tahun 2003 yang kemudian difilmkan, telah membuat museum Louvre semakin dikenal ke seluruh dunia sehingga inilah yang mungkin memperbanyak jumlah pengunjungnya.

Piramida Kaca Musee de Louvre

4. Champs-Élysées

Suasana menikmati secangkir kopi di Champs-Élysées, avenue / jalan paling tersohor di kota Paris mungkin akan berbeda dengan tempat lain. Ini dikarenakan didepan cafe disepanjang jalan  tersebut kita dapat secara langsung mengamati kesibukan kota mode dunia ini. Terdapat banyak kafe, toko dan butik  mewah ternama di jalan ini.

Champs-Élysées menjadi salah satu jalan yang paling terkenal di dunia setelah Fifth Avenue di New York City. Jadi, jika anda sedang memiliki waktu yang luang, duduk di kafe-kafe sepanjang jalan Champs-Élysées merupakan satu keasyikan tersendiri. Kita bisa mengamati orang-orang yang berseliweran dengan mode fashion up to date sambil menikmati hangatnya kopi atau coklat panas. Seolah sedang berada di suatu pertunjukan Fashion Show secara live dengan wanita-wanita elok dan anggun bertubuh model yang berlenggak a la panggung catwalk.

Champs-Élysées disebut sebagai La plus belle avenue du monde “Jalan terindah di dunia”.  Namun dengan maraknya jaringan toko branded dunia yang masuk dalam beberapa tahun belakangan telah mengubah karakter asli avenue. Untuk mengurangi perubahan mencolok tersebut, pemerintah Kota Paris akhirnya memutuskan pada tahun 2007 untuk melarang jaringan toko pakaian Swedia, H&M membuka cabangnya di avenue ini.

Louis Vuitton d Champs Elysees

Zara

Pose dpn LV

Most Famous Street

Menyusuri Champs-Élysées

5. Patung Liberty di Luxembourg Jardin

Patung Liberty yang terletak di Luxembourg Jardin / garden merupakan replica Patung Liberty yang saat ini berada di New York, Amerika. Patung Liberty Luxembourg Jardin  ini dibuat Frederic Auguste Bartholdi untuk untuk mengenang pemberian Perancis tersebut.

 

Taman Luxembourg dimana patung ini diletakkan, merupakan sebuah taman luas yang dipenuhi pohom Elm yang berfungsi sebagai oksigen kota Paris. Duduk santai di taman ini dipastikan menjadi saat yang menyenangkan karena selain suasananya yang asri, udara yang kita hirup masih terasa segar.

6. Galleries la Payette

Pertama diresmikan pada tahun 1893, Galeries Lafayette Department Store di Paris yang terletak di Boulevard Hausmann merupakan situs fashion ternama. Tempat pertokoan yang terdiri dari 3 bangunan, yang salah satunya sebetulnya milik Marks & Spencer yang bangkrut dan dibeli oleh Galeries Lafayette. Bangunan dalam gedung sangat menawan, dengan kubah atas yang indah berwarna-warni.

Galleries La Fayette

Mungkin diperlukan waktu satu bulan penuh untuk dapat mengitari seluruh objek – objek indah dan bersejarah di Paris karena sangat banyak tempat indah dan bersejarah disana yang sayang terlewatkan.

Dan untuk diketahui, penduduk Perancis menggunakan bahasa Perancis untuk komunikasi sehari-hari. Jadi alangkah lebih menguntungkan dan memudahkan jika sebelum berkunjung kesana kita sudah mempelajari dan mengetahui sedikit bahasa Perancis. Orang Perancis sangat bangga dengan bahasa mereka sehingga mereka really appreciate you jika menggunakan bahasa ini untuk berkomunikasi dengan mereka.

Categories: Updates | 3 Comments

Patung Liberty di Paris Luxembourg Gardens

Liberty Enlightening the World , lebih dikenal dengan nama ‘Statue of Liberty’ atau Patung Liberty yang berdiri kokoh di America adalah hadiah persahabatan yang diberikan Perancis untuk perayaan Hari Kemerdekaan Amerika  di tahun 1886.

Patung Liberty terletak di Pulau Liberty di muara Sungai Hudson di New York, dijadikan symbol kemerdekaan dan kebebasan bangsa Amerika.

Diresmikan pada tanggal 28 Oktober 1886, patung perunggu ini dipahat oleh Frederic Auguste Bartholdi dan Gustave Eiffel  (desainer menari Eiffel) sebagai perancang struktur penyangga dalam patung.

Untuk mengenang pemberian Perancis tersebut, Frederic Auguste Bartholdi creator Patung Liberty membuat miniature patung Liberty  yang diletakkan di Paris Luxembourg Gardens.  Dengan tinggi sekitar 15 kaki, patung ini seolah menyihir kita dengan pesonanya diantara dedaunan dan pepohonan yang terletak di taman itu.

Liberty di Paris Luxembourg Gardens

Patung Liberty dan Saya 😛

Paris Luxembourg Gardens, me & Fitri

Taman Luxembourg Jardin atau Garden di buka oleh Queen Marie de Medicis, istri dari  Raja Henry IV.  Istana ini dibangunnya sebagai tiruan dari Pitti Palace yang merupakan tempat asalnya di Florence. Beliau membeli Hotel du Luxembourg atau sekarang disebut Petit-Luxembourg palace lalu mulai dibangun sebagai istana baru Ratu. Di Tahun 1612, Ratu menanam 2,000 pohon Elm dan membangun taman yang mirip dengan taman yang ada di Florence.

Pada masa rekonstruksi Paris oleh Louis Napoleon, akhirnya istana di taman ini disulap menjadi Kompleks Senat.

Kita bisa duduk-duduk santai di taman Luxembourg sambil membaca buku atau sekedar menghirup udara segar yang berasal dari pohon-pohon Elm di seputaran taman. Suasananya yang tenang, sejuk dan jauh dari hiruk pikuk keramaian Paris yang sibuk, bisa membuat kita betah berlama-lama berada disana.

Musim Gugur di Kompleks Luxembourg Gardens

détente dans le jardin

Categories: Updates | 2 Comments

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: