Konser Anti Pegida di Dresden, Jerman

Cuaca dingin extreme yang sedang melanda Eropa, tidak menyurutkan langkah sebagian penduduk Dresden dan sekitarnya untuk menanti konser Offen und Bunt, Dresden für Alle  yang berlangsung di samping kanan bagian depan gedung melegenda Theatreplatz pada tanggal 28 maret 2015 yang lalu di Dresden, Jerman. Aksi Offen und Bunt für Weltoffenheit und Toleranz di Dresden ini adalah event kedua setelah acara sebelumnya yang berlangsung sukses di tanggal 26 Januari 2015.

konzert

Offen und Bunt pertama di tanggal 26 januari 2015, menyedot banyak penonton pendukung Anti Pegida

Sumber foto : t-online, 27-01-2015

Arti Offen und Bunt für Weltoffenheit und Toleranz itu sendiri adalah Terbuka dan Berwarna warni (Open and Colorful) untuk keterbukaan dan toleransi. Disini maksudnya adalah keterbukaan dan toleransi melawan xenophobia – rasa takut akan bangsa lain- dan rasisme. Acara yang digagas dengan tujuan untuk mempertahankan kota Dresden sebagai kota yang damai dan anti diskriminasi tersebut saat diadakan pertama kali berlangsung sangat meriah dan diikuti oleh ratusan seniman kelas atas Jerman dan dihadiri dengan minat positif  oleh sekitar 25.000 orang yang berdatangan dari seluruh Jerman bahkan dari luar negeri. Acara ini juga disiarkan secara langsung oleh TV-TV  lokal Jerman sampai dengan berakhirnya acara.

dresden5

Siang hari saat Persiapan Acara Konser Akbar Offen und Bunt ke 2

dresden3

für Weltoffenheit und Toleranz ; keterbukaan dan toleransi melawan xenophobia dan rasisme

Diadakan di Dresden karena di kota inilah dimana pertama kali Pegida lahir dan tumbuh berkembang di negara Jerman dan sekitarnya. Pegida : Patriotische Europäer Gegen die Islamisierung des Abendlandes – Warga Patriotik Eropa Melawan Islamisasi di Barat, awalnya lahir didasari oleh rasa kekhawatiran dari minoritas penduduk Jerman atas perkembangan Islam di Eropa yang semakin meluas khususnya di Jerman itu sendiri. Mereka membentuk Pegida sebagai bentuk proteksi dan untuk mempersempit dan menghambat pertumbuhan Islam di tempat dimana mereka tinggal dan bermasyarakat. Mereka menganggap bahwa  pengaruh Islam kian kental di negara-negara Eropa mengikis identitas budaya setempat. Di Inggris, kelompok ini mirip dengan kelompok English Defence League (EDL). Para pengamat mengatakan, kelompok ini menyuburkan paham rasisme, tidak ubahnya Nazi di Perang Dunia II. Sebagian menganggap bahwa aksi protest tersebut sebagai bentuk penyampaian rasa trauma masa lampau akan kejayaan Islam yang pernah menguasai Eropa. Sejumlah kelompok-kelompok kecil sejenis Pegida mulai menjamur di wilayah barat Jerman namun belum mampu menarik banyak pengikut setelah lahirnya Pegida di Dresden, Kota di wilayah Jerman (dulunya Jerman Timur). kelompok sejenis juga pernah melakukan aksi di beberapa kota di wilayah barat seperti di Bonn, Kassel dan Wuerzburg namun mendapat pendukung yang hanya sedikit, tidak sebanding dengan massa tandingan (Anti Pegida) yang berjumlah puluhan ribu orang dari seluruh negeri. Lutz Bachmann, pendiri kelompok ini dianggap bertanggung jawab atas serangkaian tindak kekerasan terhadap kaum pendatang muslim dan tindakannya sangat dikecam oleh Kanselir Jerman Angela Merkel.

dresden7

Theatreplatz, gedung yang sering digunakan untuk berbagai kegiatan di Dresden

Acara super berkelas ini diisi secara sukarela oleh berbagai seniman kalangan atas seperti ; Herbert Grönemeyer, Wolfgang Niedecken, Sarah Connor, Silly, Keimzeit, Toni Krahl, Sebastian Krumbiegel, Banda Comunale, Yellow Umbrella, Christian Friedel and Woods Of Birnam, Jupiter Jones, Jeanette Biedermann, Ewig, Marquess, Heinrich-Schütz-Konservatorium und der Motettenchor, Klazz Brothers and Cuba Percussion, Adel Tawil and Tichina Vaughn dan lain-lain.
Dalam slogan Offen und Bunt – Dresden fur Alle ; Open and Colorful – Dresden for all, Konser Anti Pegida yang diadakan dan berlangsung justru di kota lahirnya Pegida itu sendiri dengan harapan negara Jerman dan sekitarnya bisa menjadi lebih tenang dan berangsur kembali damai dalam menghadapi gejolak dan issu-issu diskriminasi kaum pendatang sehingga tercipta kedamaian dan ketenangan untuk penduduk Dresden dan juga keseluruhan Jerman.

“Kami masih memiliki ruang untuk banyak orang dari berbagai warna kulit, etnis, dan bahasa,” kata Dieter Reiter, Wali Kota Muenchen. “Kami juga masih memiliki ruang untuk semua agama dan kepercayaan. Mereka bisa pergi masjid pada hari Jumat, ke sinagoge pada Sabtu, dan ke gereja pada Minggu. Namun, kami juga memberikan ruang bagi mereka yang hanya ingin diam di rumah,” lanjut Reiter. ==== Wandra Aira ** Artikel diolah dari berbagai sumber dan beberapa interview kecil kepada penduduk Dresden, langsung di area Zwinger Palace, Dresden – Jerman. dresden6 Foto-foto gedung dan suasana indah sekitar gedung Theaterplatz Dresden : * Dokumentasi Penulis. dresden1 dresden2 dresden8 dresden4 DSC00228IMG_20150329_073148 IMG-20150404-WA0004

Categories: Updates | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: