Ada NamaMu di Cordoba

Perasaan campur aduk membuat langkah saya di Kota Cordoba seperti masih di awang-awang pada kunjungan utama ke Masjid Mesquita yang fenomenal dengan sejarahnya yang mengharukan. Di tempat yang dulunya terkenal sebagai masjid besar nan indah dengan teknik pembangunan yang modern dan  sempurna sejak didirikannya berabad – abad yang lalu.

Kali ini saya tak akan banyak menulis mengenai sejarah Mezquita dan bagaimana sebuah Masjid berubah menjadi Kathedral Agung. Mezquita mungkin sudah makin menjadi popular sejak Hanum Rais menuliskan sebagian kisah mengenai Mezquita dalam bukunya yang berjudul 99 Cahaya di Langit Eropa.
Di buku itu memang diulas dengan gamblang mengenai sejarah Mesquita yang megharu biru  dan sukses membuat rasa penasaran yang mendalam bagi sebagian pembacanya. Termasuk saya.

mesquita di kejauhan

Namun sebenarnya,  jauh sebelum buku tersebut saya baca, pesona Andalucia yang sohor juga membuat kota-kota di Andalucia menjadi tempat ‘must to go‘ yang saya listing untuk dikunjungi dan  menjadi semakin antusias untuk segera ke Cordoba di saat kesempatan mengunjungi Spanyol telah saya dapatkan.

Tak akan disia-siakan untuk segera melihat secara langsung bukti sejarah masa lampau di Andalucia dan berharap dapat banyak belajar dari ‘kesalahan’ masa lampau. Memetik banyak hikmah yang dibawa oleh sejarah bahwa hidup damai dengan sesama umat itu adalah hal yang sangat penting dan tidak dapat dibayarkan dengan hanya sebidang kekuasaan.

Hasrat untuk segera menjejakkan kaki di  Mezquita yang sebegitu besarnya semakin bertambah ketika kaki baru menjejak ke tanah seturunnya dari bis yang membawa saya dan beberapa kawan menuju kawasan Mezquita di Cordoba.

Kami ternyata harus berjalan kaki dahulu melewati tanggul air dan kincir tua -sangat tua – peninggalan kaum Mooris yang terletak di sungai Al-Wadi Al-Kabir atau disebut Guadalquivir dalam bahasa Spanyol.

Setelah meyeberang jalan dari arah sungai yang terbentang luas, tampaklah pintu gerbang Mezquita yang kokoh dan agung, dibangun dimasa Khalifah Muslim Abdurahman I pada tahun 787.

kincir

cordoba river

Tiba-tiba,  langkah-langkahku menjadi gamang… lesu dan tanpa tenaga. Entah karena sarapan yang kurang memadai -omelet/orak arik telur yang tidak terlalu matang, yang bersisian dengan seonggok alias senampan Bacon😦 – atau karena latar belakang sejarah Cordoba yang telah terlebih dahulu kubaca sebelum keberangkatan. Sejarah yang perih, pilu dan menusuk sampai ke ulu hati.

Di beberapa saat setelah melewati pintu gerbang masuk berukuran raksasa menuju wilayah Mezquita yang maha luas, sebuah bangunan khas rumah Spanyol a la telenovela jadul membuat banyak pengunjung menghentikan langkah mereka untuk pose sejenak.

cordoba 1

Rumah a la Spanyol di dalam kawasan Mesquita

Rumah a la Spanyol di dalam kawasan Mesquita

Lalu melanjutkan langkah yang berat menuju halaman Mezquita untuk bertemu dengan Maria, wanita paruh baya berkebangsaan Spanyol yang membantu kami menterjemah dalam bahasa Inggris.

DI awal pertemuan ini Maria langsung mengajak kami ke halaman Mezquita  dan dengan bahasa Inggris berlogat Spanyol menjelaskan detail peta pembangunan masjid yang dimulai dari masa lampau.

Tempat kami berdiri bersama Maria berada dibawah bekas minaret indah Masjid yang telah berubah menjadi menara Kathedral tempat lonceng dibunyikan.

cordoba 9

Di deru angin kencang di musim semi yang masih dingin menusuk, Maria mengajak kami mengitari Mezquita menuju gang kecil yang sohor karena semua rumah disana yang dipenuhi hiasan pot dengan bunga aneka warna di tiap musim semi.

Suasana menjadi syahdu diantara lantunan musik Instrument Greensleeves yang dipetik dengan sungguh-sungguh oleh seorang bapak yang duduk mengamen di depan toko Souvenir. Sesyahdu kenangan masa lampau, segetir sejarah…sedingin hembusan angin yang terasa menusuk tulang.

cordoba 5

cordoba17

Di tempat penuh warna bunga ini, ternyata banyak penjual souvenir khas Cordoba yang beraneka macam. Rata-rata adalah hiasan cantik dari tegel atau keramik yang dihias cantik sedemikian rupa.

cordoba 7

cordoba 6

Masih dalam kebisuan dan sedikit gairah seolah nyawa hanya separuh, saya mengikuti langkah Maria yang ternyata berbalik ke arah Mesquita melalui jalan-jalan setapak berdasar bahan semacam paving blok yang keras dan berwarna coklat tua.

Konon di jalan inilah banyak bermukim warga yang dulunya beragama muslim dan terpaksa atau dipaksa berganti keyakinan dalam tekanan pihak kerajaan dibawah kepimpinan Ratu Isabelle di masa pendudukan Andalusia.

belakang mesquita

Saya mungkin kehabisan kata. Di foto-foto berikut, semoga bisa merefleksikan sebagian apa yang saya rasakan ketika mulai masuk kedalam Mesquita. Ukiran-ukiran khas Islam senada Masjid Nabawi di Madinah yang memang ternyata mengambil inspirasi ukiran dari Mesquita. Pahatan nama Allah dalam bahasa Arab dibanyak tempat, Mashab yang masih tersisa di posisi semula, dinginnya dinding dan tiang pualam yang pucat, bekas minaret yang menjadi menara lonceng … pun taman dan kolam yang dingin dan diam.

cordoba 8

cordoba 12

Mashab

cordoba15

cordoba14

cordoba16

Minaret Masjid yang menjadi Menara tempat lonceng Gereja

Categories: Updates | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Ada NamaMu di Cordoba

  1. Wiiih….keren banget mbak foto2nya, jarang liat tulisan tentang Cordoba soalnya. Menarik🙂

  2. Pinter narasinya nih, saya jadi “touching”, sedihnya umat Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: