Alexandria, Kisah Kudeta Raja Istana Montaza

Kemasyuran kota Alexandria yang menjadi kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo ini membuat langkah kaki menuju kota tersebut pada hari itu menjadi sangat ringan dan riang. Ditempuh dengan perjalanan sejauh kurang lebih 3 jam dari Kairo, berangkat setelah sarapan kami tiba di Alexandria pada pukul 10.30 pagi.

Kota ini merupakan kota pelabuhan terbesar di Mesir karena letaknya yang berada di pinggir laut Mediterania. Oleh karena pantai-pantainya yang indah itu pula, banyak wisatawan menghabiskan waktu musim panas untuk berlibur disana.

Sejak di awal masuk kota Alexandria, kota ini terlihat lebih rapi tertata dan bersih dibandingkan dengan Kairo. Nuansa bangunan khas Eropa yang berwarna putih gading dan kecoklatan juga banyak mendominasi  sepanjang perjalanan dalam kota. Usut-usut,  ternyata  nuansa  ini dibawa oleh bangsa Perancis pada saat Napoleon Bonaparte melakukan lawatan ke Mesir diakhir abad 17.

Di kunjungan ke Alexandria ini, kisah Raja Farouk yang digulingkan oleh kudeta dan istana Montaza yang tersohor menjadi antusiasme dominan bagi saya. Namun selain tempat tersebut ada beberapa tempat yang pastinya tidak akan kami lewatkan yaitu ke Pompeys Pillar dan Citadel Qaitbay Fort.

DSC02880

Itinerary pertama, kami berkunjung ke Pompeys pillar ( Amoud Al- Sawari), pilar raksasa peninggalan Romawi kuno yang dulunya dipakai sebagai tempat peribadatan bangsa Romawi.

Walaupun sebenarnya badan ini masih terasa lemah karena sisa kantuk dan jetlag perjalanan yang dilakukan sebelumnya menuju Mesir, tiket 15 pounds yang telah kami pegang sepertinya harus menyamangati langkah-langkah kami untuk menuju gerbang masuk area Pompeys pillar. Saya akhirnya cukup menyaksikan pillar tersebut dari kejauhan karena saat itu debu berterbangan ditiup angin yang berhembus kencang.

DSC02862

Pompeys Pillar

Sayup-sayup Ahmed, TL kami menjelaskan Pompeys dengan detail. Dasar otak saya lagi blank dan ngantuk, yang terdengar seperti nyanyian dosen pada saat kuliah. Membuat saya  yang sudah terduduk bersandar di tembok beralas marmer yang dingin menjadi terlena, setengah hilang sadar alias ‘fly away’. Maaf ya Ahmed …😛

pompeys

Pompeys Pillar dari kejauhan

Sesaat sebelum kunjungan di pompeys tersebut berakhir, saya menyempatkan membeli beberapa pernik oleh-oleh di beberapa toko di area Pompeys. Aneka magnet kulkas, gantungan kunci dan pernik-pernik mungil lain khas Pompeys dijual dengan kisaran harga 20 – 30 EGP (Eqyptian Pounds).

Sempat bertemu pula di area pintu keluar dengan grup yang berasal dari China. Mereka mengucapkan salam kepada saya yang kedapatan sedang memperhatikan mereka sejak dari pintu masuk. Subhanallah, mereka yang terlihat begitu santun dengan baju muslim yang mereka kenakan itu juga menyapa saya dengan anggukan dan senyum ramah. Ketika saya mengajak mereka berbicara, mereka membalas dalam bahasa China dan gerakan isyarat yang menyatakan bahwa mereka tidak berbahasa Inggris.  Ya mungkin juga mereka sebagaimana anggota grup saya juga diajarkan untuk tidak sembarangan berbicara dengan orang asing untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. It’s okey, keramahan kalian sudah cukup membuat kesan mendalam🙂

Berikutnya, kami meluncur ke satu situs lain bernama Citadel Qait Bay. Bangunan  pertahanan yang didirikan Sultan Qaitbay Al Zahiry pada tahun 1468 – 1496 M ini dimaksudkan sebagai benteng untuk menghadang gempuran pasukan Turki, Dinasti Usmani. Bangunan ini terletak di pinggir laut, kokoh berdiri menantang ombak.

Bau amis laut tercium sayup-sayup ketika kami menyempatkan untuk photo stop di tempat ini. Pengunjung yang terlihat seperti penduduk asli terlihat ramai bercengkrama di pinggiran tembok sepanjang pantai sekitar benteng.

qaitbay

Benteng Qaitbay Fort

DSC02873

Kereta kuda depan Qaitbay Fort

Hari  semakin siang dan menjadi terik. Perut sudah terasa lapar ketika saat yang bersamaan, Ahmed mengajak kami untuk makan siang di sebuah resto dengan hidangan khas Mesir. Katanya, kali ini kita akan makan siang dengan  ikan segar ! Hmmm, jadi teringat pengalaman makan ikan di resto di pinggir teluk menuju Canakalle, Turki. Bau ikan yang khas masih benar-benar terasa,  baca : masih amis. 😛. Berakhir dengan jackpot setiba di Canakalle dikarenakan saya tidak makan ikan dan santapan. Untuk itu, sebelum masuk resto di pinggir laut mediterania itu saya berdoa sungguh sungguh dalam hati, semoga ikan yang saya makan tidak amis dan menguras isi perutku lagi.

Syukurlah, ternyata hidangan ikan yang disajikan lumayan enak. Ada asinan yang super asin sebagai makanan pembuka, roti arab, lalu ikan sejenis Sarden segar yang di goreng dan disajikan bersamaan dengan nasi merah sebagai makanan utama. Saya habiskan seluruh makanan saya. Disamping lapar, saya juga tidak mau pengalaman jackpot dan masuk angin terulang kembali di perjalanan kali ini. Terimakasih untuk mbak Ratna yang memberi saya dan Aurel saos sambal asli  botol yang dibawanya dari Indonesia. Makannya jadi tambah semangat🙂

DSC02879

Kelar makan siang yang lumayan tadi, perjalanan kami lanjutkan ke istana Raja Farouk dan Taman Montaza. Wilayah  seluas sekitar 155 hektare ini pernah ditinggali sebagai kediaman Raja Farouk yang merupakan keturunan terakhir dari Dinasti Muhammad Ali yang menjadi penguasa Mesir sejak abad ke-19. Raja ini ternyata dalam sejarahnya adalah raja yang suka berfoya-foya dan menjadi tidak disukai rakyatnya sehingga digulingkan lewat kudeta militer. Konon, dimasa sulit perang dunia II dimana sebagian rakyatnya hidup dengan keprihatinan, raja Farouk tetap gemar hidup dalam kemewahan. Dia bahkan meminta agar seluruh lampu istananya dinyalakan terang menderang ketika seluruh rakyatnya diminta untuk memadamkan lampu dengan alasan efisiensi.

Kudeta yang dilakukan oleh Gamal Abdul Nasser ini  merubah sejarah kepemimpinan sistem kerajaan Mesir menjadi sistem republik dimana Gamal Abdul Nasser lalu menjadi pemimpin selanjutnya di Mesir. Raja Farouk  lalu hidup dalam pengasingan di Monaco dan kabarnya meninggal ketika berada di jamuan makan di Italia.

486759_4839602788197_1436548635_n

Sejak saat itu, istana ini dipergunakan sebagai tempat menjamu tamu-tamu kenegaraan dikarenakan letaknya yang strategis di tepi pantai Mediterania. Taman Montaza yang ditanami berbagai bunga dan tumbuhan cantik nampak indah terhampar di depan istana.

DSC02890

DSC02893

Fose berlatar belakang laut Mediterania

Categories: Updates | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: