Kuin Floating Market dan Pulau Kembang

Minggu pagi – pagi sekali sekitar pukul 5, saya dan dua orang teman saya – Rima dan Loly – mewujudkan keinginan terpendam kami untuk mengunjungi Pasar Terapung di Kalimantan Selatan.  Pasar terapung ini adalah pasar tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin, Banjarmasin, Kalsel. Pasar yang unik karena para pedagang dan pembeli menggunakan Jukung, sebutan perahu kecil dalam bahasa Banjar. Pasar ini dimulai Subuh sekitar pukul 4 pagi sampai sedikit demi sedikit bubar pada selepas pukul tujuh pagi.

Sunday morning – early morn at around 5, me  and my two friends – Rima and Loly – actualized our latent desire to visit the Floating Market in South Kalimantan. This floating market is a traditional market on the river at the mouth of the river Barito Kuin, Banjarmasin, South Kalimantan. A unique market as traders and buyers using ‘Jukung’, a’ small boat in Banjar. This market started about 4 am and dawn gradually broke up after seven o’clock in the morning.

Dermaga Penyewaan Perahu

Di pasar unik yang mirip dengan pasar terapung di Negara lain yaitu Mekong Floating Market di Vietnam dan Damnoen Saduak Floating Market di Thailand, kita bisa mendapatkan sayur mayur,buah-buahan sampai perabot rumah tangga yang dijual diatas Jukung. Bahkan jika kita ingin mencoba makan diatas perahu, terdapat perahu motor yang berfungsi seperti warung. Menyediakan aneka makanan khas banjar yang menggugah selera seperti Soto Banjar dan aneka kue-kue traditional khas.

In this unique market which is similar to the other floating markets in other countries, namely Mekong Floating Market in Vietnam and Damnoen Saduak Floating Market Thailand, we can get vegetables, fruits, to home furnishings are sold above Jukung. Even if we want to try to eat on the boat, there is a boat that works like a stall. Provides a variety of specialties appetite like  Soto Banjar and various typical traditional pastries and cakes.

Berjualan diatas Jukung

Untuk mencapai pasar ini tidaklah sulit. Kami menggunakan fasilitas mobil hotel untuk mencapai arah muara sungai Kuin, dermaga tempat berlabuhnya klotok atau perahu motor untuk menuju pasar terapung. Di dermaga tersebut kita bisa menyewa Jukung / perahu dengan tarif normal Rp. 60.000,- . Namun di hari Minggu kita akan sulit sekali mendapatkan tarif normal karena sudah banyak calo-calo nakal yang akan meminta tarif berlipat-lipat. Kami bahkan terkaget-kaget ketika ditawarkan tarif gila-gilaan yaitu sebesar Rp. 250.000,- untuk satu Jukung. Alhasil, setelah perjuangan alot dengan mencari ke dermaga sekitarnya, meskipun sedikit kecewa tapi mengingat hari sudah beranjak dari subuh maka kami pun menyepakati harga yang sedikit layak yaitu Rp. 150.000,-. Kondisi ini mungkin salah satu faktor yang membuat para turis sedikit jera.

It’s not difficult to reach this market. We used the hotel car facility to reach the mouth of the river Kuin, where Klotoks – boat with machines- anchor on the dock to get to the floating market. On the dock we could hire Klotok boat with a normal rate of Rp. 60.000, -. But on Sunday it will be hard to get a normal rate because it has a lot of rogue brokers who will ask for rate many times over. We were even surprised when they offered outrageous rates of Rp. 250.000, – for one Klotok. As a result, after a tough struggle with finding the nearby dock,  although a little disappointed but considering it was moved from the morning so we agreed on a few decent price of Rp. 150.000, -. This condition may be as one factor that makes the tourists a little deterrent.

Sewa Kelotok kudu hati-hati. Banyak calo nakal termasuk 3 wanita ini😛
Be careful if you hire Klotok. To many naughty brokers, including these 3 women.😛

Photo taken by : Mr. Hendy

 

Kini kondisi pasar terapung Kuin sedikit mengkhawatirkan karena dipastikan menyusul punah berganti dengan pasar darat. Banyak wisatawan yang berkunjung ke Kuin harus menelan kekecewaan karena tidak menjumpai adanya geliat eksotisme pasar di atas air.
Kepunahan pasar tradisional di kota yang terkenal dengan nama kota ‘Seribu Sungai’  ini dipicu oleh arus modernisasi budaya darat serta ditunjang dengan pembangunan daerah yang selalu berorientasi kedaratan. Jalur-jalur sungai dan kanal musnah tergantikan dengan kemudahan jalan darat. Masyarakat yang dulu banyak memiliki jukung, sekarang telah bangga memiliki sepeda motor atau bahkan mobil.

In the present, the conditions of the Kuin market has a little problem that is caused of certainly extinct following a natural  changes to the land market. Many tourists visiting Kuin sometimes feel disappointed of not finding a market exoticism stretching over the water.
The extinction of the traditional market in town with the other famous name of the city’s ‘Thousand Rivers’ was triggered by the current land of cultural modernization and supported by regional development that is always ‘land oriented’. River channels and canals almost gone and they are replaced by the easily roads. Boat communities that have had a lot of boats, is now proud to have a motorcycle or even a car.

Aktifitas Pasar Terapung
Photo taken by : Wandra Aira

Santai diatas Jukung Motor.
Photo taken by ; Mr. hendy

Geliat pariwisata ini bisa saja dibangkitkan dengan cara mengadakan lomba Jukung, lomba hias Jukung atau lebih ekstrim lagi yaitu dengan subsidi ke pedagang-pedagang Jukung. Cara-cara ini mungkin tidak alamiah namun bisa menjadi cara yang lumayan efektif untuk kembali meningkatkan kuantiti Jukung sehingga pasar terapung kembali menjadi ramai dan menarik minat para wisatawan lokal maupun internasional.

Tourism enhancement could be raised by holding Jukung race, ornamental Jukung tournament or the more extreme is to subsidy the traders Jukung. These methods may not be natural but it can be a fairly effective way to increase the quantity Jukung back into a bustling floating markets and attract local and international tourists.

Indahnya disapa matahari pagi …

Depan Dermaga Kuin bersama ibu penjual bunga sekar. Komplek Makam Sultan Suriansyah.

Hari telah beranjak  jam 8 pagi ketika Jukung kembali meluncur kearah Pulau Kembang yang terletak sekitar 15 menit perjalanan dari Pasar Terapung. Pulau Kembang adalah terletak di tengah sungai Barito kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala, provinsi Kalimantan Selatan.Di dalam pulau ini  terdapat habitat kera ekor panjang /monyet dan beberapa jenis burung.

Day has moved to 8 am when the Jukung sailed to Flower Island where is located about 15 minutes trip from Floating Market. Flower Island is located in the middle of the river district Barito Alalak, Barito Kuala district, province of Kalimantan Selatan. In this island there is a long-tailed macaque habitat / monkeys and several species of birds.

Dermaga Pulau Kembang. Di pulau ini banyak habitat monyet yang jinak.

Monyet di pulau ini terkenal jinak dan nakal. Hati-hati jika membawa makanan karena belum sampai di ujung dermaga dan tali belum tertambat pun, mereka akan siap menyerbu pisang atau makanan lain.

Monkeys on this island are tame and mischievous. Be careful if you bring food because even the boat has not reached the end of the dock and the rope has still not tied yet, they will be ready to invade banana or other foods.

Monyet Pulau Kembang sedang pesta pisang

Sungguh menghibur menyaksikan polah mereka yang lucu dan polos. Walaupun kita harus tetap waspada karena mereka adakalanya merampas bando, ikat rambut atau bahkan tas jinjing yang kita bawa. Wah, seperti copet saja.😀

It was entertaining to watch those cute and innocent monkey.  We must remain vigilant because they sometimes seize headbands, hair tie or even a tote bag that we carry. Well, they just like a pickpocket. : D

Yang ini bukan bagian dari habitat..tapi kelakuan mirip2 lah. masa makan pisang kulitnya gak dibuang.. ha3.😛

Legenda Pulau Kembang

Dulu kala, Muara Kuin berdiri sebuah Kerajaan. Dalam kisah yang diturunkan secara temurun dikisahkan bahwa di kerajaan tersebut ada seorang patih sakti gagah berani bernama Datu Pujung. Lalu suatu ketika datang sebuah kapal Inggeris dengan membawa penumpang atau awak kapal yang kebanyakan orang Cina yang diketahui ingin tinggal dan menguasai kerajaan Kuin. Tentu saja mereka akhirnya harus berhadapan dengan Patih Datu Pujung. Datu Pujung lalu memberi syarat bahwa jika ingin ingin mengusai kerajaan Kuin harus dapat melewati ujian yaitu bisa membelah kayu besar tanpa alat atau senjata. Tentu saja persyaratan dari Datu Pujung ini tidak dapat mereka penuhi, namun sebaliknya Datu Pujung memperlihatkan kesaktiannya dan dengan mudah membelah kayu besar itu tanpa alat. Lalu Patih tersebut meminta mereka untuk membatalkan niat menguasai kerajaan Kuin dan kembali ke negeri asalnya. Karena mereka bersikeras ingin tinggal menetap dan menguasai kerajaan Kuin, akhirnya Datu Pujung dengan kesaktiannya menenggelamkan kapal beserta seluruh penumpang yang ada di dalamnya.

Alhasil lama kelamaan bangkai kapal yang ada dipermukaan air itu menghalangi setiap batang kayu yang hanyut. Dari hari ke hari semakin bertumpuk kayu-kayu yang tersangkut dan kemudian tumbuh pepohonan yang menjadi sebuah pulau di tengah sungai. Pada pulau yang ditumbuhi pepohonan ini telah pula dihinggapi oleh burung-burung dan bersarang di sana.

Dan cerita tentang tenggelamnya kapal dengan para penumpangnya yang kebanyakan etnis Cina tersebut menyebar dari mulut ke mulut dan waktu ke waktu. Para keturunan Cina akhirnya banyak yang mengunjungi pulau tersebut untuk mengenang dan memberikan bunga sebagai wujud penghormatan mereka. Dan dulu setiap orang yang berkunjung ke sana membawa sejumlah untaian kambang (bunga) yang semakin lama bertumpuk semakin banyak. Oleh karena itulah mereka yang melintas lalu kemudian menyebutnya sebagai Pulau Kembang.

#Kisah legenda diambil dari berbagai sumber. Google, juga kisah dari mulut Acil* Saprah dan Acil Loly.

*Acil : bibi / tante

Categories: Updates | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: