A Journey to A Holy Land

Perjalanan Tak Terduga

Sepertinya deretan kata-kata penjelasan tak akan cukup untuk menggambarkan detail awal mengenai asal terwujudnya keinginan untuk melakukan perjalanan suci yang saya lakukan. Keinginan untuk umroh pertama ini  timbul dengan sendirinya dan menjadi sangat menggebu-gebu di saat yang juga tiba-tiba.

Sesungguhnya, saya adalah orang yang sangat well prepared untuk tiap detail journey yang akan saya lakukan. Setiap perjalanan saya biasanya direncanakan jauh-jauh hari dengan persiapan yang begitu matang dan terencana. Namun tidak untuk kali ini karena waktu antara merencanakan dan mengambil keputusan perjalanan ini hanya berjarak dua minggu sampai dengan hari H keberangkatan !
Semua pertanyaan mengapa itu juga menjadi pertanyaan dalam hati kecil saya yang lalu kemudian terjawab satu persatu di sepanjang perjalanan tersebut.

Dihari keberangkatan itu, siang tak terasa sudah merambat ke sore. Saat yang cukup menegangkan saat menunggu para anggota rombongan. Saya termasuk sebagian dari anggota rombongan yang datang disaat-saat terakhir, melewati jam awal pertemuan di bandara yang telah disepakati. Bukan karena saya molor, saya sudah berada di airport sekitar satu jam setengah lebih awal dari jam pertemuan, namun karena saya menanti di Gate yang salah. Mereka memang menuliskan jam dan tempat pertemuan dengan jelas di lembar itinerary yang telah mereka bagikan ; Jam 14.30, Depan toko Donat Terminal 2D.  Saya menanti sekitar satu jam lamanya (di toko Donat yang dimaksud tapi ternyata di Gate yang berbeda).  Waktu menjadi tak terasa karena saya sibuk membaca panduan umroh hasil browsing. Akhirnya seorang panitia mengenali saya dari Batik Khas seragam yang saya kenakan. Ibu ini – yang ternyata adalah pemilik Travel- lalu mengajak saya bergegas menuju terminal 2D.


Alih-alih saya yang mengenali mereka satu persatu, akhirnya saya yang sedikit agak terlambat menjadi pusat perhatian mereka. No problem, mungkin dengan begitu mereka akan gampang mengingat saya😛.

Satu demi satu saya berjabat tangan dengan mereka sampai kemudian tangan saya berjabat dengan wanita yang lebih muda usianya yang akan menjadi teman sekamar saya. Namanya Yud. Tinggal di Tangerang. Di buku panduan yang diberikan, saya lihat teman sekamar saya adalah Yud, Ibu Sainah dan Ibu Tati.  Kesempatan untuk bertemu mereka semua terjadi ketika kami akan mengantri untuk cek immigrasi. Ibu Tati ternyata pergi bersama anaknya yang juga menjadi mahram saya dan Yud. Lalu ibu Sainah, ternyata seorang wanita berumur yang sedikit tertatih kesulitan berjalan karena sakit asam urat yang dideritanya. Satu-satu saya mengamati calon teman sekamar saya ini dengan seksama namun tak kentara. Pelan-pelan berusaha mempelajari watak mereka yang mungkin tersirat dari raut wajah dan tiap perkataan mereka sampai akhirnya tiba saat keberangkatan kami.

Setelah Miqat  dan menuju Makkah


Miqat adalah adalah batas bagi dimulainya ibadah haji (batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji perlu mengenakan kain ihram dan memasang niat. Miqat digunakan dalam melaksanakan ibadah haji dan umrah. Sumber : Wikipedia Bahasa Indonesia.

Miqat dilakukan diatas pesawat sebelum tiba di Jeddah, tepatnya ketika melintasi Yalamlam. Namun ada sebagian yang melaksanakan Miqat ketika tiba di Jeddah.  Tata cara Miqat memang sudah saya baca sekilas di cetakan hasil browsing saya. Namun karena saya tidak pernah mengikuti manasik samasekali maka detail Miqat baru saya ketahui saat akan benar-benar melakukan proses Miqat.

Saat kita mulai berniat umroh – dimulai saat kita telah mengenakan baju dan berwudhu untuk melaksanakan umroh. Namun beberapa larangan akan mulai berlaku pada saat niat umroh sudah diucapkan, diantaranya ; dilarang menggunting kuku atau rambut bahkan rambutpun jangan sampai terjatuh. Dilarang mengenakan wewangian (sabun,parfum, tissue wangi), dilarang membunuh binatang dan memetik dedauanan atau merusak pepohonan, berkata kotor, nikah atau menikahkan, berhubungan suami istri. jika salah satu diantara larangan itu dilanggar, maka kita wajib membayar Dam atau denda yang disetorkan ke masjid.

Setelah beberapa jam beristirahat di Hotel Jeddah setibanya dari bandara, bis yang membawa kami beranjak menuju kota Makkah untuk pelaksanaan umroh di Masjidil Haram. Niat untuk umroh dibacakan dan diniatkan bersama-sama didalam bis yang melaju ketempat tujuan kami. (Detail mengenai urutan Ihram dan tatacara akan ada dalam title lain web ini.Tks.)

Pemandangan yang terlihat  di kiri kanan sepanjang perjalanan sungguh kering, tandus dan gersang tanpa warna hijau dengan hawa yang sangat terik (berkisar 40 derajat Celcius). Yud sibuk mendokumentasikan pemandangan tandus itu. Tingkahnya yang sibuk menggunakan kamera pocket untuk mengabadikan pemandangan itu membuat saya tersenyum kecil .

Saya sudah setengah tertidur ketika Yud berteriak kecil memanggil saya. “Mbaak.. lihat, bagus yaa pemandangannya..” . Pandangan mata saya bergegas mencari arah objek yang dimaksud Yud. Dan teernyata yang dimaksud Yud adalah gunung terjal bebatuan kecoklatan muda. Tetap tandus dan gersang ! Oh Yud, please .. itu bukan indah, itu gersang sayang. Indah itu adalah pengunungan Alpen. Batin saya dalam hati.

Kecongkakan saya belum berakhir kala Yud kembali setengah berteriak menunjukkan rumah-rumah yang tersusun diantara bebatuan gunung.  Yud, indah itu adalah rumah-rumah di desa Giethoorn*, batin saya lagi. Ya Allah, ampuni keangkuhan saya, tapi sungguh, saat itu dalam hati saya sebuah bertanyaan bertumbuh sangat subur. Why ? kenapa di tempat gersang nan kering tanpa pesona hijau ini, jutaan umat datang tiap harinya di suatu titik focus. Oh please give me a perfect answer.

Dalam himpitan pertanyaan itu, bis yang melaju akhirnya tiba di parkiran basement zam tower tempat sebagian dari kami menginap. Rombongan memang terbagi dua. Satu rombongan di Zam Tower dan rombongan saya di Hotel Nawazi. Kami beringsut naik melewati lift ke lantai atas kearah dimana Masjidil Haram berada setelah melewati Zam Tower. Masih dengan perasaan datar, saya ikut melaksanakan sholat Zuhur berjamaah di Masjidil Haram. Bangunan masjid ini sangat luas, indah dan agung. Namun, saya tetap hanya menatapnya datar. Saat sholat itu, saya memang belum benar-benar melihat bangunan Kabah karena kami sholat setelah masjid dipenuhi jamaah dan kami menempati shaf bagian belakang.

Zam Tower terletahk di depan Masjidil Haram. Foto ini diambil pagi dihari kedua kedatangan.

Selepas Sholat Zuhur berjamaah, ustadz yang memimpin rombongan mengajak kami semua berkumpul untuk segera memulai proses umroh. Proses itu yang dimulai dengan tawaf sebanyak 7 x mengelilingi Kabah dan dipimpin ustadz pembimbing kami.

Lalu kami mulai menjejakkan kaki, melangkah perlahan bersama-sama menuju masjid nan agung, Masjidil Haram. Kaki yang saya pijakkan dan jejakkan ke ubin-ubin putih pelataran masjdi terasa sangat dingin dalam kaos kaki tebal yang saya kenakan. Saya berjalan berlahan mengikuti arus rombongan kami. Dalam keadaan menggigil, bibir saya turut mengumandangkan bacaan yang dilafalkan. Mata saya lepaskan lurus kedepan. Disaat yang bersamaan, entah kenapa, saya menjadi begitu gugupnya seolah sedang akan menghadapi ujian akhir. Saya merasa takut.  Kaki berselimut kaos kaki ini terasa semakin dingin dan seolah beku.

Kabah dengan background Zam Tower. Foto diambil sehari setelah tawaf pertama di Kabah


Dan kami terus beringsut masuk kedalam masjid menuju Kabah sambil mengucapkan lafal bacaan-bacaan yang dipimpin Ustadz.  Perlahan, sebuah bangunan yang menjadi focus perhatian seluruh dunia mulai terlihat. Oh inikah Kabah?? Batin saya bertanya dalam kegugupan. Iya, ini Kabah..jawab saya pada diri sendiri. Saya hapal bentuknya karena persis sama seperti gambar di tiap sajadah saya dan frame picture di tembok rumah orangtua saya.

Hati saya mulai bergetar ketika menatapnya dari kejauhan dan meranjak mulai mendekat.  Makkah pada saat itu di puncak musim panas. Kedinginan yang sangat di suhu 45 derajat adalah mustahil ! Namun itulah yang saya alami. Saya menggigil kedinginan seperti halnya sedang berada di musim dingin.

Semakin mendekati, semakin getaran itu terasa menggema…menyeruak seolah menyesak dalam dada. Tetap dalam kondisi kedinginan, lalu mata saya mulai berkaca-kaca, yang kemudian bulir-bulir bening jatuh satu-satu dan menjadi semakin deras ketika Kabah semakin nampak besar di depan mata. Subhanallah, Maha Adil Engkau ya Allah Pencipta seluruh kehidupan. Perasaan tak terkatakan itu menggumpal dan menyesak menyisakan rasa sesal yang dalam. Ampuni hamba ya Allah, ampuni segala khilaf hamba yang lemah ini. “Astaghfirullah”  … saya ucapkan kalimat itu berkali-kali, lalu rasa dingin itu perlahan lenyap. Alhamdulillah, Kau Tunjukkan KuasaMu pada hambaMu yang lemah ini ya Rabb…


Tak perlu banyak penjelasan untuk sebuah jawaban yang akhirnya saya temukan sendiri dengan pencarian tak terencana . Semua jawaban ada di titik ini, di suatu titik dimana menjadi kiblat seluruh dunia maha luas. Jawaban yang memenuhi rasa keingintahuan, menutup rasa kesombongan dan keangkuhan. Menyisakan damai, menyisakan rasa haru bahagia tak terhingga.  Tak perlu gunung indah nan hijau berderet pohon subur, tak perlu hamparan rerumputan hijau dan pohon-pohon penuh warna aneka musim. Damai itu bukan keindahan tampak mata. Kebahagiaan itu letaknya bukan di negeri penuh limpahan keindahan. Allahu Akbar…

Usai Tawaf pertama

Keindahan itu ada disini …
Benar,  saya orang yang selalu mencari arti kedamaian dan kebahagian.  Menyusuri lembah, pinggiran pantai bertabur pasir putih, mendaki gunung lalu duduk terpekur menatap ke bawah lereng pengunungan. Menjelajah benua, menjelajah pulau,  perkampungan adat, perkotaan metropolitan ; hanya untuk mencari kebahagian dan kepuasan hati. Dan nilai kebahagiaan dan kedamaian itu ternyata adanya disini, di kota suci Makkah Al Muqoramah tempat rumah Allah berada. Di kala hati paling dalam menjadi sejuk dan damai dalam merasakan kasih sayangNya yang merasuk perlahan, maka kebahagiaan itu mendapati wujudnya yang sempurna. Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallah Wallahu Akbar.

Umroh Pertamaku

Umroh artinya adalah menziarahi atau mengunjungi Baitullah  atau Kabah untuk menjalankan  ibadah kepada Allah, SWT dengan melaksanakan Syarat, Rukun dan tatacara yang diwajibkan dalam ibadah umroh. Menurut syariah, ibadah umroh dapat diartikan melaksanakan ibadah tawaf di Kabah dan ibadah Sa’i di Bukit Shofa dan Bukit Marwah.

Sesungguhnya Umroh adalah ibadah fisik. Untuk itu, sebelum melakukan umroh sebaiknya kita mempersiapkan stamina sehingga mampu melewati proses umroh tersebut dengan lancar.  Banyak orang menyarankan agar  ibadah ini kita lakukan pada saat kita masih muda dan memiliki stamina dan fisik yang kuat karena jika sudah berumur atau fisik tidak fit maka ibadah ini akan menjadi sangat berat. Tapi jangan khawatir, bagi mereka-mereka yang tidak mampu secara fisik, ada tim khusus yang akan membantu ibadah kita dengan menggunakan kursi roda. Untuk fasilitas ini, kita dikenakan biaya sebesar 300 SR.

Adapun Tawaf mengelilingi Kabah dilakukan sebanyak 7 x dan setelah selesai melaksanakan tawaf langsung mengerjakan Sa’i  (7x berlari kecil) antara Bukit Shofa dan Marwah terletak sekitar 100 yard dari Ka’bah. Jarak antara Shofa dan Marwah sekitar 450 meter, sehingga perjalanan tujuh kali berjumlah kurang lebih 3,15 KM.

Sa'i antara bukit Shofa ke Bukit Marwah

Sa’i antara bukit Shofa ke Bukit Marwah

Tata Laksana Wajib Umrah dan Rukun Umroh
Wajib umroh yaitu : memulai ihram dari Miqat (tempat awal berniat yang telah ditetapkan)
Sedangkan Rukun Umroh adalah :
1.    Ihram ; mengenakan pakaian ihram setelah mandi dan berwudhu. Sholat 2 rakaat dan melakukan niat Ihram
2.    Tawaf ; mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali
3.    Sa’I : lari-lari kecil antara Bukit Shofa dan Marwah
4.    Tahallul ; tanda berakhirnya umroh dengan cara memotong sedikit rambut atau mencukur sebagian
5.    Tertib

Setelah Tahallul, maka proses Ihram berakhir

Pulang ke Hotel bersama bu Sainah (membelakangi kamera)

Join my twitter @wandraira or follow this blog and receive notifications of new posts

Categories: Updates | 15 Comments

Post navigation

15 thoughts on “A Journey to A Holy Land

  1. irma

    mba merinding bacanya, dan sempat berkaca-kaca serasa ikut dlm cerita mba hikss..
    semoga irma bisa menyusul kesana..amin ya rabb

  2. pipit

    Subhanallah…walhamdulillahh.. Allaahu Akbar… Aku turut terharu dan meneteskan airmata walopun baru membacanya sist…:( InsyaAllah segera menyusul ke sana sist Wandra.. Amiin! Baarokallah..

    • Bener mba Fitri. Sungguh, selalu diperlihatkan betapa Maha KuasaNya Sang pemberi napas kehidupan. Rasa congkak itu walau sedikit sudah diberi ganjaran dengan diperlihatkan kebesaranNya pada saat melihat rumah Allah.

      Semoga mba Fitri diberi kesempatan segera untuk bisa berkunjung kesana ya.. Amiin YRA

  3. budi restoto

    satu lagi kehebatan ibu ini…..! bagaimana bisa menulis sebaik ini……? bagaimana bisa mengambil gambar sebaik ini…? akan saya baca pelan-pelan supaya bisa meresapi seluruh isinya seperti halnya membaca buku-nya Dahlan Iskan milikmu. Tolong ajari bikin perencanaan yang rapih utk next trip saya (mungkin ke sekitar Vietnam sampai China via darat) kemarin trip ke Langkawi dan Thailand selatan cukup rapih hanya jika mampir ke Mall malah jadi berantakan…hehe….salam sukses dan ikut senang sudah menyempatkan berkunjung ke Baitullah…keberkahan akan meyertaimu.!

    • wah, terimakasih pujian selangitnya ya pak Budi. alhamdulillah bisa menyalurkannya dalam bentuk tulisan walaupun belum semua apa yang dirasakan sebenarnya benar2 tertumpah ditulisan tsb. Terimakasih juga doa keberkahannya..Amiin ..amin …amin Ya Rabbal allamin..

      Untuk perencanaan perjalanan, saya biasanya googling atau browsing saja sebanyak mungkin lalu tiap detail sy catat terlebih dahulu utk kemudian diurutkan sesuai kebutuhan. Lama2 juga terbiasa pak. Btw, lain kali siapa tau bisa melakukan berjalananbackpack rame-rame dalam satu grup ya pak.. seru pasti !

      Salam sukses juga untuk bapak. Allah selalu memberkahi anda. Amiin YRA

  4. chandra

    Really love your story…..that’s why I always miss to come to this holy land. انشـــــاء الله on the end of June I will come that peaceful place again.

    • makasih mas Chandra. Benar sekali ! rasanya selalu rindu untuk kembali ya. Perasaan yang tak terlukiskan kata-kata …

  5. Anonymous

    cyiin, nice sharing….aku baca tulisanmu bagusss banget, subhanallah…semoga tulisan mu ini bisa menjadi inspirasi aku bisa menjadi manusia yg selalu bersyukur, selalu berbaik sangka dan dijauhkan dari sifat-sifat angkuh dan sombong..dan bisa secepatnya melaksankan ibadah umroh. Amin Ya Rabbal Allaamin.

    • Terimakasih juga cyynn.. semoga dengan sharing tulisan ini banyak memberi manfaat buat yang membacanya dan bisa menginspirasi untuk dapat lebih tawakkal … Amiiinn YRA, semoga dirimu pun cepat dapat melangkahkan kaki ke Baitullah untuk memenuhi undanganNya..

  6. Anonymous

    merinding saat membaca…
    hanyut dalam cerita yg dituliskan
    dan tanpa sadar….hiks….hiks…
    ternyata qu telah menitipkan SESUATU…
    yang amat sangat ….tak bisa disebutkan dgn kata…
    hanya ucapan terimakasih yg bisa kuberikan padamu sahabat qu..
    dan Do’a semoga dirimu selalu diberikan kesehatan dalam setiap
    aktifitas serta selalu dlm lindungan ALLAH SWT…..
    Terima kasih banyak ya say….bighug…:))

    • Terimakasih juga sahabatku sayang…
      Allah Maha Berkehendak… kun fayakkun dan terjadilah. Bandingkan diriku sebulan yang lalu sebelum memutuskan utk berangkat umroh. Sempat dilanda kebingungan yang sangat atas keputusan yang dirasa belum waktunya, namun ternyata Allah memang sengaja mengatur segalanya dengan penuh pertimbangan..

      Semoga Allah senantiasa membimbing kita menuju jalanNya, jalan yang telah Dia tunjukkan.. Subhanallah.

  7. Elda M Hilman

    Subhanallah.., kisah dan segala sesuatu tentang baitullah selalu mampu memberikan ‘jejak’ pesona illahi tiada berbatas dalam qalbu. Bi’idznillah, ukhtiy senantiasa dlm naungan rahmaan, rahiim & hidayah Allah SWT agar terus istiqomah… insya Allah🙂

    • Amiin Ya Rabbal Alamiinn..
      Terimakasih ya doa-doanya. Semoga pak Elda juga senantiasa dalam perlindunganNya..Amin YRA

  8. Anonymous

    Assalamualaikum sista… Saya terharu waktu membacanya, jadi mewek dech 😭. Inshallah Allah tgl 19 ini saya dan suami serta 3 anak kami berangkat ke sana. Doakan ya mb… Sukses utk mb Wanda…👍👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: