Belanda dan Keunikannya

Kita mungkin tidak akan lupa dengan Negara yang satu ini. Belanda ! Ya, ikatan itu begitu kuat karena Belanda pernah menjajah kita selama kurang lebih 350 tahun. Bahkan di Belanda sendiri, banyak sekali warga Indonesia yang bermukim  hingga kini semenjak kolonial membawa nenek moyang untuk diperkerjakan disana.

Saat mengunjungi Belanda beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi beberapa ikon negara tersebut, diantaranya ; Kincir Angin tradisional, Keju Edam,  Klompen (sepatu khas Belanda), berfoto baju khas di Volendam dan yang paling berkesan diantara semua tempat tersebut yaitu mengunjungi RED LIGHT DISTRICT (RLD) di Amsterdam.  Apa itu itu RLD ?🙂 dapat disimak dalam jurnal berikut.

Kincir Angin/Windmills

Cuaca siang itu hanya berkisar 8 (delapan) derajat Celcius ketika bis yang membawa kami tiba di Zaanstad- Nedherland untuk melihat kincir angin tradisional Belanda. Suhu yang sudah sangat dingin untuk kita yang terbiasa di alam tropis menjadi bertambah menggigit karena angin yang berhembus kencang.  Jangan terkecoh dengan terik matahari karena walaupun sinar matahari terang menyinari, hawa yang berhembus tetap saja terasa sangat dingin. Maklum, waktu kunjungan kita waktu itu adalah di akhir Oktober , peralihan musim gugur ke musim dingin.

Sambil membekap erat kedua lengan di rengkuhan menahan dingin, kami turun dari bis untuk melihat kincir angin secara lebih dekat. Di berbagai penjuru daerah pertanian dan perkotaan, hampir pasti kita dapat menemukan kincir angin (di Belanda disebut sebagai wind molen). Tujuan utama kincir angin itu sendiri adalah untuk mendorong air ke lautan agar terbentuk daratan baru yang lebih luas yang namanya Polder dan juga digunakan untuk menaikkan air untuk mengaliri sawah-sawah.  Tapi lama-kelamaan fungsinya bergeser.  Belanda modern juga menggunakan kincir angin sebagai pembangkit tenaga listrik, dan yang paling penting  justru ketika alat tersebut dijadikan salah satu  ikon negeri dan obyek wisata.

Kincir Angin Tradisional di Zaanstad

Kincir Angin dari Dekat

Keju Edam dan Klompen

Kota Edam adalah kota dimana keju asli Belanda banyak di produksi. Serasa ingin segera berlari untuk mencicipi keju – keju itu ketika kami mencapai tempat dimana keju dan Klompen (sepatu khas Belanda) dibuat.

Saya suka sekali keju. Teringat bagaimana dulu sewaktu kecil, saya suka sekali mencomoti dan menghabiskan persedian keju di kulkas  yang disimpan ibu saya sebagai salah satu bahan membuat kue.  Kali itu, di tempat pembuatan keju, saya berjanji akan makan keju sebanyak-banyaknya.. haha .. dan angan-angan itu membuat saya tersenyum senyum sendiri sepanjang waktu tur menuju  tempat pembuatan keju tersebut.

Tempat pembuatan keju dan Klompen (sepatu khas Belanda)

Awalnya, saya terkejut kala mendapati betapa keju-keju Edam itu ternyata berbentuk bulat sebesar bola kasti dan fisik luarnya sangat keras! Bagaimana bisa dimakan jika keju sekeras itu ? pikir saya terheran – heran dan sedikit kecewa. Tapi kekecewaan itu luntur kala mengetahui dari si pembuat keju bahwa keju tersebut memang dilapisi semacam lilin untuk membuat keju tetap awet dan terjaga keaslian rasanya.

Keju terbentuk dengan memisahkan zat-zat padat dari dalam susu melalui proses pengentalan atau ‘koagulasi’, lalu dengan bantuan bakteri dan enzim yang disebut ‘rennet’ lalu terbentuklah bahan yang lalu dikeringkan dan diawetkan. Salah satu cara pengawetannya adalah dengan cara dilumuri lilin.

Tentunya saya tidak melewatkan kesempatan untuk mencicipi sedikit keju Edam yang ternyata tidak asin seperti keju yang biasa kita makan. Agak sedikit manis dengan rasa yang khas. Ada rasa plain (original), daging asap, buah-buahan dan juga rasa ikan Herring, ikan khas Belanda.

Keju Edam ; di bungkus lilin agar awet

Klompen

Klompen atau di Inggris disebut Clogs (sandal/ bakiak) adalah sepatu kayu yang biasa digunakan penduduk Belanda pada zaman dahulu kala. Dikarenakan bahannya yang terbuat dari kayu, sepatu macam ini dapat membuat kaki menjadi sedikit lebih hangat dimusim dingin. Pada masa sekarang , Klompen  sudah jarang digunakan sebagai alas kaki namun  sudah berubah menjadi barang yang dipergunakan sebagai souvenir untuk para turis.

Salah satu tempat pembuatan klompen ada di satu tempat yang sama dengan dimana kami mengunjungi pembuat keju, yaitu di Cheese and Clogs making. Banyak sekali klompen aneka bentuk,model dan warna yang siap dibeli dan dibawa sebagai cinderamata khas dari negeri Belanda.

Proses pembuatan Klompen yaitu dengan menggunakan sepotong kayu poplar yang kemudian dipahat dengan menggunakan pisau pemotong kayu untuk membentuk bagian luarnya. Jika sudah selesai, barulah dibentuk lubang dengan cara mencungkil bagian tengahnya untuk membuat bagian dalam sepatu.  Dahulu, proses pembuatannya akan memakan waktu selama lima hari, tapi sekarang  dengan mesin yang sudah mereka miliki, klompen diselesaikan dalam waktu sekitar  1 jam saja. Kata  Steve, pria yang menunjukkan proses pembuatan klompen secara tradisional kepada kami.

Proses Pembuatan Clogs

Aneka ukuran, bentuk dan warna Klompen

Berfoto baju khas di Volendam

Jangan mengaku pernah ke Belanda kalau belum pernah ke Volendam dan berfoto disana! Kata-kata penuh tekanan ini diungkapkan tur leader local kami bernama Rauzel. Gadis yang didarahnya mengandung darah Indonesia dan Belanda ini sudah lama bermukim di Belanda dan masih tetap fasih berbahasa Indonesia dengan dialek terkini.

Jadilah Volendam sebagai tujuan kami berikutnya sesuai rencana semula. Di Volendam kami akan menghabiskan waktu untuk makan siang dan berburu souvenir khas. Tentunya tidak ketinggalan untuk berfoto menggunakan baju khas Volendam di salah satu studio foto di sana.

Studio foto Zwarthoed didirikan sejak 1920, saat kawasan nelayan itu mulai berkembang menjadi daerah wisata. Tarif yang ditawarkan untuk sekali foto adalah €15 ( €1 = sekitar Rp. 12,000). Agar orang Indonesia tergoda untuk mampir, studio tersebut memajang sejumlah foto tokoh dan selebriti Indonesia di dalam toko studio mereka.

Diantara foto-foto yang  tokoh Indonesia yang dipajang adalah foto pasangan Megawati dan Taufik Kiemas. Ada juga foto Gus Dur  mantan (Presiden Abdurrahman Wahid) dan keluarga. Sejumlah selebriti seperti  Ruth Sahanaya, Maya Rumantir, dan lain-lain yang namanya tidak begitu saya kenal tapi familiar di layar TV Indonesia.

                                                                                 Tidak mau kalah berfoto dengan baju khas Belanda.😛

Red Light District

Mungkin sebagian sudah tidak asing mendengar kawasan Red Light District (RLD) di Amsterdam. Apa yang ada dalam benak anda? Bagi anda yang senang browsing wisata ataupun bahkan mungkin sudah berkunjung ke Amsterdam, Red Light District tentunya tidak asing lagi bagi anda. RLD adalah daerah tempat prostitusi di Belanda, yang sudah terkenal di dunia sejak abad ke 14.

DSC00428

Oleh karena pamor daerah ini yang di dapat dari berbagai sumber dan di dorong oleh rasa penasaran yang sangat kuat membuat saya dan teman-teman  akhirnya berkesempatan menjejakkan kaki ke daerah ini di suatu siang di masa musim gugur. Ya, di siang hari RLD sudah di buka ! Dan siang hari adalah waktu yang aman bagi wanita seperti saya untuk bisa leluasa menyusuri wilayah ini tanpa rasa was-was.

Entah bagaimana sejarah dinamakannya kawasan ini sebagai Red Light District. Bisa jadi  dikarenakan sinar lampu berwarna merah semarak yang dominan terlihat di malam hari di sepanjang kawasan ini.

Lokasi RLD terletak tidak jauh dari pusat keramaian Dam Square. Di area yang terletak di bagian selatan kota Amsterdam ini  terdapat banyak  toko/sex museum, coffee shop, restaurant, bar, dan  juga lebih dari 250 jendela-jendela yang mempertunjukan gadis gadis sexy dengan lingerie -pakaian dalam. Gadis-gadis ini dipamerkan dibalik pintu kaca yang disinari lampu merah.

Kota Amsterdam yang terbelah menjadi dua oleh kanal (Sungai Amstel) ini memang rupanya sangat terkenal dengan kawasan RLD-nya. JIka kita menggunakan kapal boat mengarungi kanal ini, kita akan melihat dua jalur RLD di sepanjang jalur tersebut yang dipenuhi oleh para pengunjung-pengunjung penasaran.

Di kawasan yang disebut Rossebuurt (Red Light Disrict) inilah  kita bisa menemukan seluruh euforia kebebasan negeri Belanda. Cukup untuk berjalan kaki di sepanjang jalan Oudezijds Achterburgwal, maka akan ada banyak sekali bisnis haram yang bisa kita lihat.  Mulai dari bar untuk para gay, bisnis prostitusi, dan legalitas untuk mempergunakan cannabis / marijuana (ganja/cimeng). OMG !

Betul sekali ! Disini jual beli ganja termasuk satu hal yang dilegalkan. Tak heran, sepanjang lorong di daerah district ini, kita bisa merasakan aroma khas cimeng yang tercium dari cafe-cafe dan toko yang menjual barang menghanyutkan ini.

Di kawasan Red Light District yang tersohor

di depan ‘Live Porn Show’ .. hehehe… nggak masuk kok..cuma foto doank :P

Begitu banyaknya turis dan pendatang aneka suku bangsa yang dapat anda lihat berhamburan di ibukota negara ini dikarenakan pamor RLD sehingga banyak pula hotel-hotel dan penginapan yang ditawarkan.  Tinggal dipilih saja hotel macam mana yang diinginkan karena banyak jenis hotel tersedia, dari yang berbintang lima sampai dengan penginapan yang digunakan para backpacker.Pemerintah Belanda tentu saja memang banyak diuntungkan dengan adanya daerah ini, karena mendatangkan banyak turis manca negara  yang datang dari segala penjuru untuk menyaksikan kemolekan para gadis yang dipajang dalam kaca-kaca transparan dan berbagai atribut sex yang dijual bebas.

Para gadis ini akan tersenyum ramah kepada semua pengunjung yang menatap kearah mereka yang ber-pose dengan berbagai gaya yang menantang. Ingin foto mereka ? Eits, jangan coba-coba ! Wajah ramah mereka akan berubah menjadi sangar dan bahkan body guard yang berdiri tersembunyi tak jauh dari toko yang memajang mereka akan marah besar jika kita kedapatan memotret.

Nah, bagi yang penasaran ingin  berkunjung kesini, siapkan mental dan iman yang kuat ya agar tidak gampang tergoda bujuk rayu para wanita dalam etalase kaca ini ya.🙂

Categories: Updates | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: