Jelajah Istanbul – Turki ( Part 1)

Di musim yg romantis

Masa kunjungan ke Turki di kala itu adalah akhir musim gugur.  Musim yang menjadi  favorit saya karena penuh nuansa keemasan dari dedaunan menguning yang rontok dan berguguran satu persatu dari pohonnya. Keindahan musim yang membuat kita terbuai dalam romantisme suasana yang tak tergambarkan kata-kata

Negeri Turki sebagaimana dalam cerita dan dongong-dongeng masa kecil saya dalam buku majalah popular anak-anak pada masa itu,  adalah negeri yang terlukiskan indah dengan beragam adat budaya yang khas ketimuran berbalur eropa.

Republik Turki disebut Türkiye, sebuah negara besar di kawasan Eurasia. Wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya dan daerah Balkan di Eropa Tenggara.

Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan untuk menandai batas wilayah Eropa dan Asia, sehingga Turki dikenal sebagai negara transcontinental. Disebabkan oleh lokasinya yang strategis di persilangan dua benua, budaya Turki merupakan campuran budaya Timur dan barat menjadi hal unik yang sering diperkenalkan sebagai jembatan antara dua buah peradaban.

Ada banyak sekali tempat wisata dan tempat bersejarah yang bisa dan wajib dikunjungi selama berada di Turki. Wah, kalau tidak mengingat waktu, bisa jadi tempat-tempat tersebut baru akan habis setelah berbulan-bulan.

Di kunjungan saya, ada beberapa tempat yang saya telusuri dan mungkin bisa menjadi bahan referensi untuk juga dikunjungi teman-teman di suatu saat nanti. Semuanya menjanjikan keunikan dan keindahan yang langka kita temui di tempat lain karena perpaduan budaya dua benua.

Istanbul

Istanbul adalah salah satu kota terbesar dan terpenting di Turki dan dikenal dengan nama Konstantinopol  (bukan Konstantinopel – Rev.)* atau Byzantium.

Ibukota Turki sebenarnya adalah Ankara namun kota Istanbul mengambil peranan penting sebagai kota perdagangan dan peradaban budaya. Di Istanbul ada beberapa tempat yang bisa kita kunjungi sebagimana yang saya paparkan berikut.

Blue Mosque

Landmark kota Istanbul sepertinya adalah Blue Mosque. Sebagaimana menara Eiffel di Paris,  masjid ini adalah salah satu ikon terkenal milik Istanbul. Ada enam menara Blue Mosque yang seolah mendominasi kawasan Sultanahmet, distrik tertua di Istanbul. Desain bangunan masjid ini juga terlihat sangat menarik dengan kubah-kubahnya yang artistik dan khas.

Jika diperhatikan seksama, bangunan ini ternyata menyerupai bentuk Hagia Sophia, bangunan lain yang terletak tak jauh dari Blue Mosque.

Blue Mosque

Di cuaca yang dingin itu, saya dan pengunjung Blue Mosque yang lain dalam antrian panjang. Sesekali saya mengambil foto sekitar masjid. Bangunan khas Eropa yang kebanyakan dari bebatuan terlihat mendominasi keseluruhan bangunan tua tersebut.  Saat kita memasuki dalam masjid yang dibangun pada 1609 ini, kita wajib melepas alas sepatu yang kita kenakan. Masjid ini akan ditutup untuk umum pada jam-jam sholat.

Antrian Pengunjung Blue Mosque

Dinding bagian dalam Blue Mosque berhiaskan 20 ribu keping keramik berwarna biru. Itulah ternyata kenapa masjid ini disebut Blue Mosque. Memiliki 260 jendela dan bagian dalamnya dihiasi berbagai ornamen abstrak yang bernilai seni tinggi.

Depan Blue Mosque / Masjid Sultanahmed

Hagia Sophia

Obyek wisata yang juga tergolong wajib dan menarik dikunjungi di Istanbul adalah Hagia Sophia atau Aya Sofia. Bangunan bersejarah yang berumur sekitar 1500 tahun ini selama berdiri dalam riwayatnya adalah sebuah Gereja yang kemudian dimasa Kesultanan Sultan Mehmet II dirubah menjadi Masjid.

Pada masa Sultan Murad III, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan  yang semula ada di dalam Gereja Hagia Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain juga dihilangkan. Patung-patung dan lukisan-lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat. Lantas selama hampir 500 tahun bangunan bekas Gereja Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid.

Adanya kontak budaya antara orang-orang Turki yang beragama Islam dengan budaya Nasrani Eropa, akhirnya arsitektur masjid yang semula berupa atap rata dan bentuk kubah, kemudian mulai berubah menjadi atap meruncing. Setelah mengenal bentuk atap meruncing inilah merupakan titik awal dari pengembangan bangunan masjid yang bersifat megah, berkesan perkasa dan vertikal. Hal ini pula yang menyebabkan timbulnya gaya baru dalam penampilan masjid, yaitu pengembangan lengkungan-lengkungan pada pintu-pintu masuk, untuk memperoleh kesan ruang yang lebih luas dan tinggi.

Namun, sejak masa pemerintahan Mustafa Kemal Attaturk, beliau di tahun 1937 mengubah bangunan ini menjadi Museum. Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat dan mengganti fungsi masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan Islam diubah lagi menjadi gereja. Praktik keagamaan, baik Nasrani maupun Muslim dilarang dilakukan di dalam kompleks Hagia Sophia.

Sejak difungsikan sebagai museum, para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia. Bagian di langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat.

Secara nyata,  detail mengenai bangunan ini kusimak secara perlahan. Sebagaimana gambaran yang pernah kubaca dalam buku pemberian sahabatku yang berjudul ‘ 99 Cahaya di Langit eropa” – Menapak jejak Islam di Eropa,  ditulis oleh Hanum Rais.

Depan Hagia Sophia

Perpaduan Gereja dan Masjid

Perhatikan Bagian Atas

Grand Bazaar

Bangunan khas yang pernah dipakai untuk shooting film box office Sky Fall – James Bond ini sudah berusia lebih dari 500 tahun. Walau begitu Grand Bazaar Istanbul masih menjadi tempat belanja favorit turis dan warga lokal. Ada sekitar 5 ribu kios yang terdapat  di pusat perbelanjaan tertua di dunia ini. Begitu banyak pilihan barang yang dijual, mulai butik-butik mewah, pashmina, kerajinan kulit, kaos, barang antik, karpet dan aneka macam pernak-pernik aksesori serta souvenir khas Turki.

Gerbang Grand Bazaar

Atap bangunan yang tinggi nampak mempesona dengan ornamen-ornamen seperti dalam Blue Mosque dan Hagia Sophia. Sepertinya ukiran atau ornamen itu telah menjadi ciri khas kebanyakan untuk bangunan besar di Turki.

Karena waktu itu kami sedang tidak tertarik berbelanja, maka kami hanya menyusuri sepanjang lorong Grand Bazaar dan sight seeing. Lalu setelah lelah berjalan kaki kami berjalan ke kafe depan Grand Bazar yang menjual apple tea dan kopi Turki. Di ujung sore dengan suhu yang dingin , betapa nikmatnya terasa minuman hangat khas Turki tersebut. Rasa Apple Tea panas yang terasa manis bercampur rasa khas kecut apel, sungguh membuat kesan yang dalam dalam tiap regukannya.

Apple Tea Khas Turki

Topkapi Palace

Bekas Istana yang sekarang juga sudah menjadi museum. Ada cerita menarik tentang istana dari dinasti Otttoman atau Usmaniyah ini. Istana Topkapi dibangun dengan arsitektur yang cukup sederhana, bahkan istana ini dibangun dengan ciri khas yang meniadakan unsur kemegahan. Semua dinding, pintu dan jendela seakan-akan dirancang tidak beraturan. Istana ini melambangkan kehidupan sultan yang sederhana sehingga dapat membawa dinasti Usmaniyah ke masa keemasan.

Buat yang suka panorama pantai, dibelakang istana ini, kita bisa menyaksikan dari atas keindahan selat Bosphorus yang tersohor sebagai selat yang membelah dua benua, yaitu benua Asia dan Eropa.

Cruise di Selat Bosphorus

Perjalanan cruise dengan kapal pesiar ini sebenarnya tidak saya rencanakan dilakukan pada kesempatan di hari itu. Suhu yang sangat dingin ditambah angin yang berhembus kencang dan menusuk membuat saya yang merasa kurang fit hanya ingin tiduran. Namun karena seluruh teman saya berbondong bondong dengan antusias untuk mengikuti tur ini, jadilah saya sebagai orang terakhir yang memutuskan untuk ikut naik ke atas kapal.

Sepertinya saya tidak menyesal untuk memutuskan ikut karena sepanjang selat ini, dapat disaksikan tempat-tempat yang menarik seperti istana-istana dari dinasti Usmaniyah. Diantaranya adalah Topkapi palace yang nampak dari kejauhan. Satu lagi istana yang juga terkenal  yaitu Istana Dolmabache. Istana Dolmabache dibangun menyerupai istana-istana di Eropa. Dengan segala kemewahan , kebesaran dan kemegahannya. Istana ini merupakan pusat administrasi utama dari Kekaisaran Ottoman.

Dolmabache Palace

Tentu saja di bagian selatan Bosphorus, selain kedua istana ini, kapal pesiar kami juga sempat melintasi beberapa tempat lain yang menarik . Di antaranya adalah Maiden’s Tower yang terletak di tengah-tengah selat bagaikan sebuah pulau kecil.

Menurut kisah, dulunya Maiden’s Tower adalah istana yang dibangun sultan di tengah laut untuk putrinya yang menurut peramal akan mati disengat ular berbisa. Agar terhindar dari ramalan itu, ayahnya, membuat menara di tengah laut untuk mengasingkan sang puteri. Tapi apa mau dikata, sang puteri mati disengat ular berbisa yang masuk menyelundup dalam keranjang buah anggur yang dibawa oleh pelayannya.

Maiden’s Tower

Yang pasti, letak pulau kecil ini sedemikian strategis sehingga fungsinya terus berubah. Pada tahun 341 sebelum Masehi pulau kecil itu pernah dijadikan musoleum. Pada tahun 410 Masehi, pulau itu menjadi pangkalan bea cukai lalu lintas perdagangan di Selat Bosporus. Pernah menjadi benteng kecil dan tempat mengintai. Baru pada sekitar 1920-an, menara di pulau kecil itu dijadikan mercusuar, dan kini dijadikan restoran.

Bosphorus Bridge

Ortakoy Mosque juga terlihat indah disisi selat. Bangunan masjid ini memang tidak semegah Blue Mosque. Namun lokasinya yang berada di pinggir Selat Bosphorus membuat Ortakoy Mosque menjadi sudut Istanbul yang paling menarik untuk diabadikan dengan ditambah  pemandangan jembatan Bosphorus sebagai latar belakangnya.

Ortokoy Mosque

Dan di antara bangunan-bangunan yang berada sepanjang selat Bosphurus itu, bangunan favorit saya adalah Rumeli Hisar yang artinya Castle Eropa ; benteng / kastil Eropa. Terlihat kokoh dan anggun kan. Seperti kastil – kastil di buku dongeng masa kecil.

Rumeli Hisar

Setelah melewati semua tempat-tempat tersebut, kapal pesiar kami pun balik arah menuju kembali ke dermaga. Berbagai kisah-kisah yang diceritakan pemandu wisata terus mengalir menemani pelayaran kami selain acara sesi foto yang tiada henti untuk mengabadikan keberadaan kami.

bersama Rina dan Fitri, teman seperjalanan

Masih begitu banyak tempat indah dan bersejarah di Turki dan kisah-kisah unik yang menyertainya namun belum sempat dikisahkan pada kesempatan ini. Dikali lain, jika diberi  waktu dan kesehatan, simak  kisah perjalanan di Ankara, Pamukalle,Canakalle, Cappadocia, kota kuno Ephesus, Konya, Izmir, dll.  Juga tak lupa  liputan kuliner dan tradisi unik asli negeri ini.

Salam :)

*Rev. : Tour leader lokal kami yang bernama pak Murad, sempat memberi sedikit penjelasan dan ralat mengenai istilah konstantinopel. Bahwa dulu kita para murid di Indonesia selalu mendengar istilah Konstantinopel tsb, bahwa ternyata kata yang benar adalah Konstantinopol (pol dari kata polis : kota).

Categories: Updates | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Jelajah Istanbul – Turki ( Part 1)

  1. makasih infonya mbak :)

  2. andre

    mbak,pak murad itu org indo ya? bagi nomer tlp nya dong,end august ini saya ke turki dan nggak ikut tour maka saya bisa memakai tour guide saja,at least yg bisa indo atau emglish
    thank mbak u infonya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,963 other followers

%d bloggers like this: