Sevilla – Kisah Lukisan Saint Antony yang di Mutilasi dalam Gereja

Kisah tentang sepotong lukisan yang di congkel dan dicuri di dalam sebuah gereja di Sevilla tak sengaja saya dapat dari seorang Tour Leader bernama Miss Maria yang menemani saya mengelilingi Cathedral of Sevilla. Kisah ini rasanya lebih menggelitik rasa penasaran saya dibanding kisah makam Christopher Columbus yang juga bersemayam di tempat yang sama. Lukisan yang dimaksud tersebut diberi nama Vision of St. Anthony of Padua. Merupakan karya terbesar dari pelukis Spanyol paling terkenal dimasanya, Bartolome Esteban Murillo.

saint antonio

Ciri lukisannya yang realis dan renebrism – kombinasi kontras antara cahaya dan bayangan- membuat karyanya kaya akan warna-warna elegan khas ilustrasi buku-buku dongeng yang sering saya lihat. Ciri khas ini lah yang lantas menjadikan lukisannya menjadi berkelas dan bernilai jual tinggi, incaran kaum borjouis dan aristokrat pada masa itu. Tahun 1660, pelukis ini juga tercatat pernah mendirikan sekolah lukis ‘Academia de bellas Artes’ di Sevilla.

Lukisan Saint Anthony atau San Antonio dalam bahasa Spanyol, merupakan lukisan Murillo yang menjadi paling dikenal karena pernah hilang dan dicuri didalam Cathedral. Tidak masuk akal. Bagaimana mungkin lukisan sebesar itu hilang ? Tanya saya kepada Maria. Jelas terlihat dan terpampang di dinding, lukisan berukuran 18 x 10 kaki tersebut memang sangat besar dan mustahil untuk diangkat dengan mudah oleh pencuri. Lalu ketika Maria meminta saya memperhatikan ulang dengan seksama, barulah terlihat adanya garis samar di ujung pojok kanan paling bawah dari lukisan.

Lukisan mahakarya tersebut ternyata dicuri dengan cara disayat atau di mutilasi di bagian pojok kanan bawah lukisan dimana St. Anthony sedang dalam posisi berlutut. Pencuri memutilasi lukisan St. Anthony selebar 7 x 5 kaki pada tahun 1874. Lukisan yang kemudian ditemukan sekitar 8 minggu setelah pencurian, dikembalikan ke Spanyol dari rumah seni seorang Kolektor Amerika Serikat yang membelinya dari si pencuri nekat yang menjualnya ke kolektor seharga $250 saja.

Sepotong lukisan yang tentunya menjadi sedikit rusak itu kemudian ditempelkan kembali ke lukisan asalnya dengan bantuan seorang ahli bernama Senor Cubells. Si ahli ini pastinya seorang seniman sangat cermat dan memiliki kemampuan seni yang luar biasa sehingga bisa mengembalikan keadaan lukisan tersebut ke posisinya dengan sempurna.

10502237_10202192620477221_8071979131944539132_n

Dalam sejarahnya, Cathedral of Sevila sebagai tempat dimana lukisan indah ini berada adalah bekas dari masjid agung Sevilla di masa kejayaan Andalucia yang nyaris rata dengan tanah karena gempa di tahun 1365. Setelah gempa tersebut, dibangunlah sebuah gereja Katolik bergaya gothic yang hingga kini masih menjadi Gereja terbesar ketiga di dunia setelah St. Peter di Roma dan St. Paul di London.

10502237_10202192620397219_1767514525885322653_n

Tepat disamping cathedral, terdapat sebuah menara indah yang di sebut dengan La Giralda atau Giralda Tower yang merupakan lonceng gereja dari Cathedral Sevilla. Konon dulunya Giralda ini adalah menara atau minaret Masjid saat Sevilla berada di bawah kekuasaan Islam dan menjadi salah satu dari tiga minaret peninggalan Almohad yang masih terawat sampai saat ini, selain Kutubiyya di Marakesh dan Tower Hasan di Rabat, Marocco. Untung saja, saat gempa menara ini masih bertahan dan hanya bagian atasnya yang rusak dan digantikan dengan tempat lonceng gereja.
gothic menara

gothic menara

gothic

Rasa keingintahuan yang dalam mengenai sejarah masa lampau, dimana pernah tercatat bahwa sebelum gereja ini berdiri telah berdiri sebuah masjid agung, adalah alasan utama mengunjungi Kathedral yang halamannya dipenuhi pohon jeruk ini.

Selain terkenal sebagai Cathedral terbesar ketiga di dunia, Cathedral Sevilla ini sebenarnya menjadi terkenal karena didalamnya terdapat makam dari Christopher Columbus, pelaut asal Italia si penemu Benua Amerika. Colombus melakukan perjalanannya dengan dana dari Ratu Isabelle sang Ratu Spanyol setelah sang Ratu berhasil menaklukkan Andalusia. Dari perjalanan tersebut itulah akhirnya dipastikan dan disimpulkan bahwa bumi itu bulat, bukan datar atau plat seperti perkiraan mereka sebelumnya.

Sama sewaktu masih hidup, ternyata jasad Columbus pun setelah dimakamkan telah berkelana ke banyak tempat sebelum akhirnya dipindah ke Kathedral Sevilla.
1. Awalnya dimakamkan di kota Badajoz dekat Madrid
2. Dipindahkan ke La Cortuja Monastery Sevilla selama 30 tahun.
3. Sesuai dengan Surat Wasiat Columbus maka jenasahnya dipindah ke Dominika.
4. Ketika kekuasaan Spanyol atas Dominika lepas, jenasah terpaksa dipindah ke Cuba selama 160 tahun.
5. Di Cathedral Sevilla hingga saat ini.

Haduuh…Benar-benar petualang sejati ya. Hidup dan mati pun penuh dalam petualangan.
columbus

10513346_10202192665598349_7671413896755247941_n

Begitu dihormatinya Columbus ini oleh kerajaan Spanyol karena membawa nama Spanyol dalam pelayaran ke Benua Amerika yang awalnya di klaim sebagai Benua yang ditemukan oleh Columbus, walaupun kemudian banyak fakta yang menunjukan bahwa bukan mereka penemu pertama Benua tersebut. Di Cathedral Sevilla ini, jasad Columbus diletakkan dalam peti yang dipanggul oleh 4 orang pengawal yang dibajunya memakai lambang 4 kerajaan Spanyol, yaitu Kerajaan Kastila, Kerajaan Leon, Mahkota Aragon dan Kerajaan Navarre yang diartikan sebagai perwakilan masing-masing kerajaan di Spanyol.

columbus

Namanya juga makam, tentu saja ada kesan seram yang terasa saat kita melintas. Kesan tersebut hampir dirasakan sama menurut sebagian besar pengunjung. Ya mungkin saja disebabkan suasana temaram dalam makam yang terletak di sebelah timur Kathedral untuk memberi kesan dramatis.

1904234_10202185550420474_8853951249658963896_n

Lain halnya pemandangan yang terlihat diluar Cathedral. Suasana nyaman dan astri karena banyaknya pohon jeruk yang bertebaran di area halaman, membuat hawa yang sudah sejuk bertambah sejuk dan segar.

Di luar Cathedral juga terdapat banyak kereta kuda sejenis Andong yang berjejer rapi dan bisa dipergunakan untuk berkeliling area Kathedral. saya lupa berapa tarifnya, karena saat itu saya sedang asyik menyaksikan penjual Salad Buah yang berwajah pemain bola ! Saking terpananya, saya lupa mengambil foto untuk kenang-kenangan :)
kereta kuda

kereta kuda

Puas berputar di area Cathedral yang luas, kami pun sempatkan berbelanja sedikit souvenir khas Sevilla. Duduk sejenak melepas penat di cafe di dekat toko souvenir. Jika hari tak cepat beranjak, tentu ingin rasanya berlama-lama menghabiskan sisa sore yang mengesankan di cafe a la Espana yang unik itu.
Dan di perjalanan pulang dari menyusuri sudut kota Sevilla, kami juga mengabadikan keberadaan kami di taman kota yang luas dan dipenuhi bunga-bunga sisa musim semi. Berwarna warni dan indah dipandang mata. Memberi kesan yang dalam dan sulit untuk dilupakan.

cafe sevilla

taman di sevilla

by : Wandra Aira – Indonesie

Categories: Updates | Leave a comment

Istana La Alhamra, Istana Kemerahan yang Mengharu Biru

Sohornya kisah istana La Alhamra yang mengharukan membawa langkah saya ke Granada, Spanyol di suatu awal musim panas yang indah penuh bunga sisa musim semi.

Keindahan istana yang katanya mulai terkenal berkat buku yang di tulis Washington Irving di tahun 1831 ini, terlihat syahdu di perbukitan luas yang  nampak terang dan mencolok dari kejauhan berlatar pegunungan Sierra Nevada dengan pucuk gunungnya yang ditutupi salju. Bagai misteri yang ingin dipecahkan, kami serasa ingin  segera meraihnya sejak kaki turun dari kendaraan yang membawa kami ke wilayah La Alhamra. Tiupan hawa yang tetap terasa dingin di awal musim panas terasa mengiggit karena kami berada di daerah tinggi. Saya mendekap kedua lengan dan menenggelamkan leher kedalam syal tebal yang melingkar, lalu bergegas menuju pintu masuk utama La Alhamra.

la al hamra

Istana La Alhamra, istana yang awalnya dibangun oleh kaum khalifah muslim Granada di jaman abad ke 12, dibuat sangat dekoratif,  penuh dengan berbagai ukiran dan kaligrafi para seniman terkenal di jamannya. Relief-relief cantik berwarna kemerahan mendominasi warna bangunan sehingga itulah ternyata mengapa di sebut Alhamra yang artinya adalah Istana Merah. Warna kemerahan itu juga berasal dari batu-batu bata tanah liat yang halus dan super kokoh di dinding bangunan istana. Meskipun tercatat, istana ini pernah melakukan beberapa perbaikan tanpa merubah bentuk dasar asli bangunan dan juga gempa bumi di tahun 1821 sehingga mengalami kerusakan namun kemudian diperbaiki oleh Raja Ferdinand VII. Kini, warna kemerahan itu memang tak lagi tampak karena batu bata dan tanah liat yang tadinya kemerahan lama kelamaan menjadi ke warna pualam.

Nama  La Alhambra, atau the Alhambra, diambil dari bahasa Arab yaitu al-qala’a al-hamra yang artinya istana merah. Kompleks istana terdiri dari tiga bagian utama; Istana Nasrid, taman Generalife, dan benteng Alcazaba. Namun sejak dinasti Nasrid dijatuhkan oleh monarki Katolik,  dibangun pula Istana Charles V dalam komplek Alhambra.

 

carlos palace

Di pintu masuk, terlihat beberapa orang pengunjung yang sepertinya ternyata datang terlambat dari jam yang ditentukan. Pengunjung ini serta merta ditolak masuk oleh petugas. Wah, sebegitu ketatnya untuk dapat mengunjungi La Alhamra karena selain dibatasinya jumlah pengunjung per harinya, di tiap tiket masuk yang biasanya telah dipesan jauh-jauh hari via online itu tertera jam yang ditentukan untuk tiap pengunjung personal dan rombongan. Terlambat sedikit, maka kita harus reschedule tiket masuk yang ada.

Selain itu, sebelum masuk kedalam wilayah istana, pengunjung terlebih dahulu diberi tahu beberapa persyaratan melalui pemandu dan brosur yang dibagikan dan harus dipatuhi sebagai bentuk upaya pemeliharaan. Salah satunya, pengunjung dilarang menyentuh dan memegang dinding istana. Ini disebabkan karena suhu dan aroma tubuh serta kelembaban tangan dapat mempengaruhi material bangunan istana yang sudah dijaga kelestariannya hingga ratusan tahun lamanya.

palacio

palacio de generalife

Saya pun akhirnya cukup mengamati dan mengagumi dari dekat dengan lamat-lamat hasil karya umat muslim di ratusan tahun lalu itu. Terpana dan terheran-heran karena apa yang mereka hasilkan bukanlah bangunan sembarangan. Detail karya mereka yang masih tersisa menunjukkan bahwa di masa tersebut, kaum muslim merupakan umat yang sangat berbudaya dan memiliki kemampuan seni yang luar biasa mengagumkan. Hmm… saya tersenyum bangga, lalu kembali berjalan penuh semangat menapak bangunan istana yang lain.

kaligrafi

Sepanjang jalan, banyaknya pohon Orange atau Jeruk bertebaran pada halaman istana membuat saya bertanya-tanya dalam hati. Buahnya ranum menggiurkan, menguning matang di dahan-dahannya yang rendah namun tak ada seseorangpun yang sepertinya ingin memetiknya sehingga banyak yang berguguran jatuh ke tanah. Ternyata konon sang buah kini tidaklah lagi manis tapi berasa pahit dan masam, mungkin sepahit kenangan mengharu biru yang terukir sejak berabad lampau ketika istana tersebut di rebut dari keluarga kerajaan Alhamra.

Pohon Jeruk ini banyak di tanam di halaman-halaman bangunan di Spanyol. Daunnya yang rindang berfungsi sebagai penyejuk dan pelindung di kala musim panas. Akarnya yang serabut kecil-kecil relatif aman untuk lantai-lantai marmer yang menutupi halaman bangunan.

orange tree

jeruk

Selain pohon Jeruk, berbagai tumbuhan hijau dan bunga berwarna warni yang semarak ada di tiap sudut halaman kawasan istana yang luasnya sekitar 142.000 m2 ini.Sangat luas dan berbukit-bukit, jaraknya  saling berjauhan antara istana satu dan istana yang lain.

gerbang pohon

peta la alhamra

Jadi catatan penting agar memakai sepatu yang nyaman untuk mengunjungi komplek yang sangat luas dan berbukit bukit ini. Untung saja, sepatu boot yang saya pakai tidak terlalu menyiksa, jadi saya masih bisa menikmati dengan tenang tanpa gangguan kaki yang lecet. Selain itu, semerbak wangi bunga senantiasa mengiringi langkah kita kala menapak perlahan di rerumputan nan hijau. Bunga Rose aneka warna mendominasi  tumbuhan bunga yang tumbuh atau mungkin sengaja di tanam. Jenis-jenis bunga lain juga bertebaran di sepanjang jalana dan sejauh mata memandang. Sungguh elok dan membuat perjalanan yang jauh ditempuh menjadi tak melelahkan karena pandangan mata yang sejuk dan menyenangkan.

bunga warna warni

garden flower

setapak

Saya sempat berfoto ala Permaisuri di sebuah taman istana bernama taman Singa yang dikelilingi oleh 128 tiang marmer dimana di taman ini dihiasi oleh 12 buah patung Singa yang melingkari kolam air mancur yang juga terbuat dari batu marmer putih. Dari mulut si Singa keluar air yang mengaliri lantai marmer dibawahnya. Di sekeliling taman terdapat beberapa ruangan kediaman Sultan dan keluarga Sultan. Termasuk diantaranya ruangan Permaisuri, ruangan saudari perempuan Sultan dan sebuah Masjid yaitu Masjid Al-Mulk. Di tiap-tiap ruangan istana terdapat kolam air di tengah ruangan yang ternyata berfungsi sebagai penyejuk alami saat musim panas.

palacio

Dekorasi ruangan benar-benar mencerminkan keelokan istana di masa lampau dan mau tak mau membuat saya yang duduk agak lama di kursi di sudut taman Singa menjadi termenung diam. Membayangkan dalam-dalam keadaaan istana tersebut di masa yang telah lama berlalu, saat para penghuni istana hidup damai dan penuh kebahagiaan dalam istana yang indah penuh lantunan ayat suci.

Patung Lion

Di akhir perjalanan menyusuri istana-istana La Alhamra, sampai lah di suatu tempat bernama Generalife yang terletak pada bagian paling tinggi pada lahan komplek istana dalam kompleks istana Nasrid. Taman ini dianggap mendekati penggambaran surga menurut deskripsi Al Quran, sehingga dinamakan Generalife (dibaca: generalifé, bukan jeneralaif), berasal dari Jannat al Arif, yang artinya taman surga yang megah. Penuh dengan bunga berwarna-warni,  kolam kecil dengan air mancur hampir di setiap bagian taman.

Istana Alhamra

Kisah haru yang membayangi istana La Alhamra pun sebenarnya menjadi daya tarik tersendiri yang membawa banyak traveler sangat antusias mengunjungi tempat yang ditetapkan oleh badan dunia UNESCO sebagai situs dunia yang dilestarikan.

Konon, perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan di masa tersebutlah yang memecah belah mereka sehingga persatuan dan kekerabatan mereka menjadi rapuh dan akhirnya dengan mudah dapat dikuasai oleh monarki Katolik yang justru sebaliknya semakin bersatu. Raja Ferdinand V dari Aragon dan Ratu Isabelle dari Castila yang kemudian menikah demi mempersatukan kekuatan mereka, pada tahun 1492 mengepung Granada dan lalu menaklukkan dan menguasai istana La Alhamra. Seluruh rakyat Granada yang mayoritas muslim diminta untuk pergi meninggalkan Andalusia atau tetap tinggal tapi berpindah keyakinan ke Agama Kristen.

Di kisah yang layak menjadi pelajaran berharga untuk kita semua ini, tentunya bisa menjadi pengingat agar terus bersatu menjaga persatuan. Alangkah mudahnya ya kita dihancurkan jika kita berada dalam keadaan terpecah belah.

Selain itu, perjalanan ke Andalusia secara keseluruhan juga telah membuat saya menjadi merasa sangat beruntung menjadi warga di negara dimana kami dapat hidup rukun dan damai dalam toleransi antar umat beragama.

Categories: Updates | Leave a comment

Madrid – Barcelona, Lawatan Dua Rival Bebuyutan

Journey El Clasico …

Kali ini, perjalanan saya ke Spanyol memberi kesan yang agak berbeda disebabkan oleh adanya kesempatan untuk menyambangi duo klub bola terkenal di Spanyol, bahkan di dunia.  Kehadirannya selalu saja dinantikan dengan antusias oleh para Gibol – penggila bola. Laga El clasico akan selalu diingat sebagai ajang pertandingan bola paling fenomenal dan menyedot perhatian luar biasa.

Kedua stadion menjadi basis mereka berada di Santiago Bernabeu, Madrid dan Camp Nou, Barcelona yang saya kunjungi itu pun konon merupakan situs paling penting bagi kedua kubu musuh bebuyutan yang mencatat Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi sebagai pemain utama mereka dan banyak digandrungi kaum hawa mancanegara. Siapa ya yang tak kenal mereka?

in front of camp nouront of Camp Nou
Dalam perjalanan, Pak Budi Wiharmoko salah satu kawan yang menemani lawatan di Spanyol sempat bercerita mengenai  sejarah panjang di balik perseteruan dan sengitnya tiap pertandingan El Clasico yang digelar. Konon, jika kedua klub ini berlaga, maka seolah mereka sedang melakukan pertarungan perang. Segala persiapkan yang dikerahkan secara maksimal oleh masing-masing kubu bukan hanya sekedar persiapan pertandingan biasa namun seolah seperti persiapan angkat senjata antarwilayah demi memperjuangkan harga diri masing-masing bangsa/suku yang dalam hal ini diwakili oleh kedua klub sohor ini.

Nah usut-usut, ternyata berseteruan berawal dari sejarah bahwa dahulu, hampir keseluruhan wilayah Spanyol/Castila (kecuali daerah Catalan – Barcelona) pernah dikuasai oleh kaum muslimin Moor (sebutan untuk bangsa Arab). Namun setelah wilayah yang dikuasai kaum Moor tersebut direbut kembali oleh kerajaan Kristen, kaum Castila dan Catalan lalu membentuk kerajaan Spanyol Modern. Catalan yang tidak pernah dikuasai oleh suku Moor dianggap sebagai etnis berbeda.

Castila dalam hal ini adalah bangsa selain Catalan (Barcelona) berada dalam kubu Real Madrid menjadi klub kesayangan Kerajaan Spanyol secara keseluruhan. Klub Barcelona yang mewakili Catalonia, dianggap pemberontak lantaran pernah ingin memisahkan diri.

Persaingan ini memicu kebencian hebat di antara dua kubu sampai hingga di era kini. Rivalitas inilah yang membawa mereka bertarung mati-matian untuk dapat menjadi pemenang di tiap pertandingan demi nama baik wilayah mereka (Castila dan Catalan).

inside camp nou

Wah, sepertinya ada hikmah di balik persaingan luar biasa ini ya. Kedua klub akan berjuang sungguh-sungguh dan maksimal untuk menjadi yang terbaik sehingga menghasilkan pertandingan yang benar-benar seru dan mendebarkan. Yang diuntungkan tentu saja para Gibol yang memperoleh tontonan seru dan menegangkan di tiap event pertemuan mereka. Saya pun, akhirnya tertarik untuk menyimak lebih dekat kisah di balik duel El Clasico dan berkesempatan secara langsung mengunjungi kedua stadion dari kedua yang pertandingannya akan selalu penuh daya tarik luar biasa dari penonton seluruh dunia.

Santiago Bernabeu dan Camp Nou, terletak di Madrid dan Barcelona. Jangan dipikir bahwa kedua stadion ini berada dalam kawasan yang berdekatan sebagaimana yang sebelumnya saya pikirkan karena di peta terlihat dekat kan, hehe.  Madrid dan Barcelona berada pada jarak sekitar 621 Km, dengan waktu tempuh sekitar 6 jam lebih dalam kecepatan normal dengan bus atau 2,5 jam via AVE – train cepat.

Kedua stadion ini secara sekilas memiliki banyak persamaan baik secara fisik maupun management. Lihat saja, bentuk stadion dan lapangan. Tentu saja, sepertinya semua lapangan bola terlihat sama, ya?

Interior stadion diolah sedemikian rupa menjadi display pameran berbagai piala hasil prestasi yang telah diraih oleh kedua klub. Bukan itu saja, juga terdapat aneka kostum dari berbagai generasi yang telah ada dengan berbagai warna dan bentuk. Dari yang lusuh, butut , karena dimakan waktu, sampai dengan yang kostum update terkini.

Di akhir perjalanan mengelilingi stadion, para pengunjung yang dipungut biaya € 19 di stadion Santiago Bernabeu dan € 21 di stadion Camp Nou ini dapat membeli atau sekedar melihat-lihat berbagai merchandise club sebagai souvenir dan kenangan-kenangan memorable. Aneka kaos bola Jersey asli, bola, tempat minum, gantungan kunci dan lain-lain tersedia dengan harga premium dan tentunya dijamin ASLI.

Stadion Santiago Bernabeu dan Stadion Camp Nou

stadion real madrid

real madrid2

real madrid fans shop

with messy

fans shop

Barcelona Fans Shop

 FCB

 

 

 

Camp Nou

‘Mes Que Un Club’ (bukan hanya sekedar klub) -  Stadion Camp Nou di Barcelona

 

Categories: Updates | Leave a comment

Pulau Pesta, Pulau Seribu Bule – Gili Trawangan

 

Gili Trawangan, Lombok. Gili artinya adalah pulau kecil.  Di Gili Trawangan, merupakan pulau terbesar dari ketiga Gili yang terdapat di sebelah barat laut Lombok.  Gili Meno dan Gili Air. Letak dari Gili Trawangan cukup tinggi diatas permukaan laut dengan panjang sekitar 3 km dan paling padat penduduknya.  Di tempuh sekitar 20 menit menyebrang dari dermaga dengan menggunakan Speed Boat.

Tadinya terheran-heran ketika tour guide menyebutkan kata lain dari pulau Gili Trawangan yang disebut juga Party Island.  Wow, karena para bule yang berseliweran dimana mana itu sering melalui malam dengan party/pesta till drop di sepanjang kafe-kafe di pusat pulau yang bernama Central.

IMG_1966

Di Central ini, selain kafe di kiri kanan jalan dengan hingar bingar party yang berlaku sepanjang malam, di siang hari banyak terdapat pula toko-toko kerajinan khas ataupun juga butik-butik pakaian a la pantai yang ramai diserbu pembeli.

Luar biasa. Jika waktu itu saya bepergian kesana tidak dalam rombongan Indonesia, mungkin saya akan lupa kalau saya berada di Indonesia. Bagaimana tidak, hilir mudik, kesana kemari akan nampak para bule yang berkeliaran lebih banyak daripada penduduk lokal. Mereka berkeliaran seperti virus. Di pantai, di kafe, di toko-toko, bahkan di kebun kosong yang saat itu kami lalui dengan menggunakan Cidomo, Andong khas Lombok.

Tidak heran jika Gili Trawangan menjadi semakin ramai. Pulau ini menjadi terkenal di dunia dan telah masuk dalam Lonely Planet’s ‘Top 10 Regions’ yang dikeluarkan oleh lonely planet Best sebuah buku panduan perjalanan dan digital media terbesar di dunia dalam edisi best in travel in 2011 karena Keindahan pemandangan bawah lautnya.

Tak perlu bingung mencari tempat menginap. Banyak terserak hotel-hotel dan penginapan dengan berbagai variant harga yang dapat disesuaikan dengan budget. Hotel tersebut kebanyakan terletak di sepanjang pesisir pantai di daerah Central dan sebagian yang lain, tersebar hingga pelosok pulau.

IMG_1990

Berbagai aktifitas yang dilakukan pengunjung pulau aneka bangsa ini. Selain untuk menyaksikan matahari terbit dan tenggelam di sepanjang pesisir pantai, keindahan alam bawah laut yang katanya tersohor tersebut juga menjadi opsi lain. Dan jika opsi melihat alam bawah laut mereka yang diambil, ada baiknya untuk tidak di saat musim hujan seperti yang saya dan rombongan lakukan dimana air laut menjadi keruh sehingga tidak terlalu jelas terlihat keindahannya yang disaksikan melalui Glass Bottom / kapal berdasar kaca.

Untuk menghilangkan rasa penasaran dan memuaskan hasrat melihat keindahan surgawi bawah laut secara langsung,  sebagian teman-teman anggota rombongan kembali  mencoba peruntungan dengan cara Snorkling.

Para ladies sepeda ramai-ramai di Gili Trawangan

Saya yang saat itu tidak terlalu berminat Snorkling, memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi pulau menggunakan sepeda dengan kelompok rombongan yang lain, menyusuri sepanjang jalan Central di Pulau Trawangan. Di pulau ini, kendaraan bermotor tidak diperkenankan dipergunakan untuk mencegah polusi dan untuk menciptakan suasana tenang dan damai. Cara terbaik menikmati keindahan pulau ini selain berjalan kaki  dan bersepeda adalah mengendarai Cidomo.

IMG_1840

Convoi Cidomo – Andong khas Lombok

Para pengunjung Gili ini, selain berburu keindahan alam mereka banyak pula yang menjadikan pulau ini sebagai master point berbagai kegiatan. Selain acara sosialita dari party-party malam yang diadakan oleh turis mancanegara di tiap malam di sepanjang jalan Central, banyak pula kegiatan perusahaan yang diadakan di pulau ini seperti halnya kegiatan Team Building yang saya dan rombongan kantor saya lakukan.

DSC_0552

lombok

lombok4

lombok3

Keindahan dan ketentraman pulau yang jauh dari polusi menambah keakraban para peserta team building dalam melaksanakan kegiatan outbond kecil-kecilan yang bertujuan untuk memadukan dan mengakrabkan seluruh anggota tim. Walaupun sedikit lelah karena jadwal team building yang padat, sepertinya semua terbayarkan dengan segala pengalaman dan keceriaan sepanjang acara yang yang didapatkan.

IMG_1896

IMG_1832Setelah puas mengelilingi pulau Gili Trawangan, di hari kedua rombongan terpaksa harus meninggalkan keindahan pulau menuju Lombok. Dari atas bis di sepanjang perjalanan, indah nian pemandangan gunung dan pantai yang diguratkan seolah lukisan.

Ombak dengan buih-buih putihnya yang menyentuh bibir pantai dengan lembut dengan suara gemuruh ombaknya yang khas. Betapa suatu karunia luar biasa, mendengarkan nyanyian burung Camar sayup-sayup di kejauhan, deru angin dari pohon nyiur yang melambai tergerak oleh angin dan suara ombak di kejauhan, pun alam yang seolah bernyanyi riang di suasana alam yang sangat damai.

2014-02-01 15.29.31

Indahnya pantai Malimbu tambak dari atas

DSCF1753

Sibuk pose. Disaksikan ibu penjual souvenir Lombok

Categories: Updates | 2 Comments

Kekuatan Doa ( My Umra with my Daughter)

Alhamdulillah, keagungan dan kedamaian kota suci di kali kedua kunjungan dapat kembali kujalani dengan nikmat sehat. Lebih menyenangkan lagi karena saya menjalani ibadah ini bersama putri kecilku tercinta, Aurel Raissa yang sungguh bersemangat dalam menunaikan segala urutan ibadah yang wajib dilakukan saat Umrah.

Perjalanan yang kami tempuh, sungguh merupakan penerbangan udara yang benar-benar memakan waktu yang sangat panjang.  Rute yang tentu saja melelahkan untuk seorang dewasa sekalipun, terlebih untuk Aurel yang terhitung masih bocah. Hanya ada travel via Bandung yang memang terpaksa diambil karena hanya rute itulah yang waktunya bertepatan dengan tanggal cuti yang saya ambil untuk dapat melaksanakan perjalanan ini bersama Aurel.

Sanggup, Aurel ? Sanggup Mom! jawabnya lantang dan bersemangat. :)

Yah, dia sanggup. So, let’s rock. Dan kami optimis untuk dapat melakukan perjalanan ini dengan Bismillah.

Bpn – Bjm – Bdg – Sing – DXN – Cai

Perjalanan puluhan jam yang amaat panjang. Di pagi hari di Bandung setelah Transit dari Banjarmasin, saya dan Aurel masih menunggu siang untuk berkumpul bersama peserta lain yang mungkin masih bersiap-siap santai di rumah mereka masing-masing. Di Resto Solar** tempat berkumpul yang tidak bersahabat di daerah Bandara Husein Sastranegara dimana mereka tidak memperbolehkan kami meninggalkan tas koper segede lemari yang dititipkan di meja dimana kami telah menghabiskan makan dan minum hanya untuk pergi ke toilet yang terletak di seberang jalan Resto.

Akhirnya, setelah nego yang alot, dan memberikan kata-kata ‘iklas’ jika tas kami hilang hanya karena kami ke toilet, barulah kami berdua bisa ke toilet. Padahal, jika toilet yang mereka sediakan tidak rusak, tentu saja tidak perlu bersusah-susah ke seberang jalan. Sabar ya Aurel :) Anggap saja ujian pertama kita.

Pun saat transit di Singapore setelah dari Bandung. Waktu transit enam jam lebih sudah membuat Aurel kelelahan dan mendadak panas tinggi. Beruntung, obat-obatan yang sekiranya diperlukan, cukup lengkap saya bawa dan meredakan demam Aurel untuk sementara. Airport Changi yang bersih dan modern, juga cukup nyaman untuk Aurel beristirahat. Teman-teman baru di rombongan juga berbaik hati bahu membahu meringankan kerepotan saya mengurus seorang anak yang sedang sakit.

Ada kisah yag cukup mengharukan ketika akhirnya saya merawat Aurel di musholla Airport tersebut. Aurel terus-terusan merintih karena panas demam yang dia rasakan. Seorang ibu berbusana khas Arab, menghampiri kami di pojok musholla  setelah menunaikan Sholat. Beliau dengan bahasa Inggris yang fasih, mengajak kami berkomunikasi. Ternyata ibu ini orang Mesir dan bertujuan yang sama dengan kami. Dengan tangan lembutnya, lantas ibu ini dengan ketulusannya mengusap wajah Aurel. Duduk disisinya lalu membacakan doa dengan khusyu. Beliau juga mengajak Aurel untuk tetap semangat mengingat perjalanan yang masih sangat jauh, lalu mengusap lagi wajah Aurel lembut dengan tangannya. Mengecut kening Aurel, lalu bangkit berlalu setelah mencium pipi kiri kanan saya. Saya bahkan terpana menatapnya sampai hilang di balik pintu mushalla. Nun jauh di negeri orang, ada saja orang berhati emas yang membuat saya yang sempat merasa khawatir sendiri kembali bersemangat.

Aurel yang tadinya tergolek lemah dan merintih manja, lalu menggenggam tangan kananku erat dengan wajah polosnya.

“Kuat ya Nak.. Sedikit lagi ” Kataku dengan optimis.

“Iya. Aurel cuma capek” jawabnya lirih, namun duduk dengan cepat lalu memasang kaos kakinya.

Alhamduliilah…

Doa memang sebuah kekuatan. Masih juga kuingat betapa DOA juga kupanjatkan khusus setahun kemarin ketika menunaikan Umrah sendirian. Saat itu aku berdoa khusyu, agar bisa kembali berkunjung ke rumahNya dengan belahan hatiku. Allah menjawab doaku bahkan sebelum tepat setahun. Alhamdulillah ya Rabb…

ImageImage

Cairo – Madinah

Rombongan menghabiskan waktu beberapa hari untuk menikmati keindahan kota-kota di Mesir. Aurel masih lemah karena di perjalanan pesawat menuju Cairo, dia masih  tergolek lemah kelelahan. Walaupun sudah tidak demam, namun selera makannya hilang begitu saja. Aurel ku yang riang, kali itu tidak seperti biasa.

Dia hanya banyak menghabiskan waktu tiduran dalam bis di perjalanan kami mengelilingi Cairo dan Alexandria. Namun di Giza, Aurel sudah bisa tersenyum dan bercanda karena melihat Onta di seputaran Piramid Giza yang tersohor. Bahkan Aurel berkali-kali minta di foto dengan latar belakang Onta. Walaupun saya harus mencuri curi dari pemilik Onta, karena jika mereka tau, tentunya mereka meminta bayaran yang sungguh ajaib. :P

Image

Di akhir perjalanan di kota Giza, saya sengaja mengingatkan Aurel sedari check out Hotel untuk mengenakan pakaian Abayat (gamis panjang) karena sore itu kami akan langsung bertolak menuju Madinah. Aurel menurut dan mau mengenakan pakaian dengan warna penutup kepala yang sama dengan yang saya kenakan.

Hal ini cukup menolong dan menghindarkan kami dari saltum alias salah kostum :). Jadi kami tak perlu repot lagi mengganti baju kami setibanya di Madinah yang memang notabene memberlakukan aturan yang ketat soal pakaian. Abayat serba hitam terlihat dimana mana di sekitar airport Madinah. Itu membuat anggota rombongan kami yang berbusana casual warna meriah dan menyala sedari perjalanan di Giza menjadi panik dan alhasil mengganti pakaian mereka dengan terlebih dahulu membongkar isi tas koper mereka setiba di bandara Madinah.

Image

Syukur tak terhingga, ketika tiba di Madinah, Aurel menjadi sangat bugar dan bersemangat ! Seharian menjalankan banyak ibadah di Masjid Nabawi dengan riang. Seringkali kami berjalan kaki sepulang Sholat Ashar memutari jalan lain sekedar mencari makanan Indonesia. Padalah hotel yang kami tempati tepat berada disisi Masjid.

Pun di Makkah, Aurel tetap sehat dan bahkan menjalankan semua ibadah dengan tak kenal lelah. Entah energi dari mana, karena kadang saya pun merasa kasihan dia harus bangun sangat dini hari di pukul 3 untuk bergegas ke Masjid agar tidak berjejal Sholat Subuh. Balik ke hotel di depan masjid untuk sarapan, lalu kembali ke masjid. Begitu saja selama berhari-hari di Makkah. Meskipun namanya anak kecil, kadang Aurel tertidur pulas dalam masjid dari setelah Dzhur sampai menginjak waktu Ashar.

Dengan senang hati dan berbahagia, kami bergandengan tangan berdua pergi dan pulang dari masjid. Sekali waktu, kami bahkan tergelak lepas sambil menikmati ice cream dengan duduk di pinggir toko tak jauh dari masjid. Senyum tak lepas dari wajahnya yang polos. Senaangg sekali, nak membuatmu bahagia. Semoga dilain kesempatan, bisa kembali menikmati momen-momen indah ini bersama abang-abang dan nenek Aurel juga kami sekeluarga. Amiin YRA

Image

1011375_10200257839268900_536475304_n

580273_10200257816428329_1314676697_n

Categories: Updates | Leave a comment

Tidat Terawatnya Makam Imam Besar Syafi’i di Kairo

Kunjungan ke makam Imam besar Syafi’i kala itu berlangsung di hari pertama kedatangan kami di kota Cairo.

Sepanjang perjalanan menuju makam Imam besar tersebut, pemandangan kota Cairo tak luput dari perhatian. Suhu udara berkisar antar 23 – 25 derajat di siang itu namun matahari bersinar terik. Jalan yang macet (kurang lebih Jakarta ya), pekuburan kuno di pinggir jalan utama yang ternyata ditinggali penduduk karena kemiskinan, keledai-keledai yang digunakan sebagai penarik kereta barang dan masjid-masjid tua yang terjaga hingga kini.

Tiba di makam, hari sudah hampir Azhar dan kami bergegas masuk menuju makam yang terlihat kurang terawat baik. Disamping faktor usia bangunan yang sudah sangat tua, lingkungan dimana makam dan masjid berada terletak di tengah-tengah pemukiman yang penuh sesak.

DSC02819 edit

Makam Imam Syafi’i di Basyattin Cairo

DSC02818 edit

Arah masuk ke makam Imam Syafi’i

Imam Syafi’i atau Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i adalah seorang mufti besar Islam yang juga pendiri mazhab Syafi’i. Imam ini tergolong kerabat dari rasulullah ( keturunan dari al-Muththalib, saudara dari Hasyim, kakek Rasulullah). Lahir di Gaza, Palestina di tahun 150 H / 767 M.

Beliau dilahirkan dalam keadaan Yatim dan kurang berada namun dalam keadaannya tersebut, beliau makin giat menuntut ilmu dan hafal keseluruhan isi Al-Quran. Kekuatan hafalan beliau sangat mengagumkan karena apapun kitab yang dibacanya dapat segera dihafalkan dengan mudah. Selain itu, beliau juga memiliki kemampuan berbahasa yang sangat indah. Kemampuan beliau dalam menggubah syair dan ketinggian mutu bahasanya mendapat pengakuan dan penghargaan yang sangat tinggi oleh orang-orang alim yang sejaman dengan beliau.

Imam Syafi’i setelah lama berdiam di Makkah, hijrah ke Madinah lalu ke Iraq dan terakhir di Mesir untuk menyalurkan keilmuan yang beliau miliki. Ketika di Mesir ini pula Imam Syafi’i banyak menulis kitab yang berisi madzhab beliau. Di antara kitabnya adalah Al-Umm, Imla’ al-Shaghir, Jizyah, Ar-Risalah dan lain sebagainya.

Beliau wafat pada bulan Rajab tahun 204 H setelah mengalami sakit selama beberapa waktu.

???????????????????????????????

Selepas menziarahi makam Imam Syafi’i, kami berkeinginan untuk menunaikan ibadah sholat Azhar di masjid yang terletak di samping makam Imam. Ketika alas kaki sudah kami lepaskan, Ahmed nampak bersitegang dengan lelaki tua yang mungkin penjaga masjid.

Beberapa pengemis wanita tua berbaju hitam-hitam nampak berseliweran diantara kami. Mereka nampak sangat memelas namun Ahmed mengingatkan dengan isyarat tangannya untuk tidak memberikan apapun kepada mereka. Kami bertanya tanya dalam hati namun menyimpannya sementara. Tampak raut wajah kecewa diantara mereka dan sebagian melemparkan kode tangan (yang belakangan diketahui bahwa artinya kita pelit ;) ).

Ahmed masih terlibat dialog yang cukup alot dengan penjaga masjid. Dari gerakan tangan dan mimik wajahnya terlihat ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Ia dan beberapa orang yang bersamanya kemudian membawa kembali sepatu yang sudah terlanjur dilepaskan dari kaki dan dijinjing untuk disimpan di rak-rak alat kaki depan pintu masjid.

Ternyata, Ahmed diingatkan untuk tidak membawa rombongan sholat di masjid itu karena beberapa waktu sebelumnya, sejumlah wisatawan yang melakukan sholat disana telah kehilangan seluruh alas kaki mereka. Padahal, sebelumnya kami menyangka bahwa mereka tidak mengijinkan kami sholat karena kami tidak memberikan sedekah kepada mereka. Ya bisa saja Ahmed menutupi percakapan yang sebenarnya wallahu alam, karena saat penjaga masjid itu berbicara kepada Ahmed, para pengemis itu terlihat ikut menyelutuk dan sedikit berbicara keras cenderung memaki kepada Ahmed. Mungkin mereka marah karena Ahmed memprovokasi kami untuk tidak memberikan uang kepada mereka.

Di dalam bis, mulailah Ahmed bercerita bahwa ia mengingatkan agar tidak memperdulikan pengemis-pengemis tersebut karena ternyata mereka hanyalah orang-orang malas yang memanfaatkan wisatawan. Sebenarnya kata Ahmed, mereka memiliki rumah yang besar dan bagus bahkan diatas rata-rata. Ohh begitu ? Ya sama saja seperti pengemis di Indonesia.

Dan di sepanjang jalan dari arah makam Imam Syafi’i, terlihat pemukiman warga yang nampak kurang teratur. Di jalan yang sempit dan padat, saya sempat memperhatikan sisi sebelah kiri kanan jalan yang dipenuhi aktifitas warganya. Anak-anak kecil berwajah ganteng yang lucu dengan baju yang lusuh, ibu-ibu yang sibuk memberi makan kambing diantara kardus-kardus bekas, dan beberapa orang yang nampak duduk termenung dengan pandangan hampa menatap ke jalan. Sebagian potret dari masyarakat Cairo majemuk.

Keadaan kota Cairo

DSC02816 edit

DSC02895

Categories: Updates | Leave a comment

Misteri Piramida Giza, Dibangun oleh Alien

Ini dia Piramida Giza. Sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia, Piramida ini merupakan Piramida tertua dan terbesar seantero bumi. Dibangun sebagai makam untuk Firaun di dinasti Khufu (Cheops) dan terletak di Nekropolis Giza, Mesir,  dengan masa pembangunan selama 20 tahun pada sekitar tahun 2560 SM.

DSC02943

Piramida Giza

Piramida Khufu atau Piramida Agung Giza adalah bagian utama dari kompleks bangunan makam dan merupakan Piramida terbesar dari 3 Piramida utama. Selain Piramida Khufu, di sebelah barat daya terdapat pula Piramida Khafre (penerus Khufu yang juga sebagai pembangun Sphinx Agung). Beberapa meter lebih jauh lagi ada pula Piramida Menkaure, anak dari Khafre (cucu dari Khufu tentunya).

DSC02999

Sphinx Agung

Kata tour leader kami, Banyak sekali pekerja yang membangun Piramida ini pada waktu itu yaitu diperkirakan sekitar 20.000 – 30.000 pekerja dalam kurun waktu 80 tahun untuk ketiga Piramida. Wow,  sangat banyak sekali.

Piramida Khufu dibuat dengan struktur berupa empat sisi triangular dan dasar segiempat sama sisi. Tingginya sekitar 148 meter. Namun karena erosi, maka piramida itu kini hanya memiliki tinggi 137 meter yang tediri dari 203 undakan. Dengan jumlah batu sekitar 2,5 juta blok batu yang masing-masing seberat 2 ton hingga 70 ton, berat piramida sekitar 6,5 juta ton, sehingga menjadi bangunan terberat dan sekaligus rekor bangunan tertinggi di dunia selama 3.800 tahun.

Pada ukuran tersebut, Piramida Giza dapat terlihat dalam radius yang sangat jauh bahkan sampai ke bulan. Beruntung sekali, tempat kita menginap pada waktu itu adalah di Hotel Le Meridien Pyramids. Di sisi belakang dan depan hotel, kita juga dapat menyaksikan pemandangan Piramida Giza dengan sangat jelas dan memukau.

DSC02917

Piramida Giza di belakang Hotel. Sangat jelas dan memukau

DSC02921

Di depan Hotel Le Meridien Pyramids

Arsitek piramida tersebut pastinya sudah memiliki pengetahuan yang luar biasa untuk menentukan lahan lokasi pembangunan yang kuat dan mampu menahan beban luar biasa  di jaman yang masih primitif tersebut. Karena itulah, ada kalangan yang juga hampir meyakini bahwa piramida tersebut bisa jadi pembuatannya dilakukan oleh makhluk angkasa luar / Alien, walaupun hal ini tentu saja masih belum ditemukan bukti yang cukup kuat sampai saat ini.

DSC02977

Piramida Khufu, Khafre dan Menkaure

Misteri piramida yang belum terjawab ini, tentu saja membuat kesempatan untuk mengunjunginya menjadi sangat luar biasa. Demikian pula yang saya rasakan. Beberapa meter berdiri dari bangunan tersebut, membuat saya lalu berpikir jauh kebelakang. Berpikir seolah-olah saya adalah orang yang hidup di masa piramida itu dibuat. Membayangkan bagaimana sebuah batu yang cukup berat berpindah menjadi undakan yang luar biasa tinggi dan sangat besar. Tentu saja, saya lalu menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Saya tak kuasa menjawabnya namun yakin satu hal. Jika memang dibangun oleh manusia masa lampau di Mesir yang hidup pada masa itu, note ; primitif, maka mereka adalah orang-orang yang sangat luar biasa.

DSC02964

Di depan Piramida Giza, terlihat pintu masuk menuju kedalam Piramid.

DSC02947

Pose bersama. Sebelah paling kanan adalah Ahmed, Tour Leader asli Mesir yang fasih berbahasa Indonesia.

Sebagai catatan, di lokasi ini cukup rawan dengan pihak-pihak yang memanfaatkan situasi. Banyak wisatawan luar yang karena ketidaktahuannya menjadi korban dari para calo foto. Jangan terburu buru dan gegabah meminta bantuan dari orang-orang lokal yang terlihat berseliweran di lokasi tersebut. Adakalanya tanpa dimintapun mereka dengan tanggap akan menawarkan bantuan untuk mengambil foto. Setelah foto selesai diambil oleh mereka, mereka akan mematok biaya yang ‘menakjubkan’ untuk sebuah bantuan yang kita pikir adalah sukarela.

Ada juga yang berlagak seolah-olah petugas daerah tersebut dan manakala mereka melihat orang berfoto lalu dengan sekenanya meminta tarif karena menurutnya berfoto disana akan dikenai biaya tertentu. Tentu saja hal itu tidak benar karena di awal masuk bukankah kita sudah membayar sebanyak 30 L.E untuk biaya tiket masuk. Selain itu, jika kita berfoto dengan berlatar belakang Onta atau mengambil foto Onta seperti nampak pada gambar berikut, pemilik Onta  juga akan bergegas menghampiri kita dan meminta kita membayar sejumlah uang. Haha, matre semua ya. Jadi, berfotolah seolah olah kita hanya mengambil latar belakang Piramid walaupun sebenarnya Onta pun termasuk dalam foto kita.  Judulnya ; you cheat, i cheat you:P

DSC02938

DSC02934

Foto berlakang belakang Onta tanpa membayar ke pemilik Onta.  Perlu triks khusus ;)

 

artikel yg sama di : http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/05/20/piramida-giza-dibangun-oleh-alien-561795.html

Categories: Updates | Tags: , | Leave a comment

Menyimak Mumi Firaun dari Dekat

Banyak hal yang melatarbelakangi perjalanan saya ke Mesir di masa musim panas yang baru saja berlalu. Keterkaitan antara rasa keingintahuan yang semakin besar akan ajaran agamis yang baru saja saya mulai pelajari dengan berbagai literatur yang terkait.

Satu kutipan yang membuat rasa keingintahuan itu begitu besar adalah ketika pernah saya membaca  mengenai Nabi Musa dan Firaun yang dikaitkan dengan adanya ayat yang diturunkan terkait hal tersebut ;

Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami. [QS. 10:92]

Begitulah, Allah SWT menjaga tubuh Fir’aun tetap utuh walaupun tertelan lautan, untuk menjadi pelajaran dan sebagai tanda-tanda kekuasaan-NYA bagi orang-orang yang datang sesudahnya. Bukan hanya kisah tenggelamnya Fir’aun yang menjadi pelajaran dan sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah SWT, akan tetapi juga tubuh fisiknya.

Dari sini, yang dipetik dalam kalimat tersebut yang dikaitkan dengan tenggelamnya Firaun dalam Al-Quran, yaitu mayat Firaun dijaga utuh oleh Allah, SWT.

Dengan cara bagaimana?

Mayat-mayat Firaun (Raja) Mesir akan selalu dibalsem atau diawetkan karena mereka mempercayai bahwa para Firaun yang yang memerintah semasa hidup, diwaktu mereka meninggalpun akan menjadi Raja di alamnya. Untuk itulah jasad mereka senantiasa diusahakan untuk diawetkan dengan sebaik-baiknya.

Proses pengawetan dilakukan dengan cermat dimana isi perut mereka semua dikeluarkan dan ditempatkan diwadah khusus kecuali hati. Demikian pula dengan otak dan biji mata. Jasad tubuh diawetkan sedemikian rupa dengan berbagai formula rempah yang mereka kuasai di jamannya. Setelah itu jasad akan di mumi dengan kain dan disimpan dalam makam yang dipenuhi oleh berbagai peralatan sebagaimana kala si Firaun masih hidup. Ribuan tahun lamanya mumi – mumi tersimpan sampai kemudian ditemukan, termasuk mumi Ramses II yang dipercayai sebagai Firaun di jaman Nabi Musa, AS.

Didorong oleh rasa keingintahuan yang sangat besar dalam sejarah tersebut itulah , maka hasrat saya untuk berkunjung ke museum dimana Ramses II tersimpan sudah sejak lama saya pendam. Sampai akhirnya saat itu tiba dan saya berkesempatan mengunjungi Museum dimana mumi dari Ramses II tersimpan yaitu di kota Kairo, Mesir.

Adapun mumi dari Ramses II ini dalam penelitian yang telah dilakukan oleh Tim peneliti Perancis telah diketahui positif mengandung garam, dan berdasarkan analisa mereka bahwa Ramses II pernah tenggelam dan kemudian segera dapat diselamatkan. Ketika itu akhirnya jasadnya segera diawetkan sebagaimana protokoler kerajaan di masa itu.

DSC02826

Museum Nasional Mesir, tempat mumi Firaun disimpan

Kami segera masuk setelah membeli tiket lalu menyimak Ahmed sang Tur Leader menjelaskan berbagai sejarah mengenai para Firaun yang ada di Museum. Museum yang dingin dan kaku. Berbagai barang sejarah yang tak ternilai banyak tersebar dimana mata memandang. Banyak pula peralatan dan perhiasan Firaun yang terbuat dari emas berseliweran di sepanjang perjalanan menuju lantai II dimana mumi Firaun disimpan. Kata Ahmed, untuk penataan berbagai peninggalan tak bernilai ini, telah dibangun Museum yang lebih besar lagi yang terletak di Giza dan akan menjadi Museum terbesar di dunia.

Sayang sekali, kita tidak diperkenankan membawa kamera kedalam Museum dan mereka menjaganya dengan sangat ketat di berbagai lapisan pintu masuk. Tidak apa, toh saya masih memiliki kamera HP untuk berjaga-jaga.

Setelah puas berada di lantai satu yang berisi berbagai artefak masa lampau jaman Mesir Kuno, segera kami melesat ke tujuan utama di mana disimpannya mumi-mumi kerajaan. Di lapisan pintu masuk yang entah sudah keberapa, kita masuk ke ruangan tersebut setelah membayar lagi sebanyak 150 L.E (1 LE/Pounds ; Rp. 1500,-).

Masih terasa bagaimana bulu kuduk bergidik kala akan memasuki ruangan. Disana ada sekitar 23 mumi yang disimpan rapi dalam tabung kaca yang dilengkapi sejenis alat elektronik yang berfungsi sebagai pengatur suhu mumi. Saya sempat ragu dan merinding ketika akan memasuki kamar tersebut namun segera saya kuatkan hati karena inilah kesempatan yang belum tentu akan sering saya dapatkan lagi. Melihat mumi dalam keadaan sebeneranya secara nyata didepan mata saya sendiri.

Ramses

Inilah Mumi Firaun Ramses II

Diantara mumi-mumi itu, mumi Ramses II lah yang menarik perhatian dan menjadi focus kebanyakan pengunjung yang berada di kamar tersebut. Terlihat menyeramkan namun begitu menakjubkan ketika mengetahui bahwa usia dari mumi tersebut sudah berkisar lebih dari 3,000 tahun lamanya. Inilah tanda kebesaranNya sebagaimana ayat yang ada diatas. Bahwa tubuhnya dijaga tetap utuh agar dapat menjadi pelajaran bagi kita semua untuk dapat memaknai tanda-tanda kebesaranNya.

DSC02828

DSC02822

Categories: Updates | Tags: , , , | Leave a comment

Geliat Tari Perut di Atas Kapal Pesiar Sungai Nil

Menggetarkan dan tak terlupakan. Itulah kenangan yang tersisa dan mungkin sulit dihapus setelah mengarungi dan membelah keindahan sungai Nil di Mesir pada malam hari itu.

DSC02855

Sungai yang terpanjang di dunia ini mengalir dan membelah tak kurang dari Sembilan Negara di Afrika termasuk di Mesir tentunya. Identik dengan negeri Cleopatra ini karena  memiliki arti dan peranan penting dalam peradaban, kehidupan dan sejarah bangsa Mesir sejak ribuan tahun yang lalu.

Kapal-kapal dagang banyak berlayar sepanjang sungai  yang memuat banyak sejarah agamis. Saya tak akan membahas mengenai hal tersebut namun yang pasti pada masa kini, juga banyak kapal – kapal  pesiar untuk wisata yang memanfaatkan sejarah sungai Nil sebagai komoditi pariwisata mereka.

Pun kami pada malam itu, tak melewatkan kesempatan untuk berlayar mengarungi keindahan sungai Nil dengan menggunakan kapal pesiar besar Nile Cruise bertarif $30 per orangnya. Dengan tarif ini kami dapat menikmati makan malam prasmanan yang lumayan spesial diatas kapal pesiar dengan suguhan hiburan khas Mesir dalam durasi sekitar dua jam lamanya.

Sempat terjadi adu pendapat dan sikap antara  ustadz yang turut dalam rombongan dengan Ahmed, Tur Leader lokal yang menemani kami dalam pelayaran malam itu. Pak ustadz sedikit keberatan jika kita mengadakan cruise menggunakan kapal yang salah satu tariannya adalah tari perut khas Mesir tersebut.  Namun karena merasa bahwa tarian yang akan dibawakan adalah ciri khas Mesir dan hanya sebagian dari pertunjukan, banyak peserta yang merasa sayang untuk menghilangkan kesempatan itu. Lagipula, soal penafsiran Tari Perut, menurut mereka itu adalah tergantung sudut pandang dan pemikiran masing-masing individu.

Akhirnya atas kesepakatan bersama, secara mufakat ditentukan bahwa kita tetap akan pergi berlayar dengan  kapal cruise, namun para lelaki boleh meninggalkan sementara ruang makan tempat acara jika ada tarian perut yang dimaksud.

DSC02830

Sebenarnya, saya pun memiliki rasa penasaran yang dalam tentang tarian perut.  Banyak pro kontra yang saya baca sebelumnya mengenai tarian yang mempertontonkan bagian tubuh perut wanita ini. Sejatinya, dahulu tarian ini dipergunakan sebagai tarian persembahan untuk dewa dan firaun / raja. Masyarkat Mesir menganggap tarian ini sebagai warisan budaya leluhur kuno yang harus dilestarikan dan akhirnya menjadi komoditi wisata bernilai tinggi (terlepas dari cara pandang masing-masing orang yang melihatnya dari berbagai sudut).

Wanita cantik yang mengenakan pakaian minim yang kurang lebih sama dengan pakaian Belly Dance, mulai muncul ke tengah arena show up dan sedikit demi sedikit menari lincah meliukkan perutnya diiringi irama mendayu dari sekumpulan pemain musik Mesir di sudut panggung. Penari ini belakangan diketahui bernama Manar. Berusia sekita tigapuluhan tahun. Info ini tentu saja saya dapatkan dari Ahmed, yang rupanya sudah kenal betul dengan situasi dan kondisi kapal pesiar karena terbiasa membawa tamunya kesana.

DSC02835

Liukan perut penari perut yang ber ‘perut’ :D

Namun yang jarang diketahui, sebenarnya selain tarian perut ini, masih ada lagi tarian tradisional Mesir yang juga tak kalah menakjubkan. Setelah penari bernama Manar itu tampil dalam durasi sekitar limabelas menit, muncul penari lain yang ternyata seorang laki-laki. Penari ini mengenakan baju tradisional gemerlap yang bagian bawahnya nampak seperti rok lebar payung.

Dengan diiringi musik tradisional khas Mesir, ia lalu menari  Tannura seperti tarian Dervish Dance atau tarian Darwis yang berasal dari Konya, Turki. Rok lebar berwarna warni cerah tadi diliukkan dalam tarian dan nampaklah pemandangan indah yang dihasilkan dari berputarnya penyanyi tersebut. Bahkan di salah satu atraksi, penari bertubuh proporsional ini menyalakan lampu-lampu di bajunya sehingga semakin gemerlaplah kostum yang ia kenakan. Setelah menari berpuluh-puluh menit dalam aneka atraksi, tidak terlihat sedikitpun kalau penari itu pusing. Hebat !

DSC02845

Tannura Dance, persis Dervish Dance / Tarian Sufi

Saat pertunjukan Tannura, Pak ustadz dan beberapa lelaki lain yang tidak ikut menyaksikan tarian perut kembali masuk ruangan dan duduk bersama melihat si penari menunjukkan penampilan terbaiknya. Terlihat kalau mereka sudah santai dan tenang turut membaur. Namun, alangkah mengejutkan dan tak terduganya kala kemudian Manar kembali masuk dan mulai kembali menari. Pakaian yang dikenakannya sudah berganti dan terlihat lebih seksi menonjolkan bagian perut dan dadanya.

OMG … Saya lirik bapak-bapak anggota rombangan kami termasuk pak Ustadz  yang kemudian mengalihkan pandangan ke jendela kapal cruise, menyibukkan diri dengan menatap pemandangan sungai Nil di malam hari yang penuh lampu. Tampak serba salah karena sudah terlanjur masuk lagi kedalam ruangan.

Sedangkan pengunjung lain, mulai kembali sibuk turut bergoyang pelan mengikuti irama musik yang mendayu-dayu. Si penari terus meliuk liukkan perutnya yang gemuk dan mungkin sudah pernah memiliki anak. Tapi tetap saja, para lelaki yang berasal dari aneka bangsa yang memenuhi ruang pertunjukan tak mengalihkan pandangan mereka ke liukkan tubuh penari sampai di akhir pertunjukan. Dan ketika musik berakhir dan Manar berlalu, jamuan makan malam yang berupa aneka menu khas makanan Mesir pun dimulai.

DSC02851

Kudapan yang lezat

Dari kejauhan, di pintu masuk pertunjukan, Ahmed nampak tersenyum penuh makna. Puas rupanya si Tur Leader berbakat ini karena telah berhasil membawa kami untuk menyaksikan pertunjukan kebanggaan negerinya. Pertunjukan yang berhasil memberikan pemasukan yang sangat lumayan bagi devisa negara berpenduduk mayoritas muslim tersebut.

Categories: Updates | Leave a comment

Alexandria, Kisah Kudeta Raja Istana Montaza

Kemasyuran kota Alexandria yang menjadi kota terbesar kedua di Mesir setelah Kairo ini membuat langkah kaki menuju kota tersebut pada hari itu menjadi sangat ringan dan riang. Ditempuh dengan perjalanan sejauh kurang lebih 3 jam dari Kairo, berangkat setelah sarapan kami tiba di Alexandria pada pukul 10.30 pagi.

Kota ini merupakan kota pelabuhan terbesar di Mesir karena letaknya yang berada di pinggir laut Mediterania. Oleh karena pantai-pantainya yang indah itu pula, banyak wisatawan menghabiskan waktu musim panas untuk berlibur disana.

Sejak di awal masuk kota Alexandria, kota ini terlihat lebih rapi tertata dan bersih dibandingkan dengan Kairo. Nuansa bangunan khas Eropa yang berwarna putih gading dan kecoklatan juga banyak mendominasi  sepanjang perjalanan dalam kota. Usut-usut,  ternyata  nuansa  ini dibawa oleh bangsa Perancis pada saat Napoleon Bonaparte melakukan lawatan ke Mesir diakhir abad 17.

Di kunjungan ke Alexandria ini, kisah Raja Farouk yang digulingkan oleh kudeta dan istana Montaza yang tersohor menjadi antusiasme dominan bagi saya. Namun selain tempat tersebut ada beberapa tempat yang pastinya tidak akan kami lewatkan yaitu ke Pompeys Pillar dan Citadel Qaitbay Fort.

DSC02880

Itinerary pertama, kami berkunjung ke Pompeys pillar ( Amoud Al- Sawari), pilar raksasa peninggalan Romawi kuno yang dulunya dipakai sebagai tempat peribadatan bangsa Romawi.

Walaupun sebenarnya badan ini masih terasa lemah karena sisa kantuk dan jetlag perjalanan yang dilakukan sebelumnya menuju Mesir, tiket 15 pounds yang telah kami pegang sepertinya harus menyamangati langkah-langkah kami untuk menuju gerbang masuk area Pompeys pillar. Saya akhirnya cukup menyaksikan pillar tersebut dari kejauhan karena saat itu debu berterbangan ditiup angin yang berhembus kencang.

DSC02862

Pompeys Pillar

Sayup-sayup Ahmed, TL kami menjelaskan Pompeys dengan detail. Dasar otak saya lagi blank dan ngantuk, yang terdengar seperti nyanyian dosen pada saat kuliah. Membuat saya  yang sudah terduduk bersandar di tembok beralas marmer yang dingin menjadi terlena, setengah hilang sadar alias ‘fly away’. Maaf ya Ahmed … :P

pompeys

Pompeys Pillar dari kejauhan

Sesaat sebelum kunjungan di pompeys tersebut berakhir, saya menyempatkan membeli beberapa pernik oleh-oleh di beberapa toko di area Pompeys. Aneka magnet kulkas, gantungan kunci dan pernik-pernik mungil lain khas Pompeys dijual dengan kisaran harga 20 – 30 EGP (Eqyptian Pounds).

Sempat bertemu pula di area pintu keluar dengan grup yang berasal dari China. Mereka mengucapkan salam kepada saya yang kedapatan sedang memperhatikan mereka sejak dari pintu masuk. Subhanallah, mereka yang terlihat begitu santun dengan baju muslim yang mereka kenakan itu juga menyapa saya dengan anggukan dan senyum ramah. Ketika saya mengajak mereka berbicara, mereka membalas dalam bahasa China dan gerakan isyarat yang menyatakan bahwa mereka tidak berbahasa Inggris.  Ya mungkin juga mereka sebagaimana anggota grup saya juga diajarkan untuk tidak sembarangan berbicara dengan orang asing untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. It’s okey, keramahan kalian sudah cukup membuat kesan mendalam :)

Berikutnya, kami meluncur ke satu situs lain bernama Citadel Qait Bay. Bangunan  pertahanan yang didirikan Sultan Qaitbay Al Zahiry pada tahun 1468 – 1496 M ini dimaksudkan sebagai benteng untuk menghadang gempuran pasukan Turki, Dinasti Usmani. Bangunan ini terletak di pinggir laut, kokoh berdiri menantang ombak.

Bau amis laut tercium sayup-sayup ketika kami menyempatkan untuk photo stop di tempat ini. Pengunjung yang terlihat seperti penduduk asli terlihat ramai bercengkrama di pinggiran tembok sepanjang pantai sekitar benteng.

qaitbay

Benteng Qaitbay Fort

DSC02873

Kereta kuda depan Qaitbay Fort

Hari  semakin siang dan menjadi terik. Perut sudah terasa lapar ketika saat yang bersamaan, Ahmed mengajak kami untuk makan siang di sebuah resto dengan hidangan khas Mesir. Katanya, kali ini kita akan makan siang dengan  ikan segar ! Hmmm, jadi teringat pengalaman makan ikan di resto di pinggir teluk menuju Canakalle, Turki. Bau ikan yang khas masih benar-benar terasa,  baca : masih amis. :P. Berakhir dengan jackpot setiba di Canakalle dikarenakan saya tidak makan ikan dan santapan. Untuk itu, sebelum masuk resto di pinggir laut mediterania itu saya berdoa sungguh sungguh dalam hati, semoga ikan yang saya makan tidak amis dan menguras isi perutku lagi.

Syukurlah, ternyata hidangan ikan yang disajikan lumayan enak. Ada asinan yang super asin sebagai makanan pembuka, roti arab, lalu ikan sejenis Sarden segar yang di goreng dan disajikan bersamaan dengan nasi merah sebagai makanan utama. Saya habiskan seluruh makanan saya. Disamping lapar, saya juga tidak mau pengalaman jackpot dan masuk angin terulang kembali di perjalanan kali ini. Terimakasih untuk mbak Ratna yang memberi saya dan Aurel saos sambal asli  botol yang dibawanya dari Indonesia. Makannya jadi tambah semangat :)

DSC02879

Kelar makan siang yang lumayan tadi, perjalanan kami lanjutkan ke istana Raja Farouk dan Taman Montaza. Wilayah  seluas sekitar 155 hektare ini pernah ditinggali sebagai kediaman Raja Farouk yang merupakan keturunan terakhir dari Dinasti Muhammad Ali yang menjadi penguasa Mesir sejak abad ke-19. Raja ini ternyata dalam sejarahnya adalah raja yang suka berfoya-foya dan menjadi tidak disukai rakyatnya sehingga digulingkan lewat kudeta militer. Konon, dimasa sulit perang dunia II dimana sebagian rakyatnya hidup dengan keprihatinan, raja Farouk tetap gemar hidup dalam kemewahan. Dia bahkan meminta agar seluruh lampu istananya dinyalakan terang menderang ketika seluruh rakyatnya diminta untuk memadamkan lampu dengan alasan efisiensi.

Kudeta yang dilakukan oleh Gamal Abdul Nasser ini  merubah sejarah kepemimpinan sistem kerajaan Mesir menjadi sistem republik dimana Gamal Abdul Nasser lalu menjadi pemimpin selanjutnya di Mesir. Raja Farouk  lalu hidup dalam pengasingan di Monaco dan kabarnya meninggal ketika berada di jamuan makan di Italia.

486759_4839602788197_1436548635_n

Sejak saat itu, istana ini dipergunakan sebagai tempat menjamu tamu-tamu kenegaraan dikarenakan letaknya yang strategis di tepi pantai Mediterania. Taman Montaza yang ditanami berbagai bunga dan tumbuhan cantik nampak indah terhampar di depan istana.

DSC02890

DSC02893

Fose berlatar belakang laut Mediterania

Categories: Updates | Leave a comment

Jelajah Masjid Masa Lampau Kairo

DSC02747

 Citadel Saladin

Mengunjungi negara Mesir di akhir bulan April yang merupakan musim panas, sungguh menjadi momen yang pas jika ingin suasana eksotik dengan background padang pasir yang khas.

Mesir seperti umum diketahui, sebuah negara yang sangat kaya budaya dengan peninggalan bangunan-bangunan masa lampau yang berusia ratusan bahkan ribuan tahun lamanya. Bangunan yang paling terkenal yang berasal dari negara ini yaitu Piramida Giza yang dibangun di abad 26 SM, tempat para Firaun atau raja Mesir dimakamkan, menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia.

Namun, di kunjungan hari pertama hari itu di kota Kairo, tempat pertama yang kami pijak adalah Citadel atau Benteng Saladin yang merupakan landmark kota Kairo. Berada di puncak bukit bernama bukit Mokattam yang terletak tak jauh dari pusat kota Kairo dimana kita bisa memandang keseluruhan kota Kairo yang  terlihat sangat indah dari atas Citadel.

Konon, Benteng ini dibangun oleh Sultan Saladin atau lebih dikenal dalam sejarah kita bernama Sultan Salahuddin Ayyubi yang pada masa itu dibangun sebagai benteng pertahanan dari para musuh Mesir, dengan bebatuan yang diambil dari bukit Mokattam dan bukit sekitar.

DSC02752

Gaya TL kami, Ahmed Saber yang bersemangat menjelaskan detail sejarah Benteng Saladdin

Terdapat dua mesjid kuno dalam kompleks Citadel ini yaitu Masjid Muhammad Ali Pasha dan Masjid Al Nasir Muhammad Ibn Qalaun. Keduanya sama indah dengan ciri khas yang unik.

Masjid Muhammad Ali  yang bergaya Ottoman atau Turki dibangun oleh Sultan Muhammad Ali Pasha untuk mengenang anaknya yang meninggal bernama Tusun Pasha. Diperhatikan secara seksama ternyata Masjid ini memiliki kemiripan dengan Masjid Blue Mosque atau masjid Sultanahmed Turki pada bagian interior dan hiasan-hiasan lampu yang terdapat dalam masjid.

DSC02764

Bagian tengah Masjid Muhammad Ali

DSC02786

Detail bola lampu yang mirip dengan Masjid Blue Mosque, Istanbul

DSC02794

Diantara mimbar / tempat penceramah berkutbah pada jaman dulu

DSC02796

Dikompleks yang berdekatan, Masjid Al-Nasir Mohammad Ibn Qalaun dibangun sebelum Masjid Muhmmad Ali Pasha oleh Al-Nasir Mohammad Ibn Qalaun. Lebih dikenal sebagai masjid Benteng karena bangunan ini berbentuk khas benteng, persegi dan dikelilingi tembok batu yang kokoh. Dibangun pada periode dinasti Bahri Mamluk.

DSC02808

DSC02758

Walau tak banyak, jika ingin membeli souvenir khas Cidatel atau khas Kairo, di depan masjid Muhammad Ali terdapat beberapa toko yang menjual aneka buah tangan atau  oleh-oleh untuk kerabat. Rata-rata souvenir dijual dari harga 5-10 pound ( 1 pound = Rp. 1,500)

DSC02797

Selain itu, terdapat pula dalam kompleks ini beberapa museum yaitu, Al Gawhara Palace Museum, Carriage Museum, Egyptian Military Museum dan Egyptian Police Museum.  Silahkan menjelajahnya suatu saat nanti karena saat itu museum dalam kondisi tutup dan kami belum berkesempatan mengunjunginya.

Sebenarnya, waktu yang ada agak terbuang percuma karena kami tergoda untuk berfoto baju khas Mesir. Diantara kami antri untuk berganti kostum Cleopatra dan baju-baju khas Mesir lalu ambil pose foto di area Cidatel dengan bermodal 20 Pounds per pose . Sebagai catatan, hasil foto  pada saat grup kami tidak recommended ! Tidak bagus dan nampak seperti pemeran Nenek Lampir di film Brama Kumbara dengan rambut palsu Cleopatra yang lebih mirip rambut penyanyi Reggae. :D

Tidak heran, foto juga diambil tergesa-gesa dan asal jepret. Lalu kita menunggu cukup lama untuk hasil foto yang dicetak satu persatu dengan cara manual. Hehehe… yah jadi pelajaran berharga.  Next, lebih berhati-hati dan lihatlah hasil foto terlebih dahulu untuk memastikan bahwa foto kita cukup layak untuk cetak.

Dan di panas matahari yang kian menyengat di suhu yang sejuk itu tak mematahkan semangat untuk memuaskan pandangan mata di atas puncak Citadel di depan Masjid Muhammad Ali. Sungguh mempesona keadaan seluruh kota Kairo dipandang dari  atas  sana. Terlihat pula masjid Madrasah Al Hasan yang terlihat agung dan antik. Jangan takut jatuh tertiup angin kencang yang berhembus, tembok batu yang kokoh sebagai pemisah ternyata cukup aman untuk dipijak dan diduduki.

DSC02799

Categories: Updates | Leave a comment

Jelajah Kepulauan Derawan – Ubur-ubur Purba di Danau Kakaban

Mengunjungi Kepulauan Derawan sungguh kesempatan yang luar biasa dan dinantikan. Kepulauan  yang terletak di Propinsi Kalimantan Timur ini menjadi salah satu objek wisata bahari utama yang menjadi pilihan favorit turis asing setelah Raja Ampat.  Berada di sebelah timur Tanjung Redeb, atau sisi barat laut Sulawesi dan terdiri dari banyak pulau indah.

Diantara pulau-pulau indah itu ada beberapa yang paling terkenal dan banyak di kunjungi diantaranya adalah pulau Derawan, pulau Sangalaki, pulau Kakaban dan pulau Maratua.

IMG_0729

Pilihan Favorit Wisata bahari setelah Raja Ampat

IMG_1353

DSC02602

Keindahan kepulauan ini konon pamornya sudah ke manca negara. Tidak heran, ketika kita tiba di Bandara Kalimarau, bandara ini terlihat sibuk dan padat oleh arus wisatawan.

IMG_0496

Bandara Kalimarau di Berau

IMG_0493

Untuk rute perjalanan menuju ke kepulauan ini bisa di tempuh dengan dua rute utama yang lazim dipergunakan. Dari Balikpapan, Kalimantan Timur, perjalanan bisa dilanjutkan via pesawat menuju Tarakan atau Berau. Jika anda memilih via Balikpapan-Tarakan, maka setiba di kota Tarakan, perjalanan akan dilanjutkan melalui laut dengan menggunakan seatruck/ boat perahu mesin selama kurang lebih 3 jam. Namun, jika anda merasa lebih nyaman dengan perjalanan darat, jalur Balikpapan – Berau adalah opsi yang sebaiknya dipilih. Dari Berau,  perjalanan darat selama 2,5 jam akan ditempuh untuk kemudian menyeberang ke kepulauan Derawan di dermaga  Tanjung Batu selama hanya kurang lebih 20 menit saja.

IMG_0527

Pelabuhan Tanjung Batu

Di kesempatan mengunjungi kepulauan ini, saya melakukannya bersama rombongan kantor saya di PT. Elnusa, Tbk dalam kegiatan Team Building for operation dengan total peserta  yang berjumlah sebanyak 34 orang.

Keberadaan kami yang hiruk pikuk dengan keramaian anggota rombongan yang beragam polah, cukup menambah kepulauan yang bersuasana syahdu dan tenang menjadi sedikit semarak.

NOKIA Lumia 800_000086

Rombongan Team Building Elnusa

DSC02431

Perjalanan dimulai di pukul 14.25 di Balikpapan – Berau, tiba pada pukul 15.30 sore di bandara Kalimarau, Berau. Dilanjutkan perjalanan darat  lalu menyeberang dengan dua buah seatruck charteran. Konvoi mobil selama kurang lebih 2,5 jam berlalu tak terasa karena dipenuhi gurauan-gurauan riang para anggota rombongan yang berjalan beriringan dengan menggunakan 9 unit mobil. Tidak adanya armada bus sebagai penunjang transportasi darat mungkin bisa dipertimbangkan bagi pemerintah Berau jika ingin lebih menggeliatkan pariwisata yang menjanjikan ini di daerah mereka.

IMG_1440

Tiba di pulau Derawan, boat  langsung menambatkan tali pengait di dermaga resort terbaik di pulau Derawan. Hari telah menjelang malam namun setelah menata diri dengan bebersih dan meletakkan tas ransel, kami masih menyempatkan menghibur diri di waktu malam dengan acara malam kekerabatan yang dilakukan didalam resto Delawan yang terletak dalam wilayah resort.

Tak henti masing-masing peserta mengucapkan puji syukur karena telah diberikan kesempatan untuk melakukan perjalanan yang menjadi impian kebanyakan dari mereka. Gelisah menanti malam berganti pagi agar esok hari kami semua bisa segera menyusuri seluruh pulau-pulau yang telah hadir tepat di depan mata.

DSC02448

Menanti pagi segera terbit

DSC02438

Mengisi waktu sebelum pagi menjelang

DSC02454

Mengisi Waktu sebelum pagi menjelang (2)
Photo taken by : Toni BSA

Di pagi buta di hari kedua,  hampir semua anggota rombongan bangun pagi karena tak ingin kehilangan kesempatan berburu matahari terbit di ujung dermaga resort. Semburat matahari yang tersembul malu-malu diantara awan abu-abu kegelapan di pagi itu tidak mengurangi keindahannya diantara panorama laut yang sangat indah. Sesekali, terlihat beberapa ikan-ikan kecil berlompatan dan bayangannya nyata di beningnya air laut.

IMG_0642

Matahari yang pemalu
Photo koleksi pribadi

DSC02482

Pagi yang indah…seindah awan bermandikan cahaya matahari
Photo koleksi pribadi

IMG_1353

Pasir putih di sepanjang pantai
Photo taken by : Toni BSA

Pulau Sangalaki

Perjalanan di pagi itu ternyata dimulai di jam delapan pagi setelah sarapan yang lezat di resto resort. Menggunakan boat charteran yang sebelumnya digunakan mengantar  rombongan ke pulau derawan. Tujuan pertama adalah pulau Sangalaki dimana banyak terdapat penyu / kura-kura untuk menyaksikan tukik atau anak penyu yang akan menuju pantai setelah menetas.

DSC02436

Ramai canda tawa di dalam boat
Photo koleksi pribadi

Sayang sekali, timing kami kurang tepat ternyata. Sepertinya tur guide lokal miskoordinasi dengan koordinator resort di pulau Sangalaki.  Penyu (kura-kura) akan naik ke darat untuk bertelur di malam hari sampai dengan waktu subuh.  Jadi jika ingin melihat langsung proses penyu bertelur tersebut, ada baiknya menginap satu malam di resort kecil yang berada di pulau Sangalaki.

Para Tukik atau anak-anak Penyu yang baru menetas akan berjalan perlahan ke laut lepas pada sekitar sore hari. Kaki-kaki kecil mereka akan berjalan menuju laut untuk perlahan hilang dalam gulungan ombak.

DSC02545

Resort di Sangalaki
Photo koleksi pribadi

Untuk meredakan kekecewaan karena tidak dapat menyaksikan Tukik, akhirnya kami bermain-main di pantai Sangalaki yang berair bening dan hangat. Indah sekali. Terdapat pula dermaga yang menjadi objek foto yang sangat cantik dengan background laut yang maha luas. Berwarna biru  kehijauan yang sejuk, luar biasa indah dipandang mata. Sayupnya angin yang berhembus, matahari yang bersinar ramah dan tidak terlalu terik  akhirnya mendamaikan hati yang sedikit kecewa.

100_3490

Photo taken by : Aldo Mumek

IMG_0816

Indahnya kebersamaan
Photo taken by : Toni BSA

IMG_0825

DSC02569

Photo taken by : Toni BSA

Pulau Kakaban

Dari Sangalaki, boat meluncur  menuju sebuah pulau yang kesohorannya sudah mendunia. Pulau ini menjadi  tempat yang diburu para snorker dan diver manca Negara karena keindahan alam bawah laut yang dimilikinya. Selain itu, terdapat Ubur-ubur purba yang tidak beracun atau slingless Jellyfish yang banyak terdapat di dalam danau yang terletak di tengah pulau yang banyak dipenuhi oleh pohon mangrove. Konon, di dunia hanya ada 2 tempat dimana ubur-ubur jenis ini bisa ditemukan, yaitu di Palau – Filiphina dan di pulau Kakaban – Indonesia.

kakaban-island-map

DSC02576

IMG_0944

Letak danau yang berada di tengah-tengah pulau ini berada sedikit diatas permukaan laut dengan kedalaman danau sekitar 17 meter yang terdalam. Memerlukan perjalanan mendaki lalu menuruni tebing bertangga sekitar 10 menit dari pantai untuk mencapai danau ini. Cukup melelahkan namun setelah tiba di tujuan, rasanya terbayar sudah rasa lelah karena takjub dengan keindahan danau yang menyejukkan mata.

DSC02579

Menuju Danau Kakaban
Photo : Koleksi Pribadi

Danau Kakaban

Danau Kakaban
Photo taken by : Lia Purwanti

IMG_0867

Photo taken by : Toni BSA

Pulau  ini menjadi daya tarik luar biasa bagi para pencinta kelautan karena keindahan alam dan keanekaragamanan biota laut yang dimilikinya.  Untuk yang tidak mahir berenang, tidak usah khawatir karena biasanya tur agen sudah mengatur disediakanya pelampung yang akan membuat kita lebih aman dalam menikmati indahnya taman laut yang banyak tersebar di kepulauan sehingga menjadi pengalaman yang sangat sulit untuk dilupakan.

IMG_0935

IMG_0877

IMG_0903

IMG_0919

Snorking diantara Jellyfish
Photos taken by : Toni BSA

Adapun spesies Ubur-ubur yang hidup di danau ini adalah species yang berbeda dimana mereka telah kehilangan system pertahanan alamiah mereka dikarenakan kurangnya predator utama yang bertubuh besar di danau berair payau hangat ini.  Sangat aman berenang  diantara mereka karena jenis ini tidak menyengat sebagimana Ubur-ubur biasa. Yang menakjubkan, kita bisa bebas menyentuh dan memegangnya perlahan agar tak merusak tubuh Ubur-ubur purba ini yang lembut seperti jelly.

Photo0025 (2)

Underwater : Photo taken by : Benny Setiawan

IMG_0883

jellyfish

IMG_0886

IMG_0951

Maratua

Pulau Maratua menjadi  pulau terakhir di perjalanan di hari itu. Nama Maratua menurut beberapa penduduk setempat berasal dari kata “mertua”.  Entahlah.  Yang pasti, salah satu keunikan Maratua adalah reef garden  yang tidak jauh dari pesisir, dimana terlihat terumbu karangnya  bertebaran di sekitar pantai. Cukup berjalan saja, kita bisa menyaksikan terumbu karang itu dengan mata telanjang. Dengan menggunakan alat snorkling, kita bisa menjumpai Mollusca – hewan lunak dengan maupun tanpa cangkang seperti kerang-kerangan, Crustacea – hewan laut berbuku-buku seperti Udang, Kepiting dan lainnya serta mahluk laut lain yang membuat kita berdecak kagum.

Nampak pohon kelapa tumbuh tinggi menjulang yang berderet rapi di sepanjang pantainya yang berpasir putih. Pantai yang sedang surut saat itu menampakkan pasir dengan pola gelompang yang rapi dan cantik, menutup perjalanan kami di akhir sore yang romantis.

IMG_0994

IMG_1017

IMG_0998

IMG_1009

Pantai Maratua yang indah
Photos taken by : Toni BSA

Pengaturan Perjalanan

Karena kepopulerannya, kini kepulauan Derawan semakin ramai dikunjungi berbagai wisatawan baik lokal maupun internasional. Pun begitu, dikarenakan letaknya yang lumayan jauh dan harus melalui beberapa titik pemberhentian, diperlukan kecermatan yang tepat dalam mengatur perjalanan agar waktu tidak terbuang sia-sia karena harus mengatur dan mencari transport, hotel, boat, dll.

Sebagai catatan, jika memiliki waktu perjalanan yang terbatas dan dengan  jumlah anggota yang terhitung  banyak, alangkah baiknya jika perjalanan dibantu oleh travel agent lokal yang sudah terbiasa mengatur perjalanan mengelilingi kepulauan Derawan.

Untuk biaya paket lengkap tur lokal, rata-rata di patok di angka Rp. 2 jutaan diluar biaya pesawat.  Ini sudah termasuk  transport penjemputan airport ke dermaga Tanjung Batu – PP, biaya seatruck, makan dan minum, biaya tiket masuk daerah wisata serta hotel selama 2 (dua) malam.

Categories: Updates | 1 Comment

Mata Biru Pengusir Roh Jahat

Adat kebiasaan orang Indonesia untuk masalah oleh-oleh sepertinya sama dan umum. Di tiap kesempatan berkunjung ke suatu tempat yang baru, yang terpikir adalah membeli oleh-oleh untuk kerabat dan teman-teman terdekat.

Pun demikian halnya saya. Di tiap perjalanan dan di tiap persinggahan, tradisi yang satu ini hampir tak terlewatkan dan menjadi momen yang menyenangkan.

Saat hunting barang souvenir untuk oleh-oleh di Turki,  banyak sekali ditemui hiasan dengan ikon mata berwarna biru. Bahannya terbuat dari batu atau terkadang dari bahan batu sintesis namun dengan ikon sama yaitu satu mata berwarna biru. Penduduk  setempat menamakannya Nazar Boncugu atau Mata Biru / Blue Eyes.
mata biru

Apa ya gunanya?  pikir saya selalu karena benda ini bisa ditemui dimana mana.  Di tempat penjualan souvenir, di hiasan dinding, stiker-stiker, bahkan di pintu rumah penduduk. Nah, ketika bertanya kepada salah satu pedagang yang dagangannya terdapat benda dengan ikon ini, ia menjelaskan bahwa warna biru dalam Mata Biru ini dipercaya secara turun temurun sebagai alat pengusir roh jahat.

DSC01742

Mata Biru dimana mana

 

DSC01861

Mata Biru Banyak Ditemukan di Sini

 

DSC01866

Mata Biru ditemukan dalam berbagai bentuk dan produk. Perhiasan, gantungan kunci mobil, magnet kulkas, dompet, kaos, dan lain-lain. Bahkan di satu tempat di Cappadocia, si mata Biru di gantungkan diatas sebuah pohon  yang berdiri tegak di atas suatu puncak lembah yang bernama Pigeon Valley / Lembah Merpati.

Pohon ini dipenuhi Mata Biru yang digantungkan di antara dahan-dahannya sehingga nampak  seperti berdaun Mata Biru. Terlihat cantik sekali sehingga ramai  para pengunjung Cappadocia berpose di bawah pohon tersebut.

DSC01315

 

Categories: Updates | Leave a comment

Kuliner Turki – All ’bout Food and Food

Apa yang lebih menantang di tiap perjalanan daripada misteri makanan yang akan menghadang kita setibanya di tujuan? Yup, makanan jadi faktor penting yang mengundang keingin tahuan kita termasuk makanan di Turki yang sangat beraneka ragam.

Makanan di Turki, kalau boleh saya berkata jujur ; awalnya agak kurang cocok dengan lidah saya yang awam. Semuanya serba maniiisss… creamy, serba terong, serba kacang. Hehe…
Untungnya, saya si pemakan segala ini suka nekat mencoba makanan apa saja yang nampak di depan mata. Semuanya di coba saja, lalu perlahan mulai pandai membedakan mana yang pas di lidah, mana yang agak kurang berkenan.

Kebab

Ini dia. Mana sih yang katanya Kebab dari Turki. Secara, di Indo saja Kebab itu ada dimana mana sampe ke pelosok kampung. Tapi, saking banyaknya aneka ragam makanan yang disantap, baik di hotel, di resto, bus stop dll, ternyata hanya dua kali Kebab ini ditemui. Pertama kala makan siang di perjalanan menuju Ankara, dan satu lagi ketika sedang menunggu teman – teman berbelanja di Grand Bazar Istanbul.

Kebab artinya daging. Jadi secara fisik, kebab yang biasa kita makan di Indonesia itu hanya variasi dari berbagai jenis masakan kebab. Jadi tidak melulu disajikan bersama  roti yang membungkusnya. Pun kebanyakan Kebab disana juga dipanggang/diasap bertumpuk dengan alat penusuk sebagaimana yang kita lihat di kebab Turki di Indonesia.

DSC01975

Kebab Hot Plate

Resto Gua Batu Dede Efendi

Di Cappadocia, makan siang kami terasa lebih mempesona karena diadakan di restaurant yang juga dari gua batu. Nama restaurant itu sangat familiar dengan nama orang Indonesia atau suku Sunda tepatnya karena bernama ‘Dede Efendi’. Awalnya, saya pikir pemilik resto ini bisa jadi orang Indonesia yang sudah lama bermukim di Turki dan membuka usaha restaurant. Usut-usut ternyata Dede Efendi adalah nama seniman Turki yang terkenal. Tepatnya, dia adalah seorang komponis musik klasik Turki yang meninggal di tahun 1846. Beliau adalah pencipta notasi Hampasum, notasi dominan untuk musik Turki.

DSC01875

Di Resto ini, arsitekturnya memang mengikuti kontur tanah gua dengan warna aslinya yang khas. Interior didalamnya pun di desain simple jadi terasa seperti di gua sungguhan.

DSC01871
Menu yang disajikan kala itu adalah sup krim lezaattt sampai minta tambah berkali-kali (lapar atau enak ya), dengan roti yang dilanjutkan menu utama berupa sesendok nasi samin dan ikan bakar fillet yang enak. Entah ikan apa, karena ketika ditanya ke pelayan, mereka hanya tersenyum-senyum tebar pesona. Maklum, mereka hanya bisa berbahasa inggris sepotong-sepotong. Ya sudah, dinikmati saja ya makan siangnya ;)

DSC01874

Makanan Penutup

Basbousa
Untuk makanan penutup, mereka sepertinya selalu mempunyai Basbousa untuk disajikan. Makanan super manis ini hampir selalu kami jumpai di tiap penutup makan kami. Rasanya legit, super manis dan tekstur yang lembut.

basbousa

Ice Cream
Mereka punya Ice Cream dari susu kambing yang diolah dengan menggunakan ekstrak akar anggrek untuk membuat ice cream mereka menjadi liat dan tidak gampang tumpah dan cair.
Dimana-mana terlihat penjual Ice Cream ini mengenakan baju khas mereka dengan gerobaknya. Tingkah mereka yang lucu sangat atraktif dan mengundang tawa.

DSC02027

IMG_3745

Yogurt Kambing dengan Biji Opium
Opium ?? Wowww. Ya biji opium di Turki dijadikan garnis untuk Yogurt Kambing yang mereka sajikan. Jangan khawatir, biji opium ini ternyata tidak menimbulkan efek memabukkan atau apapun karena hanya getah opium saja yang diolah menjadi madat. Biji opium dikeringkan dan diolah untuk dijadikan garnis yang menyertai yogurt selain madu.

DSC01749

 

Intinya,  coba saja semua makanan yang ada. Rasakan dan nikmati sensasi perbedaan bumbunya yang khas perpaduan Arab, Eropa dan Asia. Kalau terasa hambar, yah kalau mau lezat bawa garam sachet sendiri untuk menambah cita rasa. Jangan lupa pula yang sebaiknya dibawa seperti tip yang sudah-sudah, yaitu ; sambal sachet andalan kita. Bagi saya yang lidahnya terbiasa pedas, tentu saja ini menjadi item yang WAJIB dibawa.

:)

Photos will talk more than words

Turkish Delight

Manisnya Turkish Delight

Manisnya Turkish Delight

Resto Ikan di Penyeberangan Ferry Eceabat

DSC01576

Deretan Resto Ikan di Kumkapi, IstanbulDSC02021

Kestane

DSC01527

DSC01534

Dried Fruits

DSC02016

Roti Simit

IMG_2905

simit

Categories: Updates | Leave a comment

Kota Flintstones Cappadocia

“Yabba dabba doo!

Pernah membayangkan tinggal di gua sebagaimana tokoh karakter kartun Fred Flintstone & Family ? huaa… di Cappadocia masih terdapat pemandangan unik dimana terdapat kota bawah tanah yang seluruhnya dipahat dari batu.

fred_flintstone
Di tengah era modernisasi yang sedang melanda bangsa Turki, ternyata disana masih terdapat sebuah kota bawah tanah yang seluruh bangunannya dipahat dari batu. Ya, persis seperti kota Flinstones di film kartun yang dulu sering kita tonton dahulu saat masa kecil ;) . Sungguh mengagumkan dan membuat decak kagum karena bangunan gua dari batu itu sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Untuk itulah, Cappadocia masuk dalam salah satu jajaran UNESCO World Heritage Site.

DSC01905
Cappadocia terletak sekitar 200 mil di selatan Ankara, ibukota Republik Turki dan membentang antara Gunung Taurus dan Laut Hitam. Saya sendiri pergi ke Cappadocia dari Izmir, wilayah selatan Turki. selama 13 jam plus istirahat sebentar diperjalanan. Jauhnya perjalanan tentu saja terbayar dengan apa yang saya dapatkan di tempat ini.

DSC01939

Kota ini pertama kali diukir oleh bangsa Het dari kerajaaan Hittites lebih dari 3.000 tahun yang lalu. Kerajaan Hittites merupakan salah satu imperium termaju di dunia kuno yang berkuasa dari 1700 SM sampai 1190 SM.

DSC01947
Bebatuan sedimen yang terbentuk dari material vulkanik sekitar 9 sampai 3 juta tahun yang lalu, yang terkikis oleh angin dan hujan sehingga membentuk seperti menara dan pilar. Bebatuan itu di jaman ribuan tahun yang lalu sudah diukir menjadi rumah gua yang mereka tinggali dan juga terdapat gereja dan biara. Bayangkan, bangunan ini sudah ada sejak jaman kekaisaran Romawi lho namun masih terlihat dalam kondisi yang cukup baik hingga detail interior didalamnya.

DSC01907

DSC01886
Berada di lokasi ini seolah olah kita sedang hidup dan tinggal pada jaman Fred Flinstones :D

DSC01943

DSC01919

IMG_3678

Pemerintah Turki membangun dan memelihara kawasan wisata Cappadocia dengan sangat baik. Dapat dicapai dengan jaringan transportasi bus, kereta api, dan penerbangan dari kota Ankara dan Istanbul. Wilayah Cappadocia yang dikelilingi beberapa kota, seperti Hacibektas, Aksaray, Nigde, dan Kayseri, bisa dikunjungi sepanjang tahun. Jika ingin menikmati puncak musim dingin dimana wilayah ini diselimuti oleh salju, datanglah pada bulan Januari. Namun jika ingin menikmati seutuhnya, datanglah di puncak musim panas di bulan Juni, dimana pada saat ini kawasan ini akan sangat ramai sekali dengan pengunjung karena merupakan musim liburan sekolah. Adapun saya, berkesempatan mengunjunginya di musim gugur yang romantis. Daun-daun menguning, musim yang dingin namun belum bersalju.

DSC01967

di musim gugur yang romantis

Dimasa ini, memang rumah-rumah di Cappadocia tidak lagi ditinggali oleh penduduknya, namun mereka mengubahnya menjadi hotel mewah, restaurant, museum, bahkan butik-butik mewah. The Goreme Open Air Museum adalah situs yang paling banyak dikunjungi oleh para turis di Cappadocia.

DSC01876

Restaurant Kaya (Batu) Dede Efendi. Sumpah, bukan punya orang Sunda lho ya. :P

Jika ingin menyaksikan keseluruhan panorama dari Göreme, dapat dilihat diatas suatu lembah yang terlihat seperti burung Merpati sehingga dinamakan Pigeon Valley.

DSC01315

Pohon Mata Biru di Lembah Pigeont Valley

Hmm, saya membatin saat naik ke bus yang membawa kami pulang ke hotel setelah kunjungan. Hebat sekali ya, saya kagum dan salut dengan pemerintah Turki yang pandai dan gigih merawat situs-situs alam dan budaya mereka dengan sangat baik untuk dapat disaksikan seluruh pengunjung dari manca Negara.

Categories: Updates | Tags: , , | 4 Comments

Artemis di Ephesus, Izmir

Dikisahkan bahwa ternyata di jamannya,  Ratu Cleopatra pernah berbulan madu di kota Ephesus pada suatu saat di musim semi.

Ephesus, Kota Yunani Kuno di sebelah barat dari Anatolia, kota Selçuk, Provinsi Izmir. Kota ini adalah salah satu dari dua belas kota dari liga Ionian dalam sejarah pemerintahan Yunani kuno.

DSC01628

Depan Ottoman Clock Tower, Izmir

Sebelum perjalanan menuju  kota kuno Ephesus, dalam perjalanan kami singgah sebentar di Ibukota Provinsi Izmir yaitu Kota Izmir. Kota ini terkenal dengan para wanita cantik. Sampai-sampai mereka mengibaratkan, diantara sepuluh wanita di Izmir, maka yang cantik ada sebelas orang.

DSC01632

Salah satu gadis Izmir yang tertangkap kamera :)

Kami juga menyempatkan mampir sejenak untuk foto stop di depan patung Meryem Ana (Siti Maryam/Bunda Maria). Sebagian teman-teman yang lain juga berkesempatan mengunjungi rumah Meryem Ana yang berada di satu kawasan dengan Ephesus pada satu hari sebelum kunjungan ke Ephesus.

Rumah Bunda Maria atau disebut “Panaya Kapulu” terletak di selatan Ephesus di kaki Gunung Bülbül yang tenang dan berpemandangan indah. Pada awalnya,  Meryem Ana dibawa  ke Ephesus oleh pengikutnya karena Yerusalem sudah dianggap tidak aman lagi. Meryem Ana ditinggal  dan  akhirnya meninggal di tempat ini. Baru pada akhirnya tahun 1891, rumah ini ditemukan sesuai dengan detail yang digambarkan oleh Biarawati Catherine Emmerich.

DSC01666

Patung Meryem Ana

DSC01647

sementara menunggu teman-teman mengunjungi rumah Meryem Ana

Perjalanan kemudian dilanjutkan esok harinya ke Ephesus. Disini ada candi terkenal dengan nama candi Artemis. Selesai dibangun 550 SM, merupakan satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno, candi ini di robohkan  di tahun 401 oleh massa yang di dalangi oleh St.John Chrysostom.

Ephesus dulunya adalah kota yang dikuasai oleh Lysimachia, salah seorang jendral perang Alexander Agung. Sepeninggal Alexander Agung, wilayah-wilayah taklukan di perebutkan dan dibagi-bagi oleh para jendralnya karena  Alexander mati muda dan tidak mempunyai anak sebagai penerusnya. Ephesus kemudian dikuasai oleh Kekaisaran Romawi pada 88 SM. Sempat terjadi pemberontakan, tapi kemudian berhasil dikuasai kembali oleh Romawi dibawah pimpinan Lucius Cornelius Sulla dua tahun kemudian, 86 SM.

Diceritakan bahwa Kaisar Romawi Mark Anthonius dan Ratu Mesir Cleopatra pernah berkunjung pada musim semi ke Ephesus pada 33 SM untuk berbulan madu. Pada masa kaisar Augustus, 27 SM, Ephesus dijadikan ibukota untuk provinsi Anatolia Barat dari Kekaisaran Romawi, sejak inilah Ephesus berkembang menjadi kota besar masa itu. Puncak kejayaan Ephesus terjadi pada abad ke-2 Masehi. Gempa juga pernah menghancurkan kawasan ini.

Tur yang kami lewati berawal  dari puncak bukit, dimana sejarah kota ini berawal. Pilar-pilar marmer berjejer di sepanjang jalanan masuk yang juga terbuat dari batu marmer.

DSC01678

Ada beberapa bangunan utama di kawasan kota kuno ini diantaranya yang sempat saya ingat;

Odeon –  teater yang dibangun oleh Vedius Antonius di tahun 150 Masehi merupakan ruang perjamuan dan pertunjukan untuk skala sekitar 1500 an orang .

DSC01670

Theatre Odeon

Candi Hadrian – Candi dari abad ke dua,  tetapi mengalami pemugaran pada abad ke empat dan telah didirikan kembali  dari bongkahan  reruntuhan yang masih selamat. Relief bagian atasnya adalah imitasi, dan aslinya ada di pajang di Museum Arkeologi Selçuk Kusadasi,Turki. Dapat disimak pula dalam gambar mata uang Turki pecahan 20 Lira.

DSC01680

Candi  Domitian –  Theater atau stadion multi. Selain sebagai tempat pendidikan juga untuk pertunjukkan budaya dan gladiator.  Menjadi tempat dimana dulu para Gladiator saling bertarung. Gladiator adalah budak petarung dan konon, budak tersebut bisa membeli kebebasannya jika telah memenangkan seratus pertarungan.

DSC01693

Mendaki tangga-tangga menuju Domitian / Gladiator

Gladiator,  tugasnya hanya untuk bertarung melawan sesama Gladiator maupun binatang buas. Mereka adalah para petarung yang sangat kuat di zaman Romawi Kuno. Pertarungan mereka menjadi konsumsi publik yang exclusive di jaman itu dan sangat dinantikan. Semakin cepat mengalahkan lawannya, maka semakin hebat Gladiator itu dan tepuk tangan akan semakin membahana dan bergemuruh.

gladiator___wikimedia

Ilustrasi Gladiator – Wikipedia

DSC01697

Tempat Gladiator

Masih banyak lagi bangunan-bangunan yang kami lewati termasuk diantaranya reruntuhan pasar kuno, juga sarana-sarana umum lain seperti perpustakaan Celsus, jalan-jalan kota dengan pilar-pilar di kiri kanannya, rumah sakit, Hamam (pemandian umum), ‘Rumah Cinta’ yang berseberangan dengan perpustakaan. Diketahui kemudian bahwa ternyata ditemukan lorong bawah tanah yang menghubungkan antara Perpustakaan Celsus dengan ‘Rumah Cinta’ ini. Jadi ketika para istri ke pasar, para lelaki pamit ke Perpustakaan, tapi sebenarnya ke ‘Rumah Cinta’.  Dari jaman dulu ternyata banyak juga laki-laki hidung belang ya. :P

DSC01686

Perpustakaan Celsus

Yang juga menjadi ciri khas kota Romawi adalah toilet umum untuk para bangsawan dan orang-orang kaya saja. Dudukannya berdekatan tanpa sekat, dan dikaki mereka mengalir air buat cebok. Kasian orang yang berada di paling ujung, menggunakan air bekas orang-orang sebelumnya. Jadi kebayang mereka buang air sambil melihat orang disebelahnya juga melakukan kegiatan yang sama

Selcuk_20110604_0106_Ephesus

DSC01672

ini bukan kucing jaman Romawi Kuno … :P

Di akhir kunjungan, sempat pula ditampilkan pertunjukan a la Romawi Kuno oleh theatre lokal di area Ephesus kota kuno. Sayang, kamera yang saya gunakan sudah terlanjur low batt sehingga tidak berkesempatan untuk mengabadikan pertunjukan yang menarik tersebut.

END

Ramai-ramai di depan hotel

Ramai-ramai di depan hotel

DSC01656

Categories: Updates | Leave a comment

Museum Mevlana Jalaluddin Rumi, Konya

Jalaludin Rumi atau nama lengkapnya Maulana/ Mevlana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri adalah sang pujangga sufi dari tanah Persia. Selain penyair dia juga tokoh sufi yang berpengaruh di zamannya. Lahir pada 30 September 1207 Masehi di Balkh sebuah kota kecil di kota Khurasan, Afghanistan dan meninggal pada 17 Desember 1273 Masehi di Konya ,Turki.

Mevlana-and-Sham
Mevlana Rumi atau Jalaluddin Rumi, mengekspresikannya tulisannya dalam bahasa cinta yang syarat makna. Melalui puisi-puisinya Rumi menyampaikan bahwa pemahaman atas dunia hanya mungkin didapat lewat cinta, bukan semata-mata lewat kerja fisik. Dalam puisinya Rumi juga menyampaikan bahwa Tuhan, sebagai satu-satunya tujuan, tidak ada yang menyamai.
Kumpulan puisi Rumi yang terkenal bernama al-Matsnawi al-Maknawi. Konon adalah sebuah revolusi terhadap Ilmu kalam yang sudah kehilangan semangat dan kekuatannya. Isinya juga mengeritik langkah dan arahan filsafat yang cenderung melampaui batas, mengebiri perasaan dan mengkultuskan rasio.
Ciri khas lain yang membedakan puisi Rumi dengan karya sufi penyair lain adalah seringnya ia memulai puisinya dengan menggunakan kisah-kisah. Tapi hal ini bukan dimaksud ia ingin menulis puisi naratif. Kisah-kisah ini digunakan sebagai alat pernyataan pikiran dan ide.

Tempat dimana Rumi mendirikan sekolah dan tempat dimana kemudian beliau dimakamkan itulah kemudian didirikan museum Mevlana.

Museum Mevlana

Museum Mevlana

DSC01769

DSC01783

Museum ini juga disebut Istana Kebun Mawar atau Rose Garden karena banyak ditanam bunga mawar aneka warna. Di musim semi, akan tampak ribuan bunga mawar yang mekar dan semerbak mewangi diseluruh area museum.

DSC01785

sisa-sisa mawar mekar di musim dingin

Ditempat itu pula dulu pernah menjadi pondok atau sekolah untuk para darwis , yang lebih dikenal sebagai whirling dervishes.

Zikir adalah salah satu tuntunan Nabi Muhammad SAW untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Jalaluddin Rumi, kemudian mengembangkan metode zikir dengan gerakan berputar yang dikenal sebagai ”Dervish Dance”.

Teknik menarikan ”Tari Darwis” sangat mudah. Inti gerakan tari ini adalah berputar yang dilakukan searah jarum jam dan dilakukan terus-menerus. Gerakan ini simbol alam semesta yang selalu berputar mengelilingi garis edar masing-masing.

Tangan kanan menghadap ke atas sebagai simbol menerima karunia Allah dan tangan kiri menghadap ke bawah yang bermakna hendaknya manusia memberikan cinta kasih kepada sesama.

Terkadang masyarakat awam mengira orang yang menari Darwis kesurupan karena bisa berputar-putar begitu lama. Tidak, mereka bukan kesurupan. Mereka justru tengah berada dalam kesadaran yang tinggi, mampu mengidentifikasi keadaan di sekitarnya dengan lebih baik. Ini berujung pada kesadaran siapa diri kita sebenarnya

Whirling dervishes

Tarian Darwis / Sufi Berputar

whirling dervishes.
Memasuki area museum melalui gerbang utama ke halaman marmer-beraspal. Air mancur terletak di tengah-tengah halaman itu dibangun oleh Yavuz Sultan Selim. Adapun sebelum masuk kedalam museum ini kita diwajibkan untuk melapisi sepatu atau alas kaki kita dengan plastik yang disediakan.

Alas kaki plastik Photo taken by : Fitri

Alas kaki plastik
Photo taken by : Fitri

DSC01774

Dapur para Darwis

Di dalam museum, terdapat dapur para darwis (Matbah) dan Hurrem Pasha. Makam terletak di sisi kanan. Di sisi kiri adalah 17 bilik darwis yang berjejer dan ilustrasi Rumi yang sedang berdiskusi dengan sahabatnya. Konon, Rumi bisa menghabiskan waktu berhari-hari lamanya untuk berdiskusi dan dari diskusi itu menghasilkan ide-ide karyanya.

DSC01779

Disebelah kiri, terdapat koleksi Masnavis (buku puisi yang ditulis oleh Mevlana), Al-Quran dan sajadah bergambar, juga sebuah kotak tertutup kaca berisi jenggot nabi Muhammad, SAW.

IMG_1518

Dalam wadah ini terdapat jenggot Nabi Muhammad, SAW

Makam Mevlana

Makam Mevlana

DSC01781

Pose sebelum pulang

Satu philosophy dari Mevlana Rumi yang akan terus teringat adalah ; bahwa manusia terlahir untuk mati, jadi berbuat baiklah kita kepada semua orang.

Subhanallah. Sungguh tiada kata-kata lagi yang menggambarkan rasa puas di batin saya karena telah berhasil menyusuri salah satu situs kebesaran Islam di masa lampau. Semoga dampak kunjungan ini membawa banyak hal-hal positif yang dapat mempengaruhi kehidupan saya untuk menjadi  manusia yang lebih baik lagi di kemudian hari. Amiin YRA.

DSC01792

Postcard untuk souvenir dari Konya

Categories: Updates | 5 Comments

Adat Unik Di Pamukalle – Jelajah Turki

Seorang ayah akan meletakkan botol bekas minuman ke atas atap rumah mereka jika keluarga tersebut memiliki anak perempuan yang telah siap untuk menikah.

IMG_3102

Dikisahkan langsung oleh Luna dan katanya hal itu dilakukan agar pemuda-pemuda sekitar dapat mengetahui signal tersebut. Satu botol untuk tiap gambaran anak perempuan. Jika si anak perempuan ada dua, maka mereka akan terlihat memiliki 2 botol di atas atap rumah mereka. Jika anak perempuan mereka masih muda dan langsing maka botol yang digunakan adalah botol kaca yang langsing. Namun, jika anak perempuan mereka gemuk dan berumur, botol yang digunakan juga adalah botol berukuran besar yang terbuat dari plastik. Dan tidak ingin jika pemuda yang mengincar terkecoh dan merasa dibohongi, botol akan dipasang terbalik jika anak perempuan mereka sudah pernah menikah alias  janda. Hehe, benar – benar istiadat yang unik ya. Terbayang, jika kebiasaan ini berlaku di Indonesia, mungkin ayah saya akan memasang botol galon aqua di atas atap rumah saya. :P

Kisah mengenai adat istiadat unik tersebut didapat ketika bis yang kami tumpangi melintas di desa yang dimaksud di  daerah Pamukalle, Turki. Daerah Pamukalle  ini memang juga menjadi salah satu tempat yang kami kunjungi selama di Turki selain tempat-tempat lainnya.

Pamukalle

Hari sudah beranjak sore ketika kami memasuki wilayah Pamukalle untuk mengunjungi sebuah situs alam di Propvinsi Denizli Turki Barat sekitar 18 km dari provinsi denizli. Untuk menuju ke sana, kita bisa naik jasa travel atau bus yang tersedia di bandara menuju tujuan Istanbul Atasher. Dari situ kita lanjutkan perjalanan menuju Denizli ottogar.  Di tempat ini terdapat dua lokasi wisata  yakni Hierapolis dan Travertines.

Gerbang Hierapolis

Kawasan Hierapolis

Tujuan utama para turis manca atau lokal yang berkunjung ke Pamukalle biasanya adalah ke Travertines. Sebelum ke Travertines, kita akan melewati Kota Kuno Hierapolis. Banyak reruntuhan bangunan koa tua jaman Romawi. Bernama Hierapolis (Hiera:dewi Hera, Polis : Kota) karena dulunya disini terdapat kuil Hiera.

Dan setelah berjalan jauh melalui Herapolis, tibalah di tempat Travertine. Disini akan kita temui sumber air panas yang berbentuk terrace.  Mineral karbonat yang dibawa oleh air  mengalir menuruni lereng gunung dan mengendap perlahan sehingga sepanjang penggunungan menjadi menyerupai air terjun beku berwarna putih yang bertingkat-tingkat. Disini kita diminta untuk melepaskan alas kaki untuk menikmati hangatnya air yang mengalir.

kawasan Travertines dari atas

indahnya Sunset di pamukalle

Di daerah yang paling puncak, terlihat pemandangan sekitar Pamukalle yang sangat indah. Apalagi saat itu sedang sunset, langit bersemu kemerahan dan redup. Ditambah hawa yang dingin, angin yang sayup-sayup basah, maka suasana menjadi sangat syahdu dan romantis. Puas-puaslah mengabadikan keindahan alam Pamukalle. Merendam atau membasahkan diri ke airnya yang hangat dalam hawa yang dingin, atau sekedar bercanda gurau sambil memandangi keindahan panorama sekitar.

Bersama Luna. Tur Guide  ;)

menikmati air hangat alami

Santai, lupakan dunia..nikmati hangatnya sumber mata air panas

Setelah puas dan kembali turun menuju pulang, jangan lupa membeli aneka souvenir khas yang dijual di toko-toko souvenir yang banyak terdapat disana.

Categories: Updates | Leave a comment

Legenda The Troy – Jelajah Turki

Lumayan juga ya. Sebuah kota menjadi terkenal seantero dunia karena legenda kotanya di filmkan dan diperankan oleh seorang actor terkenal. Siapa sih yang tidak kenal dengan actor tampan Brad Pitt si pemeran Film The Troy ?

Bagi yang sudah pernah atau bahkan berkali kali nonton film ini tentu masih ingat kuda raksasa yang terbuat dari kayu yang digunakan  tentara Yunani untuk menembus kota Troy. Kuda raksasa inilah yang menjadi kejutan manis yang diberikan Luna sebelum menuju ke situs kota Troy yang bernama Hisarlik. Luna, si tur guide lokal, gadis cantik dan baik hati asli Turki yang menemani tur kami, berkata bahwa dia ingin memberi kejutan.  Saya dan teman-teman bersorak ketika ternyata kejutan itu adalah  ke tempat dimana kuda Troy berada di alun-alun kota Canakalle.

Setelah mengunjungi patung raksasa kuda Troy, kami bergegas menuju Hisarlik. Tempat ini adalah tempat yang sarat dengan sejarah dan mitos. Disinilah terlihat reruntuhan kota Troy dan tempat dimana terjadinya perang Troya yang  melegenda dan kemudian di filmkan itu.

Reruntuhan Kota Troy

Reruntuhan kota troy

Perang Troya adalah perang yang melibatkan cinta Helen dan Paris, ketamakan Raja Agamemnon, serta patriotisme Hector dan Achilles.

Dipicu oleh larinya Helen, isteri Menelaus, ke Troy. Helen terlibat cinta dengan Paris, anak Raja Priam. Adapun Menelaus adalah adik Agamemnon, raja Yunani. Kemarahan Menelaus karena isterinya direbut Paris dimanfaatkan oleh Agamemnon sebagai alasan untuk menyerbu Troy. Sebenarnya Agamemnon memang sudah lama ingin menguasai Troy. Achilles, sepupu Agamemnon, ikut serta di antara pasukan Yunani dan ikut terlibat perang untuk membela negaranya. Ia sebenarnya  berseberangan dengan Agamemnon yang tamak dan jahat.

Singkat cerita, Hector anak Raja Priam lah yang akhirnya maju melawan Achilles dan dia mati terbunuh. Walaupun kemudian Achilles pun juga terbalaskan mati  di tangan Paris. Paris membunuh Achiles tepat di urat kakinya yang merupakan titik lemah Achilles. Itu kenapa di dunia kedokteran, ada nama urat  yang dinamakan Achilles.

Hmm. Kisah yang mengharu biru ya. Sedih … :(

Paris diapit Helena-Helana :P

Oh ya. Terus,  dimana peran kuda Troy ?

Hmm, kuda Troy adalah patung kuda raksasa yang digunakan oleh pasukan Yunani. Mereka berstrategi menembus kota Troy dengan bersembunyi di dalam kuda tersebut. Tadinya rakyat Troya dengan lugu mengira bahwa kuda itu adalah patung hadiah untuk raja sehingga mereka mengangkut kuda Troy beramai ramai masuk ke dalam tengah kota. Tak dinyana, pasukan Yunani yang ternyata bersembunyi didalamnya keluar di tengah malam buta untuk menyerbu kota Troy.

Masih bingung ? nonton sendiri ya. Yang cerita juga lagi mumet kecapean foto-foto Paris dan Helena :D

Tertarik untuk ke kota ini ? Hisarlik terletak di Čanakallė, kota yang berjarak sekitar 5-6 jam perjalanan dari istanbul. Untuk mencapai kota ini kita harus menyeberangi ferry selama kuranglebih 30 menit melewati Teluk Izmir.

Menyeberangi Teluk Ismir menuju Canakalle

Kunjungan pun berakhir di sore yang beranjak  dengan sangat cepat menjadi gelap  di awal musim dingin. Hari itu menjadi sangat melelahkan karena selain perjalanan yang cukup jauh dari Istanbul, hari itu saya mabuk perjalanan (malu-maluin ya sampe jackpot ..he3 ). Mungkin karena kondisi yang kurang fit dan makan siang saya tidak pas di perut.

Categories: Updates | 2 Comments

Jelajah Istanbul – Turki ( Part 1)

Di musim yg romantis

Masa kunjungan ke Turki di kala itu adalah akhir musim gugur.  Musim yang menjadi  favorit saya karena penuh nuansa keemasan dari dedaunan menguning yang rontok dan berguguran satu persatu dari pohonnya. Keindahan musim yang membuat kita terbuai dalam romantisme suasana yang tak tergambarkan kata-kata

Negeri Turki sebagaimana dalam cerita dan dongong-dongeng masa kecil saya dalam buku majalah popular anak-anak pada masa itu,  adalah negeri yang terlukiskan indah dengan beragam adat budaya yang khas ketimuran berbalur eropa.

Republik Turki disebut Türkiye, sebuah negara besar di kawasan Eurasia. Wilayahnya terbentang dari Semenanjung Anatolia di Asia Barat Daya dan daerah Balkan di Eropa Tenggara.

Laut Marmara yang merupakan bagian dari Turki digunakan untuk menandai batas wilayah Eropa dan Asia, sehingga Turki dikenal sebagai negara transcontinental. Disebabkan oleh lokasinya yang strategis di persilangan dua benua, budaya Turki merupakan campuran budaya Timur dan barat menjadi hal unik yang sering diperkenalkan sebagai jembatan antara dua buah peradaban.

Ada banyak sekali tempat wisata dan tempat bersejarah yang bisa dan wajib dikunjungi selama berada di Turki. Wah, kalau tidak mengingat waktu, bisa jadi tempat-tempat tersebut baru akan habis setelah berbulan-bulan.

Di kunjungan saya, ada beberapa tempat yang saya telusuri dan mungkin bisa menjadi bahan referensi untuk juga dikunjungi teman-teman di suatu saat nanti. Semuanya menjanjikan keunikan dan keindahan yang langka kita temui di tempat lain karena perpaduan budaya dua benua.

Istanbul

Istanbul adalah salah satu kota terbesar dan terpenting di Turki dan dikenal dengan nama Konstantinopol  (bukan Konstantinopel – Rev.)* atau Byzantium.

Ibukota Turki sebenarnya adalah Ankara namun kota Istanbul mengambil peranan penting sebagai kota perdagangan dan peradaban budaya. Di Istanbul ada beberapa tempat yang bisa kita kunjungi sebagimana yang saya paparkan berikut.

Blue Mosque

Landmark kota Istanbul sepertinya adalah Blue Mosque. Sebagaimana menara Eiffel di Paris,  masjid ini adalah salah satu ikon terkenal milik Istanbul. Ada enam menara Blue Mosque yang seolah mendominasi kawasan Sultanahmet, distrik tertua di Istanbul. Desain bangunan masjid ini juga terlihat sangat menarik dengan kubah-kubahnya yang artistik dan khas.

Jika diperhatikan seksama, bangunan ini ternyata menyerupai bentuk Hagia Sophia, bangunan lain yang terletak tak jauh dari Blue Mosque.

Blue Mosque

Di cuaca yang dingin itu, saya dan pengunjung Blue Mosque yang lain dalam antrian panjang. Sesekali saya mengambil foto sekitar masjid. Bangunan khas Eropa yang kebanyakan dari bebatuan terlihat mendominasi keseluruhan bangunan tua tersebut.  Saat kita memasuki dalam masjid yang dibangun pada 1609 ini, kita wajib melepas alas sepatu yang kita kenakan. Masjid ini akan ditutup untuk umum pada jam-jam sholat.

Antrian Pengunjung Blue Mosque

Dinding bagian dalam Blue Mosque berhiaskan 20 ribu keping keramik berwarna biru. Itulah ternyata kenapa masjid ini disebut Blue Mosque. Memiliki 260 jendela dan bagian dalamnya dihiasi berbagai ornamen abstrak yang bernilai seni tinggi.

Depan Blue Mosque / Masjid Sultanahmed

Hagia Sophia

Obyek wisata yang juga tergolong wajib dan menarik dikunjungi di Istanbul adalah Hagia Sophia atau Aya Sofia. Bangunan bersejarah yang berumur sekitar 1500 tahun ini selama berdiri dalam riwayatnya adalah sebuah Gereja yang kemudian dimasa Kesultanan Sultan Mehmet II dirubah menjadi Masjid.

Pada masa Sultan Murad III, pembagian ruangnya disempurnakan dengan mengubah bagian-bagian masjid yang masih bercirikan gereja. Mengganti tanda salib yang terpampang pada puncak kubah dengan hiasan bulan sabit dan menutupi hiasan-hiasan  yang semula ada di dalam Gereja Hagia Sophia dengan tulisan kaligrafi Arab. Altar dan perabotan-perabotan lain juga dihilangkan. Patung-patung dan lukisan-lukisannya sudah dicopot atau ditutupi cat. Lantas selama hampir 500 tahun bangunan bekas Gereja Hagia Sophia berfungsi sebagai masjid.

Adanya kontak budaya antara orang-orang Turki yang beragama Islam dengan budaya Nasrani Eropa, akhirnya arsitektur masjid yang semula berupa atap rata dan bentuk kubah, kemudian mulai berubah menjadi atap meruncing. Setelah mengenal bentuk atap meruncing inilah merupakan titik awal dari pengembangan bangunan masjid yang bersifat megah, berkesan perkasa dan vertikal. Hal ini pula yang menyebabkan timbulnya gaya baru dalam penampilan masjid, yaitu pengembangan lengkungan-lengkungan pada pintu-pintu masuk, untuk memperoleh kesan ruang yang lebih luas dan tinggi.

Namun, sejak masa pemerintahan Mustafa Kemal Attaturk, beliau di tahun 1937 mengubah bangunan ini menjadi Museum. Penguasa Turki dari kelompok Muslim nasionalis ini melarang penggunaan bangunan Masjid Aya Sofia untuk shalat dan mengganti fungsi masjid menjadi museum. Mulailah proyek pembongkaran Masjid Aya Sofia. Beberapa desain dan corak bangunan yang bercirikan Islam diubah lagi menjadi gereja. Praktik keagamaan, baik Nasrani maupun Muslim dilarang dilakukan di dalam kompleks Hagia Sophia.

Sejak difungsikan sebagai museum, para pengunjung bisa menyaksikan budaya Kristen dan Islam bercampur menghiasi dinding dan pilar pada bangunan Aya Sofia. Bagian di langit-langit ruangan di lantai dua yang bercat kaligrafi dikelupas hingga mozaik berupa lukisan-lukisan sakral Kristen peninggalan masa Gereja Hagia Sophia kembali terlihat.

Secara nyata,  detail mengenai bangunan ini kusimak secara perlahan. Sebagaimana gambaran yang pernah kubaca dalam buku pemberian sahabatku yang berjudul ‘ 99 Cahaya di Langit eropa” – Menapak jejak Islam di Eropa,  ditulis oleh Hanum Rais.

Depan Hagia Sophia

Perpaduan Gereja dan Masjid

Perhatikan Bagian Atas

Grand Bazaar

Bangunan khas yang pernah dipakai untuk shooting film box office Sky Fall – James Bond ini sudah berusia lebih dari 500 tahun. Walau begitu Grand Bazaar Istanbul masih menjadi tempat belanja favorit turis dan warga lokal. Ada sekitar 5 ribu kios yang terdapat  di pusat perbelanjaan tertua di dunia ini. Begitu banyak pilihan barang yang dijual, mulai butik-butik mewah, pashmina, kerajinan kulit, kaos, barang antik, karpet dan aneka macam pernak-pernik aksesori serta souvenir khas Turki.

Gerbang Grand Bazaar

Atap bangunan yang tinggi nampak mempesona dengan ornamen-ornamen seperti dalam Blue Mosque dan Hagia Sophia. Sepertinya ukiran atau ornamen itu telah menjadi ciri khas kebanyakan untuk bangunan besar di Turki.

Karena waktu itu kami sedang tidak tertarik berbelanja, maka kami hanya menyusuri sepanjang lorong Grand Bazaar dan sight seeing. Lalu setelah lelah berjalan kaki kami berjalan ke kafe depan Grand Bazar yang menjual apple tea dan kopi Turki. Di ujung sore dengan suhu yang dingin , betapa nikmatnya terasa minuman hangat khas Turki tersebut. Rasa Apple Tea panas yang terasa manis bercampur rasa khas kecut apel, sungguh membuat kesan yang dalam dalam tiap regukannya.

Apple Tea Khas Turki

Topkapi Palace

Bekas Istana yang sekarang juga sudah menjadi museum. Ada cerita menarik tentang istana dari dinasti Otttoman atau Usmaniyah ini. Istana Topkapi dibangun dengan arsitektur yang cukup sederhana, bahkan istana ini dibangun dengan ciri khas yang meniadakan unsur kemegahan. Semua dinding, pintu dan jendela seakan-akan dirancang tidak beraturan. Istana ini melambangkan kehidupan sultan yang sederhana sehingga dapat membawa dinasti Usmaniyah ke masa keemasan.

Buat yang suka panorama pantai, dibelakang istana ini, kita bisa menyaksikan dari atas keindahan selat Bosphorus yang tersohor sebagai selat yang membelah dua benua, yaitu benua Asia dan Eropa.

Cruise di Selat Bosphorus

Perjalanan cruise dengan kapal pesiar ini sebenarnya tidak saya rencanakan dilakukan pada kesempatan di hari itu. Suhu yang sangat dingin ditambah angin yang berhembus kencang dan menusuk membuat saya yang merasa kurang fit hanya ingin tiduran. Namun karena seluruh teman saya berbondong bondong dengan antusias untuk mengikuti tur ini, jadilah saya sebagai orang terakhir yang memutuskan untuk ikut naik ke atas kapal.

Sepertinya saya tidak menyesal untuk memutuskan ikut karena sepanjang selat ini, dapat disaksikan tempat-tempat yang menarik seperti istana-istana dari dinasti Usmaniyah. Diantaranya adalah Topkapi palace yang nampak dari kejauhan. Satu lagi istana yang juga terkenal  yaitu Istana Dolmabache. Istana Dolmabache dibangun menyerupai istana-istana di Eropa. Dengan segala kemewahan , kebesaran dan kemegahannya. Istana ini merupakan pusat administrasi utama dari Kekaisaran Ottoman.

Dolmabache Palace

Tentu saja di bagian selatan Bosphorus, selain kedua istana ini, kapal pesiar kami juga sempat melintasi beberapa tempat lain yang menarik . Di antaranya adalah Maiden’s Tower yang terletak di tengah-tengah selat bagaikan sebuah pulau kecil.

Menurut kisah, dulunya Maiden’s Tower adalah istana yang dibangun sultan di tengah laut untuk putrinya yang menurut peramal akan mati disengat ular berbisa. Agar terhindar dari ramalan itu, ayahnya, membuat menara di tengah laut untuk mengasingkan sang puteri. Tapi apa mau dikata, sang puteri mati disengat ular berbisa yang masuk menyelundup dalam keranjang buah anggur yang dibawa oleh pelayannya.

Maiden’s Tower

Yang pasti, letak pulau kecil ini sedemikian strategis sehingga fungsinya terus berubah. Pada tahun 341 sebelum Masehi pulau kecil itu pernah dijadikan musoleum. Pada tahun 410 Masehi, pulau itu menjadi pangkalan bea cukai lalu lintas perdagangan di Selat Bosporus. Pernah menjadi benteng kecil dan tempat mengintai. Baru pada sekitar 1920-an, menara di pulau kecil itu dijadikan mercusuar, dan kini dijadikan restoran.

Bosphorus Bridge

Ortakoy Mosque juga terlihat indah disisi selat. Bangunan masjid ini memang tidak semegah Blue Mosque. Namun lokasinya yang berada di pinggir Selat Bosphorus membuat Ortakoy Mosque menjadi sudut Istanbul yang paling menarik untuk diabadikan dengan ditambah  pemandangan jembatan Bosphorus sebagai latar belakangnya.

Ortokoy Mosque

Dan di antara bangunan-bangunan yang berada sepanjang selat Bosphurus itu, bangunan favorit saya adalah Rumeli Hisar yang artinya Castle Eropa ; benteng / kastil Eropa. Terlihat kokoh dan anggun kan. Seperti kastil – kastil di buku dongeng masa kecil.

Rumeli Hisar

Setelah melewati semua tempat-tempat tersebut, kapal pesiar kami pun balik arah menuju kembali ke dermaga. Berbagai kisah-kisah yang diceritakan pemandu wisata terus mengalir menemani pelayaran kami selain acara sesi foto yang tiada henti untuk mengabadikan keberadaan kami.

bersama Rina dan Fitri, teman seperjalanan

Masih begitu banyak tempat indah dan bersejarah di Turki dan kisah-kisah unik yang menyertainya namun belum sempat dikisahkan pada kesempatan ini. Dikali lain, jika diberi  waktu dan kesehatan, simak  kisah perjalanan di Ankara, Pamukalle,Canakalle, Cappadocia, kota kuno Ephesus, Konya, Izmir, dll.  Juga tak lupa  liputan kuliner dan tradisi unik asli negeri ini.

Salam :)

*Rev. : Tour leader lokal kami yang bernama pak Murad, sempat memberi sedikit penjelasan dan ralat mengenai istilah konstantinopel. Bahwa dulu kita para murid di Indonesia selalu mendengar istilah Konstantinopel tsb, bahwa ternyata kata yang benar adalah Konstantinopol (pol dari kata polis : kota).

Categories: Updates | 2 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com. The Adventure Journal Theme.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,963 other followers

%d bloggers like this: